Puncak peringatan Dies Natalis ke-9 Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Tadulako ditandai dengan launching Gerakan Berani Magaya atau Berantas Infeksi TB, Mahasiswa Jaga dan Sayang Keluarga (MAGAYA). Gerakan tersebut melibatkan perguruan tinggi negeri dan swasta se-Sulawesi Tengah sebagai bagian dari upaya memperkuat peran perguruan tinggi dalam penanggulangan Tuberkulosis (TB) di daerah.
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Auditorium Universitas Tadulako, Sabtu (22/8/2026), tersebut dihadiri Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., Wakil Menteri Dalam Negeri RI Akhmad Wiyagus, Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Benjamin Paulus Octavianus, Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid, Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Reni Lamadjido, Rektor Universitas Tadulako Prof. Dr. Ir. Amar, S.T., M.T., serta pimpinan perguruan tinggi dan fasilitas kesehatan se-Sulawesi Tengah.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pemeriksaan kesehatan, pengumuman lomba, dan donor darah, kemudian dilanjutkan pembukaan, Lagu Indonesia Raya dan Mars Untad, doa, Tarian Megalit, serta pemutaran video dan teatrikal Berani Magaya oleh Duta FKM. Setelah rangkaian tersebut, acara dilanjutkan dengan sambutan Rektor Untad, Gubernur Sulawesi Tengah, Wamendikti, Wamendagri, dan Wamenkes sebelum memasuki prosesi launching Gerakan Berani Magaya.
Dalam sambutannya, Rektor Universitas Tadulako Prof. Dr. Ir. Amar, S.T., M.T., menyampaikan bahwa Untad melalui Fakultas Kesehatan Masyarakat terus berkomitmen mendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat melalui berbagai kegiatan pengabdian, termasuk KKN yang berdampak.
Menurutnya, launching Gerakan Berani Magaya menjadi salah satu bentuk dukungan Untad terhadap program pemerintah sekaligus upaya mewujudkan masyarakat yang sehat.
“Universitas Tadulako terus menjaga komitmennya dalam mendukung berbagai program pemerintah baik pusat maupun daerah sebagai wujud Kampus Berdampak. Launching Gerakan Berani Magaya merupakan bagian dari komitmen kami mewujudkan Indonesia sehat dan bebas dari penyakit TB,” terang Rektor.
















Sementara itu, Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid menyampaikan bahwa peningkatan kualitas kesehatan menjadi salah satu program unggulan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah melalui Program Berani Sehat. Program tersebut memberikan jaminan layanan kesehatan gratis bagi seluruh masyarakat yang memiliki KTP Sulawesi Tengah di setiap fasilitas kesehatan di daerah ini.
“Kesehatan itu menjadi salah satu hal yang mendapat perhatian serius dari Pemerintah Provinsi melalui Program Berani Sehat. Jadi kesehatan itu masuk dalam 9 program prioritas kami, karena layanan kesehatan ini adalah hak dasar masyarakat. Harapannya melalui Program Berani Sehat tidak ada lagi masyarakat yang tidak dilayani saat sakit, tak terkecuali penyakit TB,” kata Gubernur.
Selanjutnya, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dalam menyelesaikan berbagai persoalan sosial yang kompleks, termasuk penyakit Tuberkulosis di Sulawesi Tengah.
Menurutnya, persoalan daerah tidak dapat diselesaikan hanya oleh pemerintah, masyarakat, maupun perguruan tinggi secara sendiri-sendiri. Karena itu, diperlukan gerakan bersama yang melibatkan seluruh unsur dengan kekuatan dan perannya masing-masing.
Ia menilai perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi “menara gading” yang berfokus pada pencapaian akademik dan kehebatan institusinya sendiri. Sebagai bagian dari entitas sosial, kampus memiliki tanggung jawab sosial untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Sudah bukan waktunya lagi kampus mengidentifikasi kehebatannya sendiri. Tetapi kehebatan kampus harus ditunjukkan seberapa besar manfaat kampus terhadap kehidupan masyarakat di sekitarnya,” ujarnya.
