Ikuti Lokakarya Nasional PASEC, Untad Bahas Penguatan Kompetensi Lulusan Bidang Pertanian Presisi dan Lingkungan Berkelanjutan

Universitas Tadulako (Untad) turut ambil bagian dalam kegiatan PASEC National Stakeholder Workshop bertajuk “From Needs and Competences to Curriculum Modernization: Indonesian Context” yang digelar secara hibrida pada Kamis (29/10/2026). Kegiatan utama dipusatkan di Collaboration Room, Perpustakaan Kampus IPB Darmaga, Bogor, sementara sivitas akademika Untad mengikuti jalannya kegiatan secara daring dari Laboratorium Terpadu Untad, Palu.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerja Sama Untad, Dr. Sc. Agr. Aiyen Tjoa, M.Sc. Dalam pengantarnya, ia menjelaskan bahwa latar belakang digelarnya lokakarya ini dilandasi oleh dampak perubahan iklim yang kian nyata dirasakan saat ini.

“Kita bisa lihat pada hari ini bagaimana perubahan iklim mengakibatkan harga pangan yang luar biasa dan keadaan lingkungan yang sulit terkontrol,” ujar Dr. Aiyen.

Menurutnya, kondisi tersebut menuntut dunia pendidikan tinggi untuk lebih fleksibel dalam menyiapkan lulusan yang adaptif, termasuk dalam menguasai dan memanfaatkan kemajuan teknologi. Pertanian presisi sendiri pada dasarnya mengandalkan pemanfaatan teknologi informasi serta kecerdasan buatan (artificial intelligence). Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini sebelumnya telah dilaksanakan oleh tiga perguruan tinggi, yakni Untad, Universitas Syiah Kuala (USK), dan IPB University, dengan melibatkan unsur pemerintah serta berbagai pemangku kepentingan terkait.

Acara secara resmi dibuka melalui sambutan Ketua Tim PASEC IPB University, Prof. Dr. Lina Karlinasari, S.Hut., M.Sc.F.Trop. Dalam sambutannya, ia menjelaskan bahwa PASEC merupakan konsorsium kerja sama di bawah skema Erasmus Plus Capacity Building for Higher Education yang berfokus pada modernisasi kurikulum pendidikan tinggi di bidang pertanian presisi dan lingkungan berkelanjutan. Program ini bertujuan memperkuat ketangguhan masyarakat dalam menghadapi ancaman perubahan iklim.

Konsorsium ini melibatkan enam negara mitra, yaitu Indonesia, Thailand, Maladewa, Kroasia, Serbia, dan Belgia. Di Indonesia, proyek strategis ini dijalankan oleh IPB University, USK, dan Untad, di mana di lingkungan Untad pelaksanaannya dikoordinasikan langsung oleh Fakultas Pertanian.

Prof. Lina juga memaparkan hasil survei kebutuhan dan kompetensi yang menjadi landasan utama lokakarya. Hasil survei mengindikasikan adanya kesenjangan kompetensi yang signifikan, khususnya pada penguasaan keterampilan teknologi digital dan prinsip keberlanjutan. Teknologi seperti Sistem Informasi Geografis (SIG/GIS) dan drone sebenarnya sudah tersedia, namun penerapannya belum merata di berbagai sektor dan kelompok pemangku kepentingan.

Survei juga menemukan adanya korelasi positif antara tingkat adopsi teknologi dan integrasi prinsip keberlanjutan. Di sisi lain, institusi pendidikan dinilai telah memiliki kekuatan yang baik dalam pembelajaran berbasis lapangan dan interaksi dengan pemangku kepentingan sektor pertanian, kendati fleksibilitas kurikulum masih memerlukan penguatan. Secara umum, kesiapan organisasi untuk mendukung transformasi digital dinilai cukup kuat, tetapi masih terkendala oleh keterbatasan kompetensi sumber daya manusia. Oleh karena itu, lokakarya ini diselenggarakan untuk mendiseminasikan serta memvalidasi hasil survei sekaligus menghimpun masukan terkait kompetensi prioritas dalam penyusunan kurikulum.

Sementara itu, Koordinator Proyek PASEC, Assoc. Prof. Vesna Poslončec-Petrić, PhD, dari Fakultas Geodesi University of Zagreb, Kroasia, yang hadir secara daring, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi tantangan global ini.

“Universities have an important role in addressing those challenges, but they can’t do this alone,” ungkapnya, yang berarti bahwa universitas memiliki peran penting dalam menjawab berbagai tantangan tersebut, namun tidak dapat melakukannya sendirian.

Prof. Vesna juga memaparkan bahwa proyek PASEC menargetkan penyusunan 30 mata kuliah universitas baru yang modern, 18 kursus pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning), serta sedikitnya 15 perjanjian kerja sama antara perguruan tinggi dan dunia industri. Proyek yang melibatkan 10 mitra dari enam negara ini sejauh ini telah merampungkan struktur manajemen dan komunikasi proyek, survei pemangku kepentingan, analisis kurikulum, pelatihan perdana bagi pengajar, serta tengah memfinalisasi Katalog Kompetensi PASEC sebagai panduan modernisasi kurikulum. Lokakarya nasional serupa juga diadakan di Maladewa dan Thailand guna memastikan kerangka kompetensi yang disusun selaras dengan kebutuhan spesifik di masing-masing negara.

Sesi berikutnya diisi dengan pemaparan materi oleh sejumlah narasumber ahli. Nebojša Martinović dari Gilab membawakan materi mengenai proses transisi dari analisis kebutuhan dan kompetensi menuju modernisasi kurikulum. Dari perwakilan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tengah serta Dinas Pertanian Kota Palu.dari Universitas Tadulako turut memaparkan materi terkait implementasi dan tantangan pengembangan pertanian presisi yang disesuaikan dengan konteks wilayah Sulawesi Tengah. Dari kalangan praktisi, hadir Alif Khalifah, S.Si., M.Si., selaku Direktur PT Inofice yang berpengalaman di bidang sertifikasi dan standar pertanian organik. Sementara dari unsur akademia, Dr. Ir. Dahlan, S.Hut., M.Si., IPU (dosen Magister Pengelolaan Sumber Daya Alam Sekolah Pascasarjana USK) menyampaikan materi bertajuk “Perspektif Akademia: Pertanian Cerdas dan Keberlanjutan Lingkungan”. Kegiatan ini turut diikuti secara luring dan daring oleh perwakilan berbagai instansi, termasuk Dinas Pertanian Kota Palu.

Seluruh masukan yang diperoleh dari para peserta selanjutnya akan dikaji secara mendalam oleh tim PASEC untuk menyempurnakan serta memfinalisasi Katalog Kompetensi. Dokumen tersebut nantinya akan menjadi acuan utama dalam pengembangan kurikulum, penyusunan bahan ajar, serta studi kasus praktis di perguruan tinggi. Melalui partisipasi aktif dalam kegiatan ini, Universitas Tadulako berharap dapat terus berkontribusi nyata dalam mencetak lulusan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi serta siap menjawab tantangan perubahan iklim di sektor pertanian dan lingkungan. Kiki/ST