Sosialisasi Kebijakan Energi Nasional, Untad Dorong Kampus Jadi Living Laboratory Energi

  • Post author:

Peran perguruan tinggi dalam mendukung ketahanan dan transisi energi nasional menjadi perhatian Universitas Tadulako bersama Dewan Energi Nasional (DEN). Hal tersebut menjadi bagian dari pembahasan dalam Sosialisasi Kebijakan Energi Nasional bertema “Penguatan Pemahaman Publik tentang Kebijakan Energi Nasional dan Ketahanan Energi Nasional” yang berlangsung di Aula Fakultas Kedokteran Untad, Kamis (17/9/2026) pagi.

Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Rektor Universitas Tadulako, Prof. Dr. Ir. Amar, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng. Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Biro Umum DEN, Bambang Sujito, S.H., M.H., Koordinator Fasilitasi Pengawasan Pelaksanaan Kebijakan Sekretariat Jenderal DEN, Prima Agung, serta Kepala Bidang Energi Baru Terbarukan (EBT) Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sulawesi Tengah, Ir. Subhan Basir, S.T., MProjMgmt., yang mewakili Kepala Dinas.

Turut hadir Ketua Senat, Ketua Dewan Pertimbangan, Ketua Dewan Guru Besar, para wakil rektor, dekan, ketua jurusan, kepala lembaga, Direktur Pascasarjana, serta dosen dan mahasiswa Untad.

Dalam sambutannya, Rektor Untad menyampaikan apresiasi kepada DEN atas komitmennya dalam memberikan pemahaman mengenai kebijakan energi nasional kepada sivitas akademika. Menurutnya, persoalan energi tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan ketahanan nasional, pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, lingkungan, serta masa depan generasi muda.

“Energi bukan hanya persoalan teknis saja, akan tetapi menyangkut masalah ketahanan nasional, pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, lingkungan, dan masa depan generasi muda,” kata Rektor.

Rektor menilai perguruan tinggi memiliki posisi strategis sebagai ruang dialog berbasis ilmu pengetahuan yang mempertemukan pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan generasi muda. Kebijakan energi nasional, menurutnya, tidak lagi sekadar berbicara mengenai penyediaan energi, tetapi juga menyangkut penguatan ketahanan energi dan transisi menuju sistem energi rendah karbon dengan target net zero emission pada 2060 atau lebih cepat.

Ia juga menyoroti besarnya potensi energi di Sulawesi Tengah, mulai dari energi surya, hidro, biomassa, panas bumi, hingga energi laut. Potensi tersebut, kata Rektor, perlu dikembangkan tidak hanya sebagai sumber daya, tetapi juga menjadi basis pengetahuan, teknologi, inovasi, dan nilai ekonomi.

“Sulawesi Tengah ke depan jangan hanya menjadi pengguna energi, tetapi juga menjadi pusat pengembangan pengetahuan dan teknologi energi,” ujarnya.

Untuk mendukung arah tersebut, Untad mendorong sejumlah agenda, mulai dari penguatan riset energi terbarukan, efisiensi energi, penyimpanan energi, bioenergi, hidrogen, hingga teknologi rendah karbon. Pengembangan sumber daya manusia juga menjadi perhatian melalui penyiapan lulusan yang memiliki kompetensi menghadapi perkembangan ekonomi energi baru.

Selain itu, Untad mendorong pengembangan inovasi teknologi yang dapat diterapkan di masyarakat, khususnya di wilayah kepulauan, perdesaan, dan kawasan terpencil. Kampus juga diarahkan menjadi pusat literasi energi bagi masyarakat serta memperkuat kolaborasi dengan DEN, Dinas ESDM, pemerintah daerah, BUMN, industri, dan komunitas.

Salah satu gagasan yang ditekankan Rektor adalah pengembangan Untad sebagai living laboratory energi yang dimulai dari lingkungan kampus.

Sejumlah rencana yang disampaikan meliputi pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan green building dengan solar roof pada sejumlah gedung utama, termasuk laboratorium dan rumah sakit. Pengembangan tersebut direncanakan mulai tahun depan setelah sebelumnya mengalami penundaan karena proses masuknya jaringan PLN yang baru.

Untad juga menyiapkan kerja sama pengoperasian sekitar 500 kendaraan listrik, terutama sepeda motor listrik, untuk masyarakat kampus. Di sisi lain, Untad tengah mengomunikasikan pembangunan sistem pengelolaan sampah menjadi energi dengan skala awal sekitar 20 ton per hari di Fakultas Teknik dan rencana pengembangan hingga 200 ton per hari untuk seluruh kawasan kampus.

Kepada mahasiswa, Rektor berpesan agar generasi muda tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga mengambil peran sebagai pencipta teknologi dan pengembang solusi atas tantangan perubahan iklim.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi awal dari agenda bersama antara Untad dan DEN dalam bidang riset dan kebijakan energi, pengembangan sumber daya manusia, pemetaan potensi energi daerah, inovasi teknologi, serta peningkatan literasi energi masyarakat.

“Mari menjadikan Universitas Tadulako bukan hanya sebagai tempat belajar tentang masa depan energi, tetapi sebagai bagian dari solusi masa depan energi Indonesia,” ujar Rektor sebelum membuka kegiatan secara resmi.

Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi panel yang dipandu oleh Prof. Dr. Ir. Muhammad Nur Sangadji, DEA., dosen Fakultas Pertanian Untad.