Menurutnya, kampus merupakan ekosistem yang dihuni oleh masyarakat akademik dan intelektual dengan sumber daya pengetahuan yang kuat. Potensi tersebut harus diarahkan untuk menjadi solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Kampus tidak boleh narsis. Kampus harus dimaknai merupakan bagian dari entitas sosial, dari bagian dari masyarakat. Karena bagian masyarakat maka tugas kampus tidak hanya sekadar pengembangan akademis, tetapi juga harus menjadi problem solver bagi kebutuhan masyarakat,” tegasnya.
Ia juga mengapresiasi inisiatif konsorsium perguruan tinggi di Sulawesi Tengah yang menjadi landasan kolaborasi dalam Gerakan Berani Magaya. Menurutnya, model kolaborasi tersebut tidak hanya penting untuk penanggulangan TB, tetapi juga dapat dikembangkan untuk menjawab berbagai persoalan sosial lainnya, seperti stunting, kemiskinan, dan pengangguran.
Wamendikti berharap gerakan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi dapat dirancang secara berkelanjutan sebagai bagian dari tanggung jawab moral perguruan tinggi terhadap masyarakat.
Berikutnya, Wakil Menteri Dalam Negeri RI Akhmad Wiyagus menegaskan pentingnya kolaborasi lintas kementerian, pemerintah daerah, perguruan tinggi, fasilitas kesehatan, dan masyarakat dalam penanggulangan Tuberkulosis.
Wamendagri menyampaikan bahwa kunjungan tersebut merupakan bagian dari peninjauan pelaksanaan screening Tuberkulosis yang terintegrasi dengan program Cek Kesehatan Gratis. Pelaksanaan kegiatan di lingkungan perguruan tinggi di Sulawesi Tengah disebut menjadi langkah penting dalam memperluas jangkauan deteksi kesehatan masyarakat.
Ia menegaskan bahwa kesehatan merupakan urusan pemerintahan wajib yang berkaitan langsung dengan pelayanan dasar. Karena itu, pemerintah daerah perlu memastikan sektor kesehatan menjadi bagian dari perencanaan dan penganggaran pembangunan daerah, mulai dari RPJMD, RKPD, Renstra perangkat daerah hingga APBD.
“Kehadiran kami di sini sebagai representasi negara, sebagai bentuk tanggung jawab negara dalam menjalankan tugasnya di bidang pelayanan kesehatan,” ujarnya.
Wamendagri juga mengapresiasi Program Berani Sehat yang dijalankan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah. Menurutnya, kebijakan tersebut menunjukkan perhatian terhadap pemenuhan hak masyarakat atas layanan kesehatan sekaligus mendukung pembangunan sumber daya manusia yang unggul.
Secara khusus mengenai TB, ia menekankan perlunya penguatan penemuan kasus di masyarakat. Berdasarkan data yang disampaikannya, Kota Palu mencatat jumlah temuan kasus tertinggi sebanyak 1.075 kasus, disusul Kabupaten Parigi Moutong 546 kasus dan Kabupaten Banggai 510 kasus. Sementara itu, Kabupaten Morowali tercatat 431 kasus, Donggala 366 kasus, Sigi 35 kasus, dan Banggai Laut 50 kasus.
“Penemuan kasus tuberkulosis di Provinsi Sulawesi Tengah ini menunjukkan masih terdapat kesenjangan yang cukup besar dalam menemukan kasus tuberkulosis di masyarakat. Tentunya kondisi ini harus menjadi perhatian serius,” jelasnya.
Memasuki sesi berikutnya, Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Benjamin Paulus Octavianus memberikan apresiasi atas komitmen Universitas Tadulako dalam mendukung pemberantasan TB di Indonesia, khususnya di Sulawesi Tengah.
Ia menekankan bahwa yang harus diberantas adalah infeksi TB, bukan penderitanya. Karena itu, masyarakat perlu memberikan dukungan kepada pasien TB agar dapat menjalani pengobatan secara disiplin hingga sembuh.
