Desember 05, 2016

Mahasiswa Untad, Jualan Stiker Demi Penuhi Biaya Kuliah

Mahasiswa Untad, Jualan Stiker Demi Penuhi Biaya Kuliah

Orang sering mengatakan kalaupendidikan itu mahal. Ya, ungkapan ini memang benar adanya. Setidaknya, begitulah yang dirasakan mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Tadulako (Untad) Jurusan Kimia, Yusak Duruka.

Yusak Duruka harus bekerja keras, banting tulang demi membiayai pendidikannya sejak. Mahasiswa berdarah Mori Bada tersebut menceritakan, awalnya dia masih dibiayai oleh ayahnya kuliah. Namun, karena ayahnya telah meninggal dunia sejak tahun lalu dia harus berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri.

“Awalnya saya masuk di Untad dibiayai sama papa. Tapi semenjak papa meninggal, ibu sudah tidak sanggup mengonkos kuliah saya ditamba lagi masih ada adik-adik saya di kampung yang masih kecil yang harus di ongkos ibu saya,” jelas Yusak pada Sulteng Post, Rabu (8/6/2016).

Baginya, berjualan stiker sebenarnya tidak akan menjadi pilihan bagi dirinya jikalau sang bunda masih mampu mengongkos dirinya untuk kuliah dan membiayai hidup sehari-hari di Kota Kaledo ini.

Dengan kekurangan ekonomi itulah mahasiswa semester empat Untad ini harus berusha lebih keras lagi menghadapi kerasnya hidup di tanah rantau menempuh pendidikan.

Modalnya relatif kecil, sekitar Rp200.000. Modal itu kembali ia putar lagi menjadi modal untuk mencari untung selanjutnya.

“Modal awal saya jualan stiker Rp200.000. Syukur masih bisa saya putar-putar dapat untung sedikit,” kata Yusak.

Untuk berjualan stiker sehari-harinya Yusak dengan semangat untuk merai gelar sarjana dirinya diwaktu luang saat di kampus harus menawarkan barang dagangannya dari mahasiswa ke mahasiswa lain tanpa harus gengsi.

“Sasaran untuk jualan stiker ini, hanya sama teman sekampus karena desain stiker jualan saya rata-rata berlatar belakang Universitas Tadulako,” ungkapnya.

Ketika disinggung tentang uang kiriman orang tua, ia sejenak terdiam seolah memikirkan sasuatu. Setelah itu ia berusaha menjawab dengan nada sangat pelan bahkan hampir tidak terdengar, ketika diminta mengulangi apa yang diucapkan tadi barulah dapat terdengar dengan baik.

Ia mengatakan saat ini ia sudah tidak mendapatkan uang kiriman dari kampung, lalu kemudian ia bercerita bahwa sang ibu tercinta sudah tak sanggup memberinya kiriman setiap bulannya karena oleh keadaan yang tak memungkinkan.

Posisinya sebagai mahasiswa dan harus berjualan stiker bukanlah sesuatu yang mudah.

Yusak harus pandai mengatur waktu dengan baik.

Seusai kuliah lalu kembali ke kos kaka sepupunya tempat ia menumpang itu biasanya sore hari dan kembali merancang desain baru stiker untuk di cetak malamnya pada jasa percetakan untuk dijual besok pagi saat pergi ke kampus.

“Selain berusaha mau kejar target uang semester saya tak lupa sisipkan pula memenuhi keperluan kuliah seperti fotocopy, buku, biaya print hingga tabungan untuk makan,” jaela yusak dengan sedikit senyum.

Yusak berharap dengan universitas dan semua pemamngku kepentingan untuk tetap memperhatikan orang-orang yang tidak mampu namun memiliki tekad untuk kuliah.

“Saya berharap dengan universitas dan semua instansi pemerintah maupun swasta untuk memperhatikan orang-orang kecil, apalagi yang punya tekad kuat untuk sekolah,” tutupnya.TEN

Sumber: http://sulawesihebat.blogspot.co.id/2016/06/mahasiswa-untad-jualan-stiker-demi.html

Related posts

1 Comment

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *