Sebanyak 15 dokter baru lulusan Program Studi Profesi Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako (Untad) mengikuti pelantikan dan pengambilan sumpah dokter ke-45, Selasa (27/10/2026), di Aula Kedokteran Untad. Dalam kegiatan tersebut, Rektor Untad, Prof. Dr. Ir. Amar, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng., mengingatkan para lulusan untuk menjadikan kompetensi, integritas, dan kepedulian terhadap pasien sebagai landasan dalam menjalankan profesi.
Dalam sambutannya, Rektor menyampaikan ucapan selamat kepada para dokter baru atas keberhasilan menyelesaikan pendidikan profesi. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada orang tua, pimpinan dan dosen Fakultas Kedokteran, tenaga kependidikan, rumah sakit pendidikan dan jejaring, serta para dokter klinis yang telah mendukung proses pendidikan hingga para lulusan mencapai tahap tersebut.
Rektor menegaskan bahwa pengambilan sumpah dokter bukan sekadar seremoni kelulusan, melainkan awal dari tanggung jawab profesional yang harus dijalankan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.
“Hari ini bukanlah akhir dari perjalanan pendidikan, melainkan awal tanggung jawab profesional yang sesungguhnya. Gelar dokter adalah kehormatan, tetapi kepercayaan masyarakat adalah amanah yang harus dijaga sepanjang hayat,” ujarnya.
Menurutnya, sumpah dokter merupakan komitmen moral, etika, dan profesional kepada pasien, masyarakat, bangsa, serta Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, setiap dokter harus mampu menjaga kepercayaan masyarakat melalui kejujuran, integritas, dan kepatuhan terhadap etika profesi.
Di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), Rektor juga menekankan pentingnya kemampuan interpersonal atau soft skill dalam praktik kedokteran. Menurutnya, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi perlu diimbangi dengan kemampuan berkomunikasi, empati, serta kepekaan dalam memahami kondisi pasien.
“Kalau kita membuka kecerdasan buatan, apa yang kita pelajari sekarang itu sudah bisa kita tanyakan. Tetapi soft skill adalah kejujuran, bagaimana kita berinteraksi, khususnya kepada pasien, itu tidak dimiliki oleh Artificial Intelligence,” katanya.












Ia menjelaskan bahwa dokter yang baik tidak hanya dituntut mampu menegakkan diagnosis secara tepat, tetapi juga harus bersedia mendengarkan keluhan pasien, menghormati martabat manusia, dan memberikan dukungan di tengah penderitaan. Keselamatan pasien harus menjadi prioritas dalam setiap keputusan klinis, mulai dari anamnesis hingga evaluasi pengobatan.
Rektor turut mengingatkan para dokter agar memahami batas kompetensinya dan tidak ragu berkonsultasi atau merujuk pasien apabila menghadapi kasus di luar keahliannya. Pelayanan kesehatan juga harus berpusat pada pasien tanpa membedakan kemampuan ekonomi, sementara kerahasiaan informasi medis wajib dijaga, termasuk dalam penggunaan media sosial dan ruang digital.
“Ilmu pengetahuan membuat kita mampu mengobati, tetapi empati membuat pasien merasa dihargai. Integritas menjaga kepercayaan, dan kemanusiaan memberi makna pada setiap tindakan pelayanan,” ungkapnya.
Rektor selanjutnya mengajak para dokter baru untuk mengambil bagian dalam menjawab tantangan pemerataan tenaga kesehatan, khususnya di Sulawesi Tengah. Ia menyoroti masih adanya kesenjangan distribusi dokter di Indonesia yang berdampak pada akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.
Dalam sambutannya, Rektor menyampaikan bahwa rasio dokter di Indonesia masih sekitar 0,76 per 1.000 penduduk, di bawah standar minimal satu dokter per 1.000 penduduk. Selain itu, berdasarkan data per Mei 2025, sebanyak 424 dari 10.212 puskesmas di Indonesia atau sekitar 4,15 persen belum memiliki dokter.