“Jadi yang kita berantas itu infeksi TB-nya, bukan menjauhi penderitanya. Saya berharap kita semua bisa memberi dukungan buat mereka agar semangat sembuh, karena ini bisa sembuh tetapi membutuhkan kedisiplinan pasien dan dukungan keluarga serta lingkungan sekitarnya,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Wamenkes juga menyampaikan bahwa Indonesia masih membutuhkan tenaga kesehatan, termasuk ahli gizi. Kebutuhan tersebut semakin penting dalam mendukung program peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui perbaikan gizi, salah satunya melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Karena itu kami berharap perguruan tinggi baik negeri maupun swasta bisa melahirkan ahli gizi yang berkualitas,” harapnya.
Sebelum prosesi launching, Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tadulako Prof. Dr. Rosmala Nur, S.K.M., M.Si., menjelaskan latar belakang dan mekanisme pelaksanaan Gerakan Berani Magaya.
Menurutnya, gerakan tersebut lahir dari kegelisahan terhadap masih tingginya angka penemuan kasus TB di Sulawesi Tengah, khususnya di Kota Palu. Kondisi tersebut mendorong FKM Untad menghadirkan model pengabdian yang melibatkan mahasiswa secara langsung dalam upaya memutus rantai penularan TB.
“Kampus tidak boleh menjadi menara gading, kampus harus berdampak,” tegasnya.
Melalui Gerakan Berani Magaya, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Sulawesi Tengah dilibatkan dalam pendampingan pasien TB dan keluarganya. Pendampingan mencakup edukasi dan peningkatan literasi TB, pemberian motivasi kepada keluarga, deteksi dini kendala pengobatan, pemantauan kepatuhan minum obat, hingga pengumpulan data melalui sistem surveilans digital.
Program perdana tersebut melibatkan 1.073 mahasiswa, 155 dosen, delapan program studi, serta seluruh puskesmas di Kota Palu dan sejumlah puskesmas di Kabupaten Poso, Tolitoli, dan Banggai. Pelibatan lintas perguruan tinggi tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan pendampingan sekaligus memperkuat kolaborasi dalam penanggulangan TB di Sulawesi Tengah.
Yang menjadi pembeda, aktivitas pendampingan mahasiswa tidak berdiri sendiri sebagai kegiatan pengabdian, tetapi diintegrasikan dengan pembelajaran akademik. Pendampingan selama enam bulan tersebut terhubung dengan dua mata kuliah, yakni Surveilans sebanyak 3 SKS dan Teknologi Kesehatan Digital sebanyak 2 SKS.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa akan memantau kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan, melakukan pendampingan keluarga, serta mendukung pemeriksaan pada akhir masa pendampingan. Seluruh proses didukung melalui aplikasi Berani Magaya, notifikasi SMS dan WhatsApp, pengisian logbook harian, serta supervisi dosen dan tenaga kesehatan secara berkala.
Model tersebut diharapkan tidak hanya memberikan pengalaman pembelajaran langsung bagi mahasiswa, tetapi juga menghasilkan data surveilans yang dapat mendukung upaya penanggulangan TB. Melalui pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan, program ini menargetkan terputusnya rantai penularan dan mendukung pencapaian eliminasi TB pada 2030.
Setelah seluruh rangkaian sambutan, launching Gerakan Berani Magaya Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta se-Sulawesi Tengah kemudian dilakukan sebagai penanda dimulainya gerakan kolaboratif tersebut.
Prosesi launching ditandai dengan pemukulan gimba yang dilakukan oleh sejumlah pejabat dan pimpinan yang hadir, di antaranya Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., Wakil Menteri Dalam Negeri RI Akhmad Wiyagus, Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Benjamin Paulus Octavianus, Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Reni Lamadjido, dan Rektor Universitas Tadulako Prof. Dr. Ir. Amar, S.T., M.T.
Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan pemasangan atribut gimbah/gendang, pemotongan tumpeng, pemutaran video prestasi, serta makan siang dan hiburan. Sesuai rangkaian kegiatan, setelah acara utama para wakil menteri melanjutkan kunjungan kerja ke sejumlah lokasi, yakni Wamendikti ke Rumah Sakit Untad, Wamenkes ke LABKESDA, dan Wamendagri ke Kantor Gubernur Sulawesi Tengah. AA
