August 04, 2021

Prodi Pendidikan Sejarah Untad Gelar Seminar Nasional Terkait Pengusulan Tombolotutu Sebagai Calon Pahlawan Nasional Asal Sulteng

Prodi Pendidikan Sejarah Untad Gelar Seminar Nasional Terkait Pengusulan Tombolotutu Sebagai Calon Pahlawan Nasional Asal Sulteng

Digelar secara virtual, Seminar Nasional Pengusulan Calon Pahlawan Nasional dengan tema “Tombolotutu : Dari Teluk Tomini Menuju Pahlawan Nasional” digelar pada Selasa (18/05/2021) Pagi yang menghadirkan empat narasumber seperti Drs. Joko Irianto, M.Si selaku Direktur K2KRS Kemensos RI, Prof. Dr. Reiza D. Dienaputra, M.Hum selaku Dosen Sejarah Universitas Padjadjaran, Dr. Sarkawi B. Huasain, M.Hum selaku Dosen Sejarah Universitas Airlangga dan Wilman D. Lumagiono, M.A selaku Dosen Sejarah Universitas Tadulako.

Dalam sambutannya, Dr. Ir. Amiruddin Kade, M.Si selaku  Dekan FKIP Untad mengapresiasi Prodi Pendidikan Sejarah FKIP yang mengambil bagian dalam usaha mendorong Tokoh Tombolotutu sebagai Pahlawan Nasional asal Sulawesi Tengah.

“ Selama ini belum ada tokoh dari Sulawesi Tengah yang mendapatkan gelar Pahlawan Nasional, oleh karena itu, Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP sangat berbahagia dapat menjadi wadah dalam momen pengusulan calon pahlawan nasional saat ini. Saya pun mengucapkan terima kasih kepada tim Prodi Pendidikan Sejarah FKIP karena telah mengambil bagian dalam proses pengusulan calon Pahlawan Nasional dari Sulawesi Tengah.” Ujar Dr. Amiruddin.

Pada kesempatan yang sama, Dr. Lukman Nadjamuddin, M.Hum selaku Wakil Rektor Bidang Akademik mengapresiasi semua pihak dalam pengumpulan dokumen untuk mendukung Tombolotutu sebagai Pahlawan Nasional asal Sulteng.

“ Seminar kali ini memiliki bobot yang strategis karena berupaya untuk mengusulkan pahlawan nasional dari Sulteng yang telah beberapa kali dilakukan namun belum diloloskan dari pusat. Semoga momen pengusulan Tokoh Tombolotutu kali ini mendapatkan legitimasi sebagai Pahlawan Nasional asal Sulawesi Tengah mengingat dari berbagai sumber, tokoh Tombolotutu memiliki banyak momen perjuangan. Saya pun mengapresiasi Dinas Sosial Parigi Moutong dan Sulteng  yang telah berupaya untuk mengumpulkan segala dokumen terkait Tombolotutu yang dipersyaratkan untuk bisa terpenuhi.” Jelas Dr. Lukman.

Usai sambutan, Drs. Joko Irianto, M.Si selaku Direktur K2KRS Kemensos RI dalam materinya memaparkan proses pengusulan calon pahlawan nasional.

“ Dari 34 provinsi yang ada di Indonesia, Sulawesi Tengah adalah salah satu provinsi yang belum memiliki pahlawan nasional mengikuti provinsi Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur. Pahlawan Nasional adalah gelar yang diberikan kepada warga negara Indonesia atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia.”

Syarat Calon Pahlawan Nasional :

  1. Syarat Umum :
  1. WNI atau seseorang yang berjuang di wilayah yang sekarang menjadi wilayah NKRI;
  2. Memiliki integritas moral dan keteladanan;
  3. Berjasa terhadap Bangsa dan Negara;
  4. Berkelakuan baik;
  5. Setia dan tidak menghianati bangsa dan Negara; dan Tidak pernah dipidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun;

     (Pasal 25 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009)

  1. Syarat Khusus :
  1. Pernah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata atau  perjuangan politik atau perjuangan dalam bidang lain untuk mencapai, merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa;
  2. Tidak pernah menyerah pada musuh dalam perjuangan; Melakukan pengabdian dan perjuangan yang berlangsung hampir sepanjang hidupnya dan melebihi tugas yang diembannya;
  1. Pernah melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang dapat menunjang pembangunan bangsa dan Negara;
  2. Pernah menghasilkan karya besar yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas atau meningkatkan harkat dan martabat bangsa;
  3. Memiliki konsistensi jiwa dan semangat kebangsaan yang tinggi dan/atau melakukan perjuangan yang mempunyai jangkauan luas dan berdampak nasional;

(Pasal 26 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009)

Dikesempatan yang sama, Prof. Dr. Reiza D. Dienaputra, M.Hum selaku Dosen Sejarah Universitas Padjadjaran menuturkan dalam materinya terkait faktor penyebab perlawanan Tokoh Tombolotutu dari tahun 1898 – 1901.

