Menteri PPN/Ketua Bappenas Indonesia Beri Kuliah Umum di Universitas Tadulako

Menteri PPN/Ketua Bappenas Indonesia Beri Kuliah Umum di Universitas Tadulako

Untuk meningkatkan kapasitas mahasiswa terkait isu dan informasi global khususnya di kawasan Asia, Universitas Tadulako bersama One Asia Foundation menggelar Kuliah Umum bertajuk “ General Lecture Series ; Education of Asian Community Development ” yang menghadirkan pemateri yaitu Prof. Dr. Bambang P.S Brodjonegoro selaku Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia pada Kamis (29/03) Pagi bertempat di Media Center Untad.

Dalam sambutannya, Rektor Untad yang di wakili Prof. Andi Lagaligo Amar MSC., Agr., Ph.D selaku Wakil Rektor Bidang Perencanaan & Pengawasan menyambut baik dan mengapresiasi kedatangan Menteri PPN/Kepala Bappenas Indonesia yang telah menyempatkan waktu di tengah kesibukannya untuk mengisi kuliah umum di Universitas Tadulako.

“ Kedatangan tamu istimewa kali ini harus di manfaatkan dengan sebaik baiknya oleh Mahasiswa Universitas Tadulako. Ikuti dan serap semua ilmu yang dipaparkan oleh Prof. Bambang dalam kesempatan Kuliah Umum pada pagi hari ini. Teristimewa untuk Pak Menteri, Selamat datang di Kota Palu dan semoga berkesempatan untuk mengeksplor keindahan Kota Palu, Kota Multi Dimensi.” Ujar Prof. Andi Lagaligo.

Pada kesempatan yang sama,  Prof. Dr. Bambang P.S Brodjonegoro selaku pemateri Kuliah Tamu dalam materi nya “ The Impact of ASEAN Economic Community” banyak memaparkan mengenai Teori Dasar Integrasi Ekonomi, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 & 2025, Dampak dan Tantangan MEA serta Penguatan Perekonomian & Daya Saing dalam menghadapi MEA.

“ Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) memiliki sisi positif dan negatif untuk Indonesia, Dari sisi perdagangan, dengan berkurangnya atau hilangnya hambatan perdagangan (tarif dan non-tarif) MEA akan berdampak pada peningkatan ekspor dan GDP Indonesia. Selain itu, Dari sisi perekonomian Indonesia, MEA dapat menstabilkan perekonomian nasional yang antara lain tercermin dari luasnya jangkauan ekspor dan impor barang Indonesia tanpa hambatan antara negara anggota ASEAN. Akan tetapi, dari sisi kompetisi, MEA akan mengakibatkan membanjirnya produk-produk impor yang dapat mengancam industri dalam negeri, terutama industri lokal yang tidak mampu bersaing dari segi kualitas sehingga berdampak pada meningkatnya defisit neraca perdagangan Indonesia. Kemudian Dari sisi ketenagakerjaan, masih lemahnya sistem pendidikan dan produktivitas tenaga kerja Indonesia, MEA mengakibatkan kalah bersaingnya tenaga kerja Indonesia dibandingkan tenaga kerja negara ASEAN lainnya karena ketatnya persaingan di bidang tenaga kerja; serta memungkinkan membanjirnya tenaga kerja asing di Indonesia.” Jelas Prof. Bambang.

“ Saat ini ada 8 profesi yang sudah disepakati dalam Mutual Recognizition Agreement (MRA) dalam Masyarakat Ekonomi Asean, di antaranya:

  1. Insinyur
  2. Arsitek
  3. tenaga pariwisata
  4. Akuntan
  5. dokter gigi
  6. tenaga survei
  7. praktisi medis
  8. perawat.

Sehingga penting bagi generasi muda Indonesia untuk mengambil peran dalam MEA dengan terus menambah kapasitas dan daya saing nya di tingkat ASEAN. Beberapa strategi yang dilakukan dalam rangka peningkatan daya saing terus di lakukan pada beberapa sektor seperti ;

  • Dalam sektor Industri ; Pengembangan industri nasional yang berfokus pada pengembangan industri prioritas dalam rangka memenuhi pasar ASEAN; pengembangan industri kecil menengah.
  • Dalam sektor Peningkatan SDM ; Pengembangan sumber daya manusia, penelitian, dan pelatihan; serta penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI)
  • Dalam sektor Pertanian ; Pengembangan pertanian, dengan fokus pada peningkatan investasi langsung di sektor pertanian, dan peningkatan akses pasar
  • Dalam sektor Kelautan dan Perikanan ; Penguatan kelembagaan, penguatan daya saing kelautan dan perikanan, penguatan dan peningkatan pasar ekspor
  • Dalam sektor Energi ; Pengembangan sub sektor ketenagalistrikan dan pengurangan penggunaan energi fosil (Bahan Bakar Minyak); sub sektor energi baru, terbarukan dan konservasi energi, peningkatan pasokan energi dan listrik
  • Sektor Lain ; Pengembangan infrastruktur; pengembangan sistem logistik nasional; pengembangan perbankan; investasi; usaha mikro, kecil, dan menengah; tenaga kerja; kesehatan; perdagangan; kepariwisataan; dan kewirausahaan.” Tambah Prof. Bambang.

Acara yang dimoderatori oleh Dr. Lukman Nadjamuddin M.Hum selaku Dekan FKIP turut di hadiri oleh Para Wakil Rektor, Para Dekan serta Mahasiswa FKIP Untad kemudian di lanjutkan dengan sesi tanya jawab dan foto bersama. AA

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: No Right Klik and Copy!!