June 19, 2021

Rektor Untad dan Danrem 132 Tadulako Bahas Peran Perguruan Tinggi dalam pencegahan paham Radikalisme.

Rektor Untad dan Danrem 132  Tadulako Bahas Peran Perguruan Tinggi dalam pencegahan  paham Radikalisme.

Paham radikalisme dan terorisme yang masih terus mengancam stabilitas negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI) membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak, bukan hanya TNI/Polri, namun juga Pemerintah Daerah dan Perguruan Tinggi. Sulawesi Tengah, khususnya wilayah kabupaten Poso, saat ini masih terus diteror oleh kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT), pimpinan Ali Kalora . Olehnya itu, sebagai perguruan tinggi terbesar di Sulawesi Tengah, Universitas Tadulako (Untad) memiliki peran strategis dalam pencegahan paham radikalisme dan terorisme di Sulawesi Tengah. Hal itu diutarakan Komando Daerah Resor Militer (Danrem) 132 Tadaluko Brigjen TNI Farid Makruf dalam diskusi bersama Rektor Untad, Prof Dr Ir Mahfudz MP pada Senin Pagi, 31/05, bertempat di ruang rektor Untad.

Dalam kunjungan tersebut, Danrem I32 Tadulako mengajak Civitas Akademika Untad untuk bersama-sama memerangi radikalisme. Pihaknya menjelaskan bahwa menurut fakta di lapangan, dokrinisasi paham radikal sudah merambah anak usia dini dan hal tersebut sangatlah mengkhawatirkan.

“Kehadiran kami di sini untuk mengajak civitas akademika Untad untuk berdiskusi terkait masalah terkait radikalisme dan kemudian bersama-sama memerangi hal tersebut” Ungkap Brigjen TNI Farid Makruf.

Menurutnya, paham radikalisme dapat dimiliki oleh generasi muda bahkan di usia yang masih belia. Ia mencontohkan bagaimana anak usia SD yang ditemuinya sudah mulai memiliki paham radikal bahkan ada yang siap untuk menjadi pelaku bom bunuh diri. Brigjen TNI Farid Makhuf juga mengungkapkan bahwa sekolah-sekolah yang mudah dimasuki oleh paham radikal biasanya sekolah yang terpencil dan sulit dijangkau dan memiliki keterbatasan akses dengan dunia luar, sehingga lebih mudah dipengaruhi.

 

Rektor Untad, Prof Dr Ir Mahfudz MP, dalam kesempatan tersebut mengungkapkan bahwa sebagai perguruan tinggi negeri di Sulawesi Tengah, Untad telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah masuknya paham radikalisme di lingkungan akademik.

“ Selama beberapa tahun belakangan ini, Untad sudah mengambil peran dalam masalah radikalisme ini. Kami di Untad, sejak tahun 2017 sudah melakukan pelatihan Deradikalisasi dan penguatan wawasan kebangsaan melalui Pusat Pengembangan Deradikalisasi dan Pengembangan Sosio Akademik (Pusbang Depsa).Pembentukan Pusbang DePSA merupakan bentuk komitmen Untad sebagai perguruan tinggi yang didirikan dan diselenggarakan oleh pemerintah untuk mewujudkan kehidupan kampus yang bebas dari perkembangan pengaruh ideologi radikal. Untuk mewujudkan kehidupan kampus yang bebas dari pengaruh radikal, dilakukan penguatan nilai sosio-akademik yang sejalan dengan tujuan pendidikan nasional”

Lembaga yang diketuai oleh Dr Rahmat Bakri SH MH ini secara teknis melaksanakan pelatihan dan pengaderan terhadap calon-calon pemimpin lembaga kemahasiswaan di semua level. Penekanan utama dalam pelatihan itu berkenaan langsung dengan deradikalisasi dan penguatan nilai sosio-akademik sebagai bentuk ikhtiar Untad untuk menyiapkan kader mahasiswa yang mencintai Pancasila dan UUD 1945 serta memahami dan menjunjung tinggi nilai-nilai tersebut, jelas rektor. Selain itu, para mahasiswa baru di Untad juga harus membuat pernyataan tidak boleh terlibat dengan paham-paham radikalisme. Rektor juga menambahkan bahwa dalam kegiatan kemahasiswaan seperti kegiatan keagamaan, pihak kampus akan menyaring siapa saja yang dapat memberikan materi kajian atau ceramah sehingga orang-orang yang terindikasi memiliki paham radikal tidak bisa menyebarkan ideologinya di Untad.

Melalui kesempatan tersebut, rektor berharap dukungan dari aparat TNI ataupun Polri untuk menyampaikan informasi bila ada mahasiswa Untad yang terlibat dalam gerakan radikalisasi.
“ Semoga Untad dan semua perguruan tinggi di Indonesia ini bisa terbebas dari paham-paham radikal. Olehnya itu, sinergi antara perguruan tinggi dan aparat sangatlah penting dan program-program deradikalisasi harus terus digalakkan” kata Prof Mahfudz di akhir diskusi.

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: No Right Klik and Copy!!