Bertempat di Aula Fakultas Kedokteran Untad, sebanyak 49 peserta mengikuti Prosesi Pengambilan Sumpah Insinyur Program Studi Program Profesi Insinyur Fakultas Teknik Universitas Tadulako dan PII Wilayah Sulawesi Tengah yang diselenggarakan pada Rabu pagi (11/02/2026).
Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Teknik Ir. Andi Arham Adam, ST.,M.Sc.,Ph.D menegaskan bahwa profesi insinyur memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan pembangunan di Sulawesi Tengah.
“Di Sulawesi Tengah ini, kebutuhan akan rekayasa yang andal dan bertanggung jawab sangat nyata. Pembangunan infrastruktur dasar, perumahan dan pemukiman, layanan air bersih, pembangunan energi, hingga industrialisasi yang berwawasan lingkungan sangat nyata dan kita butuhkan.”
Ia menekankan bahwa gelar insinyur bukan sekadar simbol akademik, melainkan amanah yang harus dijalankan dengan integritas dan orientasi pelayanan kepada masyarakat. Selain itu, Dekan Fakultas Teknik juga menyampaikan pesan moral kepada para insinyur yang akan dilantik agar senantiasa menjunjung tinggi etika profesi dan keselamatan kerja dalam setiap keputusan teknis yang diambil.
“Keputusan teknis saudara akan berdampak pada keselamatan manusia, keselamatan lingkungan dan keberlanjutan dan tentunya ini adalah merupakan kewajiban kita bersama. Tidak ada keberhasilan proyek yang layak bila mengabaikan sisi-sisi K-3, kualitas dan perlindungan penduduk.”
Menutup sambutannya, Ia berharap sumpah yang diikrarkan tidak hanya menjadi formalitas, melainkan komitmen moral sepanjang karir profesional para insinyur.
“Semoga sumpah yang saudara ikratkan menjadi kompas moral dalam setiap keputusan.”










Dalam sambutannya, Rektor Universitas Tadulako Prof. Dr. Ir. Amar ST.,MT.,IPU.,ASEAN Eng menekankan pentingnya peningkatan jumlah dan kualitas insinyur di Indonesia. Ia mengungkapkan bahwa rasio insinyur Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara lain.
“Masih punya rasio insinyur yang sangat kurang di Indonesia dibanding beberapa negara lain. Seperti Vietnam dan Korea Selatan, itu per 1 juta penduduknya sekitar 9.000 insinyur. Sementara kita di Indonesia kurang lebih 2.600 sampai 3.000-an insinyur, masih jauh sekali.”
Ia mengingatkan bahwa di era perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan saat ini, insinyur dituntut untuk terus meningkatkan kompetensi.
“Di era sekarang ini jangan main-main. Kalau hanya pengetahuan, kita sudah kalah dengan artificial intelligence. Sekarang begitu banyak aplikasi yang sangat mempermudah.”
Menutup sambutannya, Rektor mengajak seluruh Insinyur yang dilantik untuk bekerja secara profesional dan menjadikan sumpah sebagai pedoman dalam menjalankan tugas.
“Mari kita bekerja secara profesional sesuai dengan harapan-harapan yang dilakukan. Dalam sumpah insinyur itu sangat jelas bagaimana menjalankan profesi dengan jujur, adil, bertanggung jawab, mematuhi kode etik dan standar profesional.” Tutupnya. AA & Mutia
