Libatkan Untad, KemenLHK Gelar Dialog Terkait Isu Perubahan Iklim

Libatkan Untad, KemenLHK Gelar Dialog Terkait Isu Perubahan Iklim

Guna mensinergikan kebijakan pemerintah pusat dan daerah dalam pengendalian perubahan iklim di Indonesia, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KemenLHK) melalui Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim (PPI) menyelenggarakan kegiatan dialog dan strategi implemanetnasi perundingan perubahan iklim wilayah Sulawesi tengah pada Jumat (9/4), bertempat di Ballroom hotel Sutan Raja Palu.

Rektor Universitas Tadulako (Untad) diwakili oleh dekan fakultas pertanian Untad, Dr Ir Muhardi M Si hadir sebagai pembicara dalam kegiatan tersebut. Kegiatan yang dibuka langsung oleh Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Aloe Dohong, secara virtual ini juga dihadiri oleh Direktur Mobilisasi Sumberdaya Sektoral dan Regional,KLHK, Dr Wahyu Marjaka, Gubernur Sulawesi Tengah diwakili oleh asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Dr Bunga Elim Somba serta Ketua Komisi III DPRD Provinsi Sulteng,Sonny Tandra ST.

Dalam kegiatan tersebut wakil menteri KemenLHK memaparkan bahwa perubahan iklim menjadi ancaman global terbesar saat ini. Menurut Kajian Ke-5 (Assessment Reports 5 atau AR5) Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) menyebutkan bahwa suhu bumi telah meningkat sekitar 0,8 derajat Celcius selama abad terakhir. Pada akhir 2100, suhu global diperkirakan akan lebih tinggi 1,8 – 4 derajat Celcius dibandingkan rata-rata suhu pada 1980-1999. Permasalahan dan dampak perubahan iklim telah mendorong Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi di Rio de Janeiro, Brazil tahun 1992 yang menghasilkan Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim atau United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). Untuk itu diperlukan sinergi secara global yang tentunya di mulai dari tingkat lokal.

Oleh karena itu, Untad sebagai perguruan tinggi terbesar di Sulawesi Tengah telah berkomitmen untuk menanggulangi masalah perubahan iklim ini. Dr Ir Muhardi memaparkan bahwa kiprah Untad dalam perubahan iklim sudah dimulai sejak beridirinya Untad, dimana Untad sudah memposisikan perhatian terhadap lingkungan dengan menetapkan Pola Ilmiah Pokok (PIP) Lingkungan Pemukiman. Untad juga memetapkan satu mata kuliah wajib bagi seluruh mahasiswa, serta membentuk beberapa pusat studi terkait lingkungan. Untad juga memiliki Unit Pelayan Teknis Sumber Daya Hayati dan Badan Pekerja Perubahan Iklim.

Universitas Tadulako juga berupaya melakakukan peningkatan kapasistas institusi dengan proyek kolaborasi dengan berbagai pihak seperti kolaborasi dengan Universitas Gottigen Jerman, yakni dengan pendirian Stability of Rain Forest Margin ( STORMA) .Untad juga melakukan kerjasama dengan pemerintah daerah terkait pengelolaan lingkungan dan BMKG terkait peningkatan pelatihan sumber daya manusia terkait klimatologi.

“ Dalam pelaksanaan Tridarmanya Untad melakukan berbagai kebijakan terkait perubahan iklim .Diantaranya tergambar dari penetapan Visi Universtas yaitu Untad menjadi pergutuan tinggi berstandar internasional dalam pengembangan IPTEKS berwawasan lingkungan hidup. Visi iniditurunkan kepada masing masing fakutas dengan tetap berorientasi pada pelestarian lingkungan. Untuk mendukung program Merdeka Belajar-Kampus merdeka, Untad juga mengintegrasikan pengendalian perubahan iklim melalui kegiatan diantaranya proyek pembanguan desa/KKNT, juga dibidang pengabdian seperti melakukan proyek bina lingkungan , kiprah desa dan sebagainya. Adapun di bidang kerjasama, Untad melakukan regulasi kerjasama dengan berbaga pihak termasuk NGO terkait upaya peningkatan ketahan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim” terang Dr Ir Muhardi.

Diakhir pemaparanya, Dr Ir Muhardi menjelaskan bahwa Untad memberikan beberapa rekomendasi terkait dengan isu perubahan iklim. Pertama, Pemerintah diharapkan melibatkan Perguruan Tinggi dalam rangka implementasi kebijakan nasional perubahan iklim terkait kesepakatan global di daerah masinng masing. Kedua Pemda dan Perguruan tinggi perlu mengembangkan program program yang lebih kongkret tentanng upaya penurunan emisii gas rumah kaca di daerah, termmasuk peningkatan ketahanan masyarajat terhadap perubahan iklim dan terakhir pemerintah diharapkan dapat memberikan kemudahan dalam mendorong partisipasi masyarakat dalam pengendalian perubahan iklim melalui program kampung iklim. Acara yang dihadiri kurang lebih 300 peserta baik secara daring maupun secara luring ini diakhir dengan sesi diskusi. Riska Fitrah Sari/Humas Untad

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: No Right Klik and Copy!!