{"id":685,"date":"2014-02-13T01:59:12","date_gmt":"2014-02-13T01:59:12","guid":{"rendered":"http:\/\/untad.ac.id\/en\/?p=685"},"modified":"2014-02-13T01:59:12","modified_gmt":"2014-02-13T01:59:12","slug":"max-nur-alam-raih-predikat-cumlaude-sekaligus-alumnus-pertama-program-doktor-untad","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/2014\/02\/max-nur-alam-raih-predikat-cumlaude-sekaligus-alumnus-pertama-program-doktor-untad\/","title":{"rendered":"Max Nur Alam, Raih Predikat Cumlaude Sekaligus Alumnus Pertama Program Doktor Untad"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Senin, (10\/2) perhatian sebagian besar kalangan civitas akademika Universitas Tadulako tertuju di gedung IT Center Universitas Tadulako. Ratusan civitas akademika memadati gedung lantai 2 IT Center, dan ikut serta menyaksikan UNTAD melahirkan Doktor pertama \u00c2\u00a0jurusan Pertanian. Pada \u00c2\u00a0seminar terbuka promosi Doktor pertama ini, Max Nur Alam mempresentasikan Disertasinya yang berjudul \u00e2\u20ac\u0153Penentuan harga jual beras yang layak pada tingkat petani di Wilayah Profinsi Sulawesi Tengah\u00e2\u20ac\u009d di depan delapan orang penguji, diantaranya Prof.Dr.Ir.Mahfudz,MP ; Prof.Dr.Ir.Alam Anshary,M.Si ; Prof.Dr.Ir.Saiful Darman,MP ; Dr.Lien Damayanti,SP.,MP ; Prof.Dr.Ir.Muhammad Basir,SE.,MP ; Prof.Dr.Ir.Made Antara,MP ; Dr.Rustam Abd. Rauf,SP.,MP ; serta 1 penguji tamu dari Universitas Mulawarman (Samarinda) Prof.Dr.Ir.H.Abu Bakar M. Lahjie,M.Agr.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0 Bapak berusia 63 tahun ini menghadapi suasana yang diselimuti ketegangan\u00c2\u00a0 dengan tenang, menjawab satu persatu peratanyaan, sanggahan, serta kritik dengan santun dan penuh ketenangan. Menurut beliau semua orang memiliki hak yang sama seperti yang sedang dirasakannya sekarang \u00e2\u20ac\u0153asalkan orang tersebut memiliki kemauan, kemampuan, kesabaran, dan tetap mengikuti jalur yang ada, insya Allah pasti bisa\u00e2\u20ac\u009d tuturnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0 Menurut data yang didapatkan oleh Max Nur Alam, Indonesia kini merupakan konsumen beras terbesar di dunia \u00e2\u20ac\u0153 bila dibandingkan dengan negara-negara lain, Indonesia merupakan Negara pengkonsumsi beras terbesar, saat ini tercatat di Korea konsumsi beras pertahunnya hanya 40 Kg \/jiwa, untuk di Negara Jepang konsumsi beras pertahunnya 50 Kg\/jiwa, sedangkan untuk negara indonesia sendiri konsumsi beras pertahunnya sebesar 102 Kg\/jiwa. Hal terpenting yang harus dilakukan oleh masyarakat Indonesia sekarang adalah menekan angka konsumsi beras, dengan mengganti asupan karbohidrat yang selama ini masih berasal dari beras dengan sagu, ubi dan lain sebagainya\u00e2\u20ac\u009d ujarnya<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0 Penelitian yang bertempat di Kabupaten Donggala ini memberikan berbagai macam pertanyaan, diantaranya seperti pertanyaan tentang mengapa tidak menyarankan untuk mengganti konsumsi beras dengan jagung, \u00e2\u20ac\u0153kenapa malah menyarankan untuk menggatinya dengan ubi dan sagu ?\u00e2\u20ac\u009dtanya salah seorang penguji.