“ Intervensi dan campur tangan Pemerintah Kolonial Belanda terhadap kemandirian kekuasaan politik lokal, khususnya Kerajaan Moutong menjadi alasan perlawanan Tombolotutu. Eksploitasi dan monopoli oleh Pemerintah Kolonial Belanda terhadap sumber daya alam dan perdagangan di kawasanTeluk Tomini, khususnya emas, melalui kontrak politik tanggal 16 September 1896 (30, 63) dan 25 Februari 1899 (106). Di luar emas, mineral lainnya, antara lain, tembaga, timah hitam, seng, besi, nikel, minyak tanah, batubara.Teluk Tomini juga kaya akan komoditas pertanian, seperti, padi dan jagung, juga komoditas hutan, seperti kayu, getah, damar, rotan, madu, dan lilin. Eksploitasi dan monopoli tidak saja sangat mengganggu kepentingan penguasa lokal, akan tetapi lebih dari itu sangat mengganggu kepentingan masyarakat lokal serta para pendatang dari berbagai etnis, seperti Banjar, Mandar, Bugis, Mindanao, Talaud, Gorontalo, Kaili, dan Bajo, yang sebelumnya sangat disejahterakan oleh keberadaan berbagai potensi sumber daya alam (90).” Jelas Prof. Reiza.

Dr. Sarkawi B. Huasain, M.Hum selaku Dosen Sejarah Universitas Airlangga dalam materinya memaparkan bahwa melihat perjuangan Tombolotutu maka tidak ada keraguan untuk mengangkat beliau sebagai pahlawan Nasional dari Sulawesi tengah.

Dikesempatan lainnya, Wilman D. Lumagiono, M.A selaku Dosen Sejarah Universitas Tadulako menjelaskan profil tokoh Tombolotutu.

“ Seorang Bangsawan Mandar, Tombolotutu lahir di Moutong tahun 1857. Ayahnya adalah seorang pedagang, bernama (Puang) Massu dan ibunya bernama Puang Lara atau  Lara. Cucu tertua dari Raja Magalatung. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia berada dalam lindungan dan didikan pamannya Pondatu, Raja Moutong 1881-1892. Pada masa inilah ia belajar Islam dengan intensif di bawah bimbingan Pua Tarikati. Tombolotutu menjadi pedagang sejak usia 13 tahun.”

“ Wilayah Kerajaan Moutong berdasarkan keterangan Baron van Hoevel (1892) meliputi Kampung Moutong, Tuladenggi, Taopa, Lambunu, Bolano, Tomini, Palasa, Tinombo, dan Sidoan. Sementara Sigenti, Kasimbar, Toribulu dan Ampibabo di bawah kuasa Kerajaan Sendana (Mandar). Ketika pecah perang Tombolotu melawan Belanda, hampir semua etnis di kawasan itu mendukung Tombolotutu. Dua puluh sembilan (29) tadulako (pemimpin perang) menjadi bagian dari pasukan Tombolotutu. Tombolotutu meninggal tanggal 17 Agustus 1901. Tanggal 5 September 1901, Brugman memerintahkan agar jenazah Tombolotutu dimasukkan dalam sebuah peti untuk diberangkatkan ke Donggala. Tanggal 8 September 1901, ia dimakamkan di Kampung Padang, Kecamatan Toribulu sekarang, atas permintaan Magau Sapewali. Pua Pika dan Kuti, tidak dibawa ke Moutong, melainkan tetap berada di Toribulu.” Papar Pak Wilman.

Usai pemaparan materi, acara yang turut dihadiri Mahasiswa serta ahli waris Tokoh Tombolotutu kemudian dilanjutkan dengan Tanya jawab antar peserta dan pemateri. AA

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: No Right Klik and Copy!!