Sementara itu, berdasarkan Profil Kesehatan 2024 yang dirilis pada 2026, rata-rata rasio tenaga dokter di Sulawesi Tengah berada pada kisaran 21 per 100.000 penduduk. Data tersebut menunjukkan adanya perbedaan ketersediaan tenaga dokter antardaerah, dengan rasio tertinggi di Kabupaten Morowali Utara dan terendah di Kabupaten Parigi Moutong.
“Dokter lulusan Universitas Tadulako harus menjadi bagian dari solusi atas kesenjangan pelayanan kesehatan, bukan sekadar menjadi tenaga profesional yang bekerja di fasilitas kesehatan yang sudah maju,” tegasnya.
Ia berharap para lulusan memiliki kepedulian untuk berkontribusi di wilayah terpencil, kepulauan, dan pegunungan. Para dokter juga diharapkan tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi turut memperkuat upaya promotif dan preventif, termasuk mendukung eliminasi tuberkulosis dan penanganan stunting.
Dalam kesempatan tersebut, Rektor turut menyampaikan perkembangan penguatan pendidikan kedokteran di Untad melalui pembukaan kembali Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS). Untad telah mendapat amanah untuk menyelenggarakan tiga program spesialis, yakni obstetri dan ginekologi, penyakit dalam, serta bedah.
Program obstetri dan ginekologi masih tertunda karena keterbatasan tenaga pengajar, tetapi diharapkan dapat segera berjalan. Selain itu, Untad tengah menantikan surat keputusan pembukaan Program Studi Kedokteran Gigi beserta program profesinya, yang diharapkan dapat dibuka pada 2027.
Pengembangan fasilitas rumah sakit Untad juga terus dilakukan, termasuk penyelesaian kebutuhan kelistrikan, sebagai bagian dari persiapan akreditasi dan pemanfaatannya sebagai salah satu rumah sakit pendidikan. Pengembangan tersebut diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas pendidikan kedokteran sekaligus memperkuat pelayanan kesehatan.
Rektor juga menyampaikan kebanggaannya atas perkembangan capaian Fakultas Kedokteran Untad. Berdasarkan informasi dari Dekan Fakultas Kedokteran, hingga Oktober 2026 jumlah alumni telah mencapai 1.144 orang. Tingkat kelulusan uji kompetensi pada periode Agustus 2026 dilaporkan mencapai 100 persen. Sejumlah alumni juga telah melanjutkan pendidikan menjadi dokter spesialis dan bekerja di lingkungan Untad.
Capaian tersebut menjadi bagian dari upaya Untad dalam menghasilkan tenaga medis yang kompeten dan mendukung pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat.
Kepada para dokter baru, Rektor berpesan agar terus mengembangkan kompetensi melalui pembelajaran sepanjang hayat, menjunjung tinggi sumpah dokter dan etika profesi, serta bersedia mengabdi kepada masyarakat yang memiliki keterbatasan akses pelayanan kesehatan. Ia juga mengajak para lulusan untuk tetap menjalin hubungan dengan almamater dan melanjutkan pendidikan guna meningkatkan kompetensi profesional.
“Jangan lupa almamater Anda. Jika mau melanjutkan pendidikan, kami terus terbuka untuk memberikan bantuan dan pendidikan yang luar biasa,” tuturnya.
Menutup sambutannya, Rektor kembali mengingatkan bahwa profesi dokter memiliki tanggung jawab besar karena berhubungan langsung dengan manusia dan kehidupan.
“Kalau orang teknik, urusannya dengan benda mati, bangunan dan lain sebagainya. Tetapi dokter berhubungan dengan manusia, orang-orang hidup, sehingga kita harus bisa memberikan empati kepada mereka,” katanya.
Kegiatan pelantikan dan pengambilan sumpah dokter ke-45 tersebut turut dihadiri Dekan Fakultas Kedokteran beserta para wakil dekan, ketua program studi, dosen klinis, pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Sulawesi Tengah dan IDI Kota Palu, perwakilan Dinas Kesehatan Kota Palu, para rohaniawan, orang tua dokter baru, serta media partner. AA