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0 Menurut kandidat doktor asal Fakultas Pertanian ini, ia tidak mencantumkan jagung sebagai salah satu alternatif pengganti beras, sebab menyesuaikan dengan makan yang juga dikonsumsi oleh masyarakat setempat, \u00e2\u20ac\u0153hasil yang sayadapatkan pada penelitian ini, di Kabupaten Donggala,Provinsi Sulawasi Tengah. Masyarakat yang berada di sana mengkonsumsi sagu dan ubi sebagai pengganti beras\u00e2\u20ac\u009d jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0 Ujian yang berlangsung selama kurang lebih tiga jam ini, mendapatkan hasil yang memuaskan. Max Nur Alam mengakhiri masa studi pada program doktoral yang diambilnya dengan nilai 3,93 dengan kategori <em>cumlaude<\/em>.\u00c2\u00a0 Capaian ini tentu bukan hanya menjadi prestasasi yang membanggakan bagi Max Nur Alam tapi juga menjadi sejarah baru Pascasarjana Universitas Tadulako yang berhasil menamatkan mahasiswa pertama untuk program doktoral.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0 \u00e2\u20ac\u0153umur bukanlah penghalang untuk tetap berprestasi, dan pak Max merupakan mahasiswa program dokoral Universitas tadulako yang <em>the first and the best<\/em>\u00e2\u20ac\u009d ujar rektor UNTAD menutup ujian pertama seminar terbuka progaram doktoral UNTAD. (Wrd)<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Senin, (10\/2) perhatian sebagian besar kalangan civitas akademika Universitas Tadulako tertuju di gedung IT Center Universitas Tadulako. Ratusan civitas akademika memadati gedung lantai 2 IT Center, dan ikut serta menyaksikan UNTAD melahirkan Doktor pertama \u00c2\u00a0jurusan Pertanian. Pada \u00c2\u00a0seminar terbuka promosi Doktor pertama ini, Max Nur Alam mempresentasikan Disertasinya yang berjudul \u00e2\u20ac\u0153Penentuan harga jual beras yang layak pada tingkat petani di Wilayah Profinsi Sulawesi Tengah\u00e2\u20ac\u009d di depan delapan orang penguji, diantaranya Prof.Dr.Ir.Mahfudz,MP ; Prof.Dr.Ir.Alam Anshary,M.Si ; Prof.Dr.Ir.Saiful Darman,MP ; Dr.Lien Damayanti,SP.,MP ; Prof.Dr.Ir.Muhammad Basir,SE.,MP ; Prof.Dr.Ir.Made Antara,MP ; Dr.Rustam Abd. Rauf,SP.,MP ; serta 1 penguji tamu dari Universitas Mulawarman (Samarinda) Prof.Dr.Ir.H.Abu Bakar M. Lahjie,M.Agr. \u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0 Bapak berusia 63 tahun ini menghadapi suasana yang diselimuti ketegangan\u00c2\u00a0 dengan tenang, menjawab satu persatu peratanyaan, sanggahan, serta kritik dengan santun dan penuh ketenangan. Menurut beliau semua orang memiliki hak yang sama seperti yang sedang dirasakannya sekarang \u00e2\u20ac\u0153asalkan orang tersebut memiliki kemauan, kemampuan, kesabaran, dan tetap mengikuti jalur yang ada, insya Allah pasti bisa\u00e2\u20ac\u009d tuturnya. \u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0 Menurut data yang didapatkan oleh Max Nur Alam, Indonesia kini merupakan konsumen beras terbesar di dunia \u00e2\u20ac\u0153 bila dibandingkan dengan negara-negara lain, Indonesia merupakan Negara pengkonsumsi beras terbesar, saat ini tercatat di Korea konsumsi beras pertahunnya hanya 40 Kg \/jiwa, untuk di Negara Jepang konsumsi beras pertahunnya 50 Kg\/jiwa, sedangkan untuk negara indonesia sendiri konsumsi beras pertahunnya sebesar 102 Kg\/jiwa. Hal terpenting yang harus dilakukan oleh masyarakat Indonesia sekarang adalah menekan angka konsumsi beras, dengan mengganti asupan karbohidrat yang selama ini masih berasal dari beras dengan sagu, ubi dan lain sebagainya\u00e2\u20ac\u009d ujarnya \u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0 Penelitian yang bertempat di Kabupaten Donggala ini memberikan berbagai macam pertanyaan, diantaranya seperti pertanyaan tentang mengapa tidak menyarankan untuk mengganti konsumsi beras dengan jagung, \u00e2\u20ac\u0153kenapa malah menyarankan untuk menggatinya dengan ubi dan sagu ?