Dosen Untad Ikuti Program PDCP Internasional, Perkuat Kesiapan Studi Doktoral

  • Post author:

Sejumlah dosen Universitas Tadulako (Untad), di antaranya Iman Setiawan, S.Si., M.Si. dan Nuur Aanisah, S.Si., M.Farm., Apt. dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), serta Titie Yustisia, S.H., M.H. dari Fakultas Hukum, turut ambil bagian dalam Pre-Doctoral Course Program (PDCP) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) bekerja sama dengan University of Galway dan TU Dresden. Program ini berlangsung selama delapan minggu, mulai 5 Januari hingga 28 Februari 2026, sebagai bagian dari upaya peningkatan kapasitas akademik dosen menuju studi doktoral di luar negeri.

Beasiswa Pre-Doctoral Course Program (PDCP) 2025 merupakan program pelatihan pra-doktoral non-gelar yang ditujukan bagi dosen Indonesia.

Program PDCP dirancang untuk memberikan kesiapan akademik maupun non-akademik kepada para peserta. Berbagai kegiatan yang diikuti meliputi pelatihan bahasa Inggris akademik, penulisan ilmiah, penguatan metodologi penelitian, hingga bimbingan langsung bersama calon supervisor. Selain itu, peserta juga memperoleh pengalaman internasional melalui interaksi lintas budaya dan pengenalan sistem pendidikan global.

Para peserta menilai program tersebut memberikan manfaat besar dalam mempersiapkan studi doktoral. Selain memperkuat kemampuan akademik, program ini juga membantu meningkatkan kesiapan non-akademik, seperti kemampuan beradaptasi di lingkungan internasional serta membangun kepercayaan diri dalam komunikasi ilmiah.

Salah satu pengalaman penting yang dirasakan peserta adalah kesempatan berdiskusi langsung dengan calon supervisor. Melalui proses tersebut, peserta memperoleh arahan yang lebih jelas terkait fokus dan pengembangan riset yang akan dijalankan. Dukungan dari pihak universitas selama program berlangsung juga dinilai sangat membantu dalam memfasilitasi kebutuhan peserta sehingga proses persiapan studi dapat berjalan optimal.

Iman Setiawan, S.Si., M.Si. menuturkan bahwa program ini memberinya gambaran nyata mengenai proses studi doktoral di luar negeri.

“Melalui program ini, saya memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai proses studi doktoral di Jerman, mulai dari tahap persiapan, penyusunan proposal, pencarian supervisor, hingga proses pendaftaran ke universitas. Saya juga mendapatkan banyak wawasan baru mengenai ekosistem riset di TU Dresden, yang merupakan salah satu pusat industri semikonduktor di Eropa. Ke depan, saya berharap dapat melanjutkan studi doktor serta mengembangkan riset terkait optimasi data pada sensor berbiaya rendah, sekaligus membangun kolaborasi penelitian dengan TU Dresden,” ujarnya.

Sementara itu, Nuur Aanisah, S.Si., M.Farm., Apt. menyoroti pengalaman akademik dan interaksi internasional yang menjadi nilai tambah dari program tersebut.

“Program PDCP memberikan pengalaman yang sangat berharga bagi saya, khususnya dalam mempersiapkan diri untuk melanjutkan studi doktoral di luar negeri. Kesempatan berdiskusi langsung dengan calon supervisor, mengikuti pelatihan academic writing, serta presentasi ilmiah menjadi bekal penting untuk pengembangan akademik ke depan. Selain itu, saya juga mendapatkan pengalaman baru terkait budaya akademik di Irlandia, mulai dari pola pikir hingga proses riset yang diterapkan, sehingga membuat saya lebih siap dan percaya diri untuk melanjutkan studi S3,” ujar Nuur Aanisah.

Pengalaman serupa turut disampaikan Titie Yustisia, S.H., M.H. Menurutnya, program tersebut memberikan banyak pengalaman penting dalam mempersiapkan studi lanjut, baik dari sisi akademik maupun non-akademik.

“Selama mengikuti program ini, saya memperoleh banyak pengalaman yang sangat bermanfaat, terutama dalam mempersiapkan diri untuk melanjutkan studi doktoral. Program ini tidak hanya memberikan pembekalan akademik, tetapi juga membantu kesiapan non-akademik yang diperlukan dalam menghadapi studi lanjut. Salah satu hal yang paling penting adalah kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan calon supervisor. Melalui proses ini, saya mendapatkan arahan yang lebih jelas mengenai fokus dan pengembangan penelitian saya ke depan,” ungkap Titie Yustisia.

Ia juga menambahkan bahwa dukungan dari pihak universitas selama program berlangsung sangat membantu dalam memfasilitasi kebutuhan peserta sehingga proses persiapan studi dapat berjalan lebih optimal. Ke depan, ia berharap semakin banyak dosen Universitas Tadulako dapat mengikuti program serupa karena manfaatnya yang besar dalam mendukung persiapan studi doktoral secara lebih terarah.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerja Sama Untad, Dr.sc.agr. Aiyen, M.Sc., turut mengapresiasi partisipasi dosen Untad dalam program internasional tersebut. Ia berharap pengalaman dan pembekalan yang diperoleh selama mengikuti PDCP dapat menjadi bekal penting bagi dosen yang akan menempuh studi lanjut di luar negeri, sekaligus memperkuat kapasitas akademik dan jejaring internasional Universitas Tadulako ke depannya. AA