Pelaku Peretasan Website Untad Akhirnya Ditangkap

Pelaku Peretasan Website Untad Akhirnya Ditangkap

Kasus peretasan website Universitas Tadulako (Untad) Palu akhirnya menemukan titik terang. Direktorat Kriminal Khusus (Dirkrimsus) Polda Sulteng berhasil mengungkap kasus pelanggaran UU ITE yang menyebabkan kerugian Untad hingga ratusan juta rupiah ini.

Dalam konferensi pers yang digelar pada Rabu, (13/01), Humas Polda Sulteng AKBP Didik Supranoto menjelaskan bahwa pelaku peretasan dilakukan oleh MYT(26) asal Palu Timur dan RH(24) asal Donggala.

“Berdasarkan laporan dari pihak Universitas Tadulako yang diwakili oleh Bapak Drs. Samsumarlin, M.Si pada 4 November 2020, Polda Sulteng telah menangani kasus tersebut dan telah menangkap dua orang pelaku berinisal MYT dan RH” ungkap Didik.

Menurut Didik, modus pelaku yaitu penipuan kepada beberapa orang tua calon mahasiswa baru melalui akun Whatsapp dan mengatasnamakan admin dari Universitas Tadulako. Mereka menawarkan dapat membantu untuk meloloskan calon mahasiswa ke Untad. Selain itu mereka bisa mengubah data nilai semester dan merubah besaran jumlah UKT Untad.

Dari hasil penangkapan, Polda Sulteng mengamankan barang bukti 1 unit handphone, 1 SIM card, 3 unit mobil, BPKB, 3 sertifikat tanah dan catatan mahasiswa yang nilainya telah diperbaiki termasuk sebuah buku rekening BNI dan uang tunai sebesar Rp240juta.

“Dalam kasus ini Pihak Untad mengalami kerugian yaitu menurunnya biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT), menurunnya akreditas dan nama baik Untad,”ujarnya.

Sementara itu Dirkrimsus Polda Sulteng, Kombes Pol Afrisal menambahkan,bahwa modus operasi pelaku sudah berlangsung mulai dari 2014 dengan mencari korban calon mahasiswa yang ingin masuk Untad.

“Tersangka ini memang merupakan programmer, ahli IT dan pernah kuliah dengan jurusan IT di salah satu kampus di Indonesia makanya bisa jebol dan hacker sistem Untad,”kata Afrisal.

Menurutnya, sejauh ini korban penipuan kejahatan ini sudah mencapai kurang lebih 100 orang, sebab per 6 bulan setiap penerimaan mahasiswa baru, para pelaku menjalankan aksinya kepada calon mahasiswa. Kasus ini sendiri telah diselidiki sejak Oktober 2020. Afrisal memastikan sesuai keterangan tersangka bahwa tidak ada orang didalam Untad yang terlibat dalam kasus ini.

Dengan perbuatannya, kedua tersangka dijerat pasal 30 junto pasal 46 dan atau 32 junto pasal 48 dan atau 35 junto pasal 51 Undang-Undang nomor 19 tahun 2016 yang diubah dengan UU 11 tahun 2018 tentang transaksi elektronik junto pasal 55 dan 56 KUHP dengan serta diancam dengan hukuman 12 tahun penjara.


Menanggapi kasus tersebut, Rektor Universitas Tadulako, Prof Ir Mahfudz MP menyatakan keprihatinannya atas kasus tersebut. Beliau berharap agar kejadian tersebut tidak terjadi lagi.

“ Saya berharap agar Kepala BAKP yang baru saja dilantik pada hari ini terus melakukan pengawasan, koordinasi dan komunikasi yang baik  dengan jajarannya,juga dengan pihak UPT TIK. Kedepannya sistem IT di Untad harus lebih baik lagi “ tegas Prof Mahfudz.

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: No Right Klik and Copy!!