\u00e2\u20ac\u009dtanya salah seorang penguji. \u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0 Menurut kandidat doktor asal Fakultas Pertanian ini, ia tidak mencantumkan jagung sebagai salah satu alternatif pengganti beras, sebab menyesuaikan dengan makan yang juga dikonsumsi oleh masyarakat setempat, \u00e2\u20ac\u0153hasil yang sayadapatkan pada penelitian ini, di Kabupaten Donggala,Provinsi Sulawasi Tengah. Masyarakat yang berada di sana mengkonsumsi sagu dan ubi sebagai pengganti beras\u00e2\u20ac\u009d jelasnya. \u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0 Ujian yang berlangsung selama kurang lebih tiga jam ini, mendapatkan hasil yang memuaskan. Max Nur Alam mengakhiri masa studi pada program doktoral yang diambilnya dengan nilai 3,93 dengan kategori cumlaude.\u00c2\u00a0 Capaian ini tentu bukan hanya menjadi prestasasi yang membanggakan bagi Max Nur Alam tapi juga menjadi sejarah baru Pascasarjana Universitas Tadulako yang berhasil menamatkan mahasiswa pertama untuk program doktoral. \u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0 \u00e2\u20ac\u0153umur bukanlah penghalang untuk tetap berprestasi, dan pak Max merupakan mahasiswa program dokoral Universitas tadulako yang the first and the best\u00e2\u20ac\u009d ujar rektor UNTAD menutup ujian pertama seminar terbuka progaram doktoral UNTAD. (Wrd)<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ocean_post_layout":"","ocean_both_sidebars_style":"","ocean_both_sidebars_content_width":0,"ocean_both_sidebars_sidebars_width":0,"ocean_sidebar":"","ocean_second_sidebar":"","ocean_disable_margins":"enable","ocean_add_body_class":"","ocean_shortcode_before_top_bar":"","ocean_shortcode_after_top_bar":"","ocean_shortcode_before_header":"","ocean_shortcode_after_header":"","ocean_has_shortcode":"","ocean_shortcode_after_title":"","ocean_shortcode_before_footer_widgets":"","ocean_shortcode_after_footer_widgets":"","ocean_shortcode_before_footer_bottom":"","ocean_shortcode_after_footer_bottom":"","ocean_display_top_bar":"default","ocean_display_header":"default","ocean_header_style":"","ocean_center_header_left_menu":"","ocean_custom_header_template":"","ocean_custom_logo":0,"ocean_custom_retina_logo":0,"ocean_custom_logo_max_width":0,"ocean_custom_logo_tablet_max_width":0,"ocean_custom_logo_mobile_max_width":0,"ocean_custom_logo_max_height":0,"ocean_custom_logo_tablet_max_height":0,"ocean_custom_logo_mobile_max_height":0,"ocean_header_custom_menu":"","ocean_menu_typo_font_family":"","ocean_menu_typo_font_subset":"","ocean_menu_typo_font_size":0,"ocean_menu_typo_font_size_tablet":0,"ocean_menu_typo_font_size_mobile":0,"ocean_menu_typo_font_size_unit":"px","ocean_menu_typo_font_weight":"","ocean_menu_typo_font_weight_tablet":"","ocean_menu_typo_font_weight_mobile":"","ocean_menu_typo_transform":"","ocean_menu_typo_transform_tablet":"","ocean_menu_typo_transform_mobile":"","ocean_menu_typo_line_height":0,"ocean_menu_typo_line_height_tablet":0,"ocean_menu_typo_line_height_mobile":0,"ocean_menu_typo_line_height_unit":"","ocean_menu_typo_spacing":0,"ocean_menu_typo_spacing_tablet":0,"ocean_menu_typo_spacing_mobile":0,"ocean_menu_typo_spacing_unit":"","ocean_menu_link_color":"","ocean_menu_link_color_hover":"","ocean_menu_link_color_active":"","ocean_menu_link_background":"","ocean_menu_