Kepala Biro Umum DEN, Bambang Sujito, S.H., M.H., menjadi narasumber pertama dengan materi mengenai Kebijakan Energi Nasional (KEN) dan penguatan ketahanan energi nasional. Ia memaparkan KEN yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025, termasuk target peningkatan bauran energi baru terbarukan dari 19–23 persen pada 2030 menjadi 70–72 persen pada 2060.

Dibandingkan dengan kebijakan sebelumnya, KEN terbaru juga memuat arah dekarbonisasi serta pengaturan mengenai pendanaan, partisipasi masyarakat, kapasitas sumber daya manusia, dan kerja sama internasional.

Sektor industri yang saat ini menjadi salah satu konsumen energi terbesar didorong untuk beralih menuju penggunaan energi rendah karbon melalui elektrifikasi, pengalihan bahan bakar dari batubara ke biomassa, gas bumi, dan amonia, serta penerapan teknologi penangkapan karbon.

Bambang menyampaikan bahwa KEN menjadi salah satu landasan dalam memperkuat ketahanan energi sekaligus daya saing industri menuju Indonesia Emas 2045.

Paparan berikutnya disampaikan Guru Besar Fakultas Teknik Untad, Prof. Dr. Ir. Daud Patabang, M.T., yang membahas peran strategis perguruan tinggi dalam mendukung ketahanan energi nasional.

Menurutnya, ketahanan energi mencakup empat aspek, yakni ketersediaan, akses, keterjangkauan harga, serta keberterimaan lingkungan. Perguruan tinggi memiliki kekuatan pada bidang pendidikan, riset, inovasi, hilirisasi, dan kebijakan sehingga perlu bergerak dari knowledge hub menjadi innovation hub and energy solution hub.

Dalam pemaparannya, Prof. Daud turut menyampaikan berbagai potensi EBT di Sulawesi Tengah, seperti energi surya, air, angin pesisir, panas bumi di Bora-Pulu, Kabupaten Sigi, serta biomassa dan biogas.

Sejumlah riset Untad juga telah diarahkan pada pengembangan energi, antara lain co-firing batubara dengan biomassa, pengembangan rumah tropis hemat energi berbasis atap fotovoltaik, pemetaan potensi PLTS atap gedung perangkat daerah, serta pengembangan sel surya.

Hasil riset tersebut kemudian diterapkan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat, di antaranya pemanfaatan PLTS untuk bagan nelayan dan pengering ikan tenaga surya di Desa Ambesia Selatan, Kabupaten Parigi Moutong, pemanfaatan energi angin untuk tambak garam Talise, serta pelatihan pembuatan briket arang tempurung kelapa dan biogas dari limbah ternak.

Sementara itu, Kepala Bidang EBT Dinas ESDM Sulawesi Tengah, Ir. Subhan Basir, S.T., MProjMgmt., memaparkan arah kebijakan dan strategi pengembangan energi daerah.

Ia menyampaikan bahwa pada 2025 bauran energi daerah masih didominasi batubara sebesar 76,72 persen, sedangkan EBT berada pada angka 19,05 persen. Angka tersebut masih berada di bawah target Rencana Umum Energi Daerah sebesar 30,51 persen.

Menurutnya, dominasi batubara antara lain dipengaruhi oleh konsumsi PLTU untuk kebutuhan industri smelter di Morowali dan Morowali Utara. Sementara itu, pengembangan EBT masih menghadapi tantangan berupa biaya investasi yang belum kompetitif.

Sulawesi Tengah memiliki potensi EBT yang cukup besar, antara lain energi air sekitar 3.095 MW, biomassa 326,9 MW, dan panas bumi 391 MW, selain potensi energi surya dan angin. Namun, pemanfaatannya masih menghadapi sejumlah tantangan, termasuk persoalan lahan yang sebagian berada di kawasan hutan dan konservasi, keterbatasan pendanaan transisi energi, serta kebutuhan penyediaan listrik bagi pulau-pulau kecil dan wilayah terpencil.

Rasio elektrifikasi rumah tangga di Sulawesi Tengah telah mencapai 99,99 persen. Pemerintah daerah menargetkan akses dan keandalan listrik mencapai 100 persen menjelang 2030. Peta jalan 2026–2030 diarahkan melalui percepatan jaringan listrik desa, kemudian pengembangan mikrohidro, energi surya, dan mini grid bersama pihak swasta.

Paparan terakhir disampaikan Sales Area Manager Retail Sulteng PT Pertamina Patra Niaga, Mochammad Chasanudin, yang membahas pola suplai dan kesiapan energi di Sulawesi Tengah.

Ia memaparkan jaringan penyaluran energi di Sulawesi Tengah yang mencakup 102 SPBU, 90 Pertashop, dan 23 SPBU BBM Satu Harga, serta 47 agen LPG bersubsidi dan 16 agen LPG nonsubsidi.

Sejak 22 Juli 2026, sebanyak 108 lembaga penyalur di Sulawesi Tengah secara bertahap telah melayani Biosolar B50 sesuai kesiapan rantai pasok. Pasokan tersebut berasal dari tujuh terminal dengan pengujian mutu produk yang dilakukan mulai dari kilang hingga SPBU.

Selain itu, Pertamina turut memperkenalkan konsep Green Energy Station, yakni SPBU yang mengintegrasikan panel surya, stasiun pengisian kendaraan listrik, pembayaran digital melalui MyPertamina, serta penyediaan BBM berkualitas tinggi.

Setelah seluruh narasumber menyampaikan materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Peserta yang aktif dalam diskusi dan memberikan pertanyaan juga mendapatkan hadiah. AA

Momen selengkapnya dapat disaksikan melalui link livestream disini