April 17, 2021

FISIP Untad Gelar Seminar Nasional Terkait Kewaspadaan Penyebaran Ideologi Radikal Untuk Generasi Milenial

FISIP Untad Gelar Seminar Nasional Terkait Kewaspadaan Penyebaran Ideologi Radikal Untuk Generasi Milenial

Untuk membangun kewaspadaan generasi milenial terhadap penyebaran ideologi Radikalisme melalui media sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik pada Senin (05/04/2021) Pagi menggelar Seminar Nasional dengan mengangkat tema “Mewaspadai Penyebaran Ideologi Radikalisme Kelompok Milenial Melalui Sosial Media” dengan menghadirkan empat pemateri diantaranya Dr. Bastian Jabir Pattara selaku Pakar Ilmu Komunikasi dan Media Konsultan, Dr. H. Lukman S. Thahir, M.A selaku Pakar Filsafat dan Pemikiran Islam, Dr. Rahmat Bakri, SH.,MH selaku ketua umum Pusbang DePSA Untad dan Rafani Tuahuns, SH selaku Ketua Umum PB PII 2021 – 2023.

Dalam sambutannya,Prof. Dr. Muhammad Khairil, M.Si selaku Dekan FISIP Untad menuturkan bahwa kegiatan ini telah digagas sebelum kejadian radikalisme yang terjadi di Makassar beberapa waktu yang lalu.

“ Kegiatan ini telah digagas sebelum Momen radikalisme (bom bunuh diri) yang terjadi di Makassar. Hal tersebut juga merupakan salah satu pendorong dari antusiasme publik untuk mengikuti kegiatan ini mengingat isu radikalisme tersebut masih menjadi topik yang cukup hangat hingga saat ini.” Ujar Prof. Khairil.

Usai sambutan dari Prof. Khairil, Dr. Muh Nur Ali, M.Si selaku Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan turut menambahkan dalam sambutannya agar para generasi milenial harus berhati-hati dalam menggunakan media sosial ditengah mudahnya terpapar berbagai informasi termasuk konten-konten radikal yang berbahaya. Harapannya dengan adanya seminar ini akan semakin menggugah para peserta seminar untuk semakin aware terkait hal tersebut.

Usai sambutan dan dibuka secara resmi oleh Dr. Muh Nur Ali, M.Si selaku Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan, Dr. Bastian Jabir Pattara selaku Pakar Ilmu Komunikasi dan Media Konsultan dalam materinya memaparkan cara menangkal Radikalisme diantaranya :

  • cerdas membedakan informasi dan berita.
  • Media sosial sebagai media untuk meningkatkan kecerdasan atau mengedukasi masyarakat luas.
  • Literasi perlu ditingkatkan untuk menangkal paham ideologi sesat
  • Pemerintah meningkatkan pengawasan konten yang ‘berbahaya’.
  • Memproduksi konten nilai-nilai lokal, budaya dan kearifan lokal.
  • situs web Ormas (NU, Muhammadiyah, dll) menyajikan informasi kontra radikalisme agar lebih menarik bagi kaum milenial.
  • Berupaya mendeteksi segala bentuk konten yang mengarah pada ajakan intoleransi, paham radikal.
  • Menangkal paham radikalisme di kampus berupa pembinaan pada kegiatan-kegiatan di masjid yang terstruktur dengan mata kuliah serta bimbingan dari para dosen.

Dikesempatan yang sama, Dr. H. Lukman S. Thahir, M.A selaku Pakar Filsafat dan Pemikiran Islam memaparkan bahwa untuk mewaspadai tumbuh dan berkembangnya Gerakan radikalisme dikalangan generasi milenial, paling tidak ada beberapa hal yang perlu dilakukan :

  • Pertama, merumuskan dan menyebarluaskan gagasan-gagasan kontra narasi radikalisme dan terorisme di kalangan kelompok milenial berdasarkan tema dan isu yang dikembanhkan oleh kelompok jihadis milenial
  • Kedua, konsep Kontra narasi yang dikembangkan oleh kelompok akademisi dan pemerhati masalah radikalisme dan terorisme hendaknya tidak mono disiplin, tetapi multi disipliner.
  • Ketiga, karena dunia kelompok milenial tak terpisahkan dengan teknologi internet, maka pesan-pesan narasi tandingan, dengan berbagai sarana yang ada pada media social, menyesuaikan diri dengan cara-cara yang lebih kreatif dan up to date agar pesan bisa dengan mudah ditangkap oleh kelompok milenial

Kemudian Dr. Rahmat Bakri, SH.,MH selaku ketua umum Pusbang DePSA Untad dalam materinya menuturkan terdapat empat dimensi yang sebagai upaya komperhensif dalam mencegah radikalisme seperti :

  • Dimensi Teologis, mengembangkan paradigma beragama yang moderat
  • Dimensi Rumput Akar, menjauh dari ajaran propaganda kebencian
  • Dimensi Masyarakat Sipil, membangun narasi damai di ruang-ruang sosial dan virtual
  • Dimensi Negara, pencegahan dan penegakan hukum

Dikesempatan lainnya, Rafani Tuahuns, SH selaku Ketua Umum PB PII 2021 – 2023 menuturkan perlu untuk meluruskan pemaknaan Deradikalisasi bahwa Deradikalisasi Bukanlah Deislamisasi. Kemudian negara harus mampu membuktikan sendiri, bahwa tak ada lagi upaya diskriminasi ataupun kriminalisasi kelompok dan agama tertentu dalam program deradikalisasi.

Usai pemaparan dari seluruh pemateri, acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan Tanya jawab antar pemateri dan peserta seminar. AA

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: No Right Klik and Copy!!