link_hover_background":"","ocean_menu_link_active_background":"","ocean_menu_social_links_bg":"","ocean_menu_social_hover_links_bg":"","ocean_menu_social_links_color":"","ocean_menu_social_hover_links_color":"","ocean_disable_title":"default","ocean_disable_heading":"default","ocean_post_title":"","ocean_post_subheading":"","ocean_post_title_style":"","ocean_post_title_background_color":"","ocean_post_title_background":0,"ocean_post_title_bg_image_position":"","ocean_post_title_bg_image_attachment":"","ocean_post_title_bg_image_repeat":"","ocean_post_title_bg_image_size":"","ocean_post_title_height":0,"ocean_post_title_bg_overlay":0.5,"ocean_post_title_bg_overlay_color":"","ocean_disable_breadcrumbs":"default","ocean_breadcrumbs_color":"","ocean_breadcrumbs_separator_color":"","ocean_breadcrumbs_links_color":"","ocean_breadcrumbs_links_hover_color":"","ocean_display_footer_widgets":"default","ocean_display_footer_bottom":"default","ocean_custom_footer_template":"","ocean_post_oembed":"","ocean_post_self_hosted_media":"","ocean_post_video_embed":"","ocean_link_format":"","ocean_link_format_target":"self","ocean_quote_format":"","ocean_quote_format_link":"post","ocean_gallery_link_images":"on","ocean_gallery_id":[],"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-685","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-berita-untad","entry"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.0 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Max Nur Alam, Raih Predikat Cumlaude Sekaligus Alumnus Pertama Program Doktor Untad - Universitas Tadulako<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/untad.ac.id\/en\/2014\/02\/max-nur-alam-raih-predikat-cumlaude-sekaligus-alumnus-pertama-program-doktor-untad\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Max Nur Alam, Raih Predikat Cumlaude Sekaligus Alumnus Pertama Program Doktor Untad - Universitas Tadulako\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Senin, (10\/2) perhatian sebagian besar kalangan civitas akademika Universitas Tadulako tertuju di gedung IT Center Universitas Tadulako. Ratusan civitas akademika memadati gedung lantai 2 IT Center, dan ikut serta menyaksikan UNTAD melahirkan Doktor pertama \u00c2\u00a0jurusan Pertanian. Pada \u00c2\u00a0seminar terbuka promosi Doktor pertama ini, Max Nur Alam mempresentasikan Disertasinya yang berjudul \u00e2\u20ac\u0153Penentuan harga jual beras yang layak pada tingkat petani di Wilayah Profinsi Sulawesi Tengah\u00e2\u20ac\u009d di depan delapan orang penguji, diantaranya Prof.Dr.Ir.Mahfudz,MP ; Prof.Dr.Ir.Alam Anshary,M.Si ; Prof.Dr.Ir.Saiful Darman,MP ; Dr.Lien Damayanti,SP.,MP ; Prof.Dr.Ir.Muhammad Basir,SE.,MP ; Prof.Dr.Ir.Made Antara,MP ; Dr.Rustam Abd. Rauf,SP.,MP ; serta 1 penguji tamu dari Universitas Mulawarman (Samarinda) Prof.Dr.Ir.H.Abu Bakar M. Lahjie,M.Agr. \u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0 Bapak berusia 63 tahun ini menghadapi suasana yang diselimuti ketegangan\u00c2\u00a0 dengan tenang, menjawab satu persatu peratanyaan, sanggahan, serta kritik dengan santun dan penuh ketenangan. Menurut beliau semua orang memiliki hak yang sama seperti yang sedang dirasakannya sekarang \u00e2\u20ac\u0153asalkan orang tersebut memiliki kemauan, kemampuan, kesabaran, dan tetap mengikuti jalur yang ada, insya Allah pasti bisa\u00e2\u20ac\u009d tuturnya. \u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0 Menurut data yang didapatkan oleh Max Nur Alam, Indonesia kini merupakan konsumen beras terbesar di dunia \u00e2\u20ac\u0153 bila dibandingkan dengan negara-negara lain, Indonesia merupakan Negara pengkonsumsi beras terbesar, saat ini tercatat di Korea konsumsi beras pertahunnya hanya 40 Kg \/jiwa, untuk di Negara Jepang konsumsi beras pertahunnya 50 Kg\/jiwa, sedangkan untuk negara indonesia sendiri konsumsi beras pertahunnya sebesar 102 Kg\/jiwa. Hal terpenting yang harus dilakukan oleh masyarakat Indonesia sekarang adalah menekan angka konsumsi beras, dengan mengganti asupan karbohidrat yang selama ini masih berasal dari beras dengan sagu, ubi dan lain sebagainya\u00e2\u20ac\u009d ujarnya \u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0 Penelitian yang bertempat di Kabupaten Donggala ini memberikan berbagai macam pertanyaan, diantaranya seperti pertanyaan tentang mengapa tidak menyarankan untuk mengganti konsumsi beras dengan jagung, \u00e2\u20ac\u0153kenapa malah menyarankan untuk menggatinya dengan ubi dan sagu ?\u00e2\u20ac\u009dtanya salah seorang penguji. \u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0 Menurut kandidat doktor asal Fakultas Pertanian ini, ia tidak mencantumkan jagung sebagai salah satu alternatif pengganti beras, sebab menyesuaikan dengan makan yang juga dikonsumsi oleh masyarakat setempat, \u00e2\u20ac\u0153hasil yang sayadapatkan pada penelitian ini, di Kabupaten Donggala,Provinsi Sulawasi Tengah. Masyarakat yang berada di sana mengkonsumsi sagu dan ubi sebagai pengganti beras\u00e2\u20ac\u009d jelasnya. \u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0 Ujian yang berlangsung selama kurang lebih tiga jam ini, mendapatkan hasil yang memuaskan. Max Nur Alam mengakhiri masa studi pada program doktoral yang diambilnya dengan nilai 3,93 dengan kategori cumlaude.\u00c2\u00a0 Capaian ini tentu bukan hanya menjadi prestasasi yang membanggakan bagi Max Nur Alam tapi juga menjadi sejarah baru Pascasarjana Universitas Tadulako yang berhasil menamatkan mahasiswa pertama untuk program doktoral. \u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0 \u00e2\u20ac\u0153umur bukanlah penghalang untuk tetap berprestasi, dan pak Max merupakan mahasiswa program dokoral Universitas tadulako yang the first and the best\u00e2\u20ac\u009d ujar rektor UNTAD menutup ujian pertama seminar terbuka progaram doktoral UNTAD. (Wrd)\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/untad.ac.id\/en\/2014\/02\/max-nur-alam-raih-predikat-cumlaude-sekaligus-alumnus-pertama-program-doktor-untad\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Universitas Tadulako\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2014-02-13T01:59:12+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"nadira-tik\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"nadira-tik\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"2 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/untad.ac.id\/2014\/02\/max-nur-alam-raih-predikat-cumlaude-sekaligus-alumnus-pertama-program-doktor-untad\/\",\"url\":\"https:\/\/untad.ac.id\/2014\/02\/max-nur-alam-raih-predikat-cumlaude-sekaligus-alumnus-pertama-program-doktor-untad\/\",\"name\":\"Max Nur Alam, Raih Predikat Cumlaude Sekaligus Alumnus Pertama Program Doktor Untad - Universitas Tadulako\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/untad.ac.id\/#website\"},\"datePublished\":\"2014-02-13T01:59:12+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/untad.ac.id\/#\/schema\/person\/a44c0393d9ee6fe59e81e401fe71d8ea\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/untad.ac.id\/2014\/02\/max-nur-alam-raih-predikat-cumlaude-sekaligus-alumnus-pertama-program-doktor-untad\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/untad.ac.id\/2014\/02\/max-nur-alam-raih-predikat-cumlaude-sekaligus-alumnus-pertama-program-doktor-untad\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/untad.ac.id\/2014\/02\/max-nur-alam-raih-predikat-cumlaude-sekaligus-alumnus-pertama-program-doktor-untad\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/untad.ac.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Max Nur Alam, Raih Predikat Cumlaude Sekaligus Alumnus Pertama Program Doktor Untad\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/untad.ac.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/untad.ac.id\/\",\"name\":\"Universitas Tadulako\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/untad.ac.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/untad.ac.id\/#\/schema\/person\/a44c0393d9ee6fe59e81e401fe71d8ea\",\"name\":\"nadira-tik\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/untad.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9e0f36927f2c075a040f3c7ae1a1816265d8cf97e7f739bcfd748b823f91d39a?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9e0f36927f2c075a040f3c7ae1a1816265d8cf97e7f739bcfd748b823f91d39a?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"nadira-tik\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/baru.untad.ac.id\"],\"url\":\"https:\/\/untad.ac.id\/en\/author\/nadira-tik\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Max Nur Alam, Raih Predikat Cumlaude Sekaligus Alumnus Pertama Program Doktor Untad - Universitas Tadulako","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/2014\/02\/max-nur-alam-raih-predikat-cumlaude-sekaligus-alumnus-pertama-program-doktor-untad\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Max Nur Alam, Raih Predikat Cumlaude Sekaligus Alumnus Pertama Program Doktor Untad - Universitas Tadulako","og_description":"Senin, (10\/2) perhatian sebagian besar kalangan civitas akademika Universitas Tadulako tertuju di gedung IT Center Universitas Tadulako. Ratusan civitas akademika memadati gedung lantai 2 IT Center, dan ikut serta menyaksikan UNTAD melahirkan Doktor pertama \u00c2\u00a0jurusan Pertanian. Pada \u00c2\u00a0seminar terbuka promosi Doktor pertama ini, Max Nur Alam mempresentasikan Disertasinya yang berjudul \u00e2\u20ac\u0153Penentuan harga jual beras yang layak pada tingkat petani di Wilayah Profinsi Sulawesi Tengah\u00e2\u20ac\u009d di depan delapan orang penguji, diantaranya Prof.Dr.Ir.Mahfudz,MP ; Prof.Dr.Ir.Alam Anshary,M.Si ; Prof.Dr.Ir.Saiful Darman,MP ; Dr.Lien Damayanti,SP.,MP ; Prof.Dr.Ir.Muhammad Basir,SE.,MP ; Prof.Dr.Ir.Made Antara,MP ; Dr.Rustam Abd. Rauf,SP.,MP ; serta 1 penguji tamu dari Universitas Mulawarman (Samarinda) Prof.Dr.Ir.H.Abu Bakar M. Lahjie,M.Agr. \u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0 Bapak berusia 63 tahun ini menghadapi suasana yang diselimuti ketegangan\u00c2\u00a0 dengan tenang, menjawab satu persatu peratanyaan, sanggahan, serta kritik dengan santun dan penuh ketenangan. Menurut beliau semua orang memiliki hak yang sama seperti yang sedang dirasakannya sekarang \u00e2\u20ac\u0153asalkan orang tersebut memiliki kemauan, kemampuan, kesabaran, dan tetap mengikuti jalur yang ada, insya Allah pasti bisa\u00e2\u20ac\u009d tuturnya. \u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0 Menurut data yang didapatkan oleh Max Nur Alam, Indonesia kini merupakan konsumen beras terbesar di dunia \u00e2\u20ac\u0153 bila dibandingkan dengan negara-negara lain, Indonesia merupakan Negara pengkonsumsi beras terbesar, saat ini tercatat di Korea konsumsi beras pertahunnya hanya 40 Kg \/jiwa, untuk di Negara Jepang konsumsi beras pertahunnya 50 Kg\/jiwa, sedangkan untuk negara indonesia sendiri konsumsi beras pertahunnya sebesar 102 Kg\/jiwa. Hal terpenting yang harus dilakukan oleh masyarakat Indonesia sekarang adalah menekan angka konsumsi beras, dengan mengganti asupan karbohidrat yang selama ini masih berasal dari beras dengan sagu, ubi dan lain sebagainya\u00e2\u20ac\u009d ujarnya \u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0 Penelitian yang bertempat di Kabupaten Donggala ini memberikan berbagai macam pertanyaan, diantaranya seperti pertanyaan tentang mengapa tidak menyarankan untuk mengganti konsumsi beras dengan jagung, \u00e2\u20ac\u0153kenapa malah menyarankan untuk menggatinya dengan ubi dan sagu ?\u00e2\u20ac\u009dtanya salah seorang penguji. \u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0 Menurut kandidat doktor asal Fakultas Pertanian ini, ia tidak mencantumkan jagung sebagai salah satu alternatif pengganti beras, sebab menyesuaikan dengan makan yang juga dikonsumsi oleh masyarakat setempat, \u00e2\u20ac\u0153hasil yang sayadapatkan pada penelitian ini, di Kabupaten Donggala,Provinsi Sulawasi Tengah. Masyarakat yang berada di sana mengkonsumsi sagu dan ubi sebagai pengganti beras\u00e2\u20ac\u009d jelasnya. \u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0 Ujian yang berlangsung selama kurang lebih tiga jam ini, mendapatkan hasil yang memuaskan. Max Nur Alam mengakhiri masa studi pada program doktoral yang diambilnya dengan nilai 3,93 dengan kategori cumlaude.\u00c2\u00a0 Capaian ini tentu bukan hanya menjadi prestasasi yang membanggakan bagi Max Nur Alam tapi juga menjadi sejarah baru Pascasarjana Universitas Tadulako yang berhasil menamatkan mahasiswa pertama untuk program doktoral. \u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0\u00c2\u00a0 \u00e2\u20ac\u0153umur bukanlah penghalang untuk tetap berprestasi, dan pak Max merupakan mahasiswa program dokoral Universitas tadulako yang the first and the best\u00e2\u20ac\u009d ujar rektor UNTAD menutup ujian pertama seminar terbuka progaram doktoral UNTAD. (Wrd)","og_url":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/2014\/02\/max-nur-alam-raih-predikat-cumlaude-sekaligus-alumnus-pertama-program-doktor-untad\/","og_site_name":"Universitas Tadulako","article_published_time":"2014-02-13T01:59:12+00:00","author":"nadira-tik","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"nadira-tik","Est. reading time":"2 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/untad.ac.id\/2014\/02\/max-nur-alam-raih-predikat-cumlaude-sekaligus-alumnus-pertama-program-doktor-untad\/","url":"https:\/\/untad.ac.id\/2014\/02\/max-nur-alam-raih-predikat-cumlaude-sekaligus-alumnus-pertama-program-doktor-untad\/","name":"Max Nur Alam, Raih Predikat Cumlaude Sekaligus Alumnus Pertama Program Doktor Untad - Universitas Tadulako","isPartOf":{"@id":"https:\/\/untad.ac.id\/#website"},"datePublished":"2014-02-13T01:59:12+00:00","author":{"@id":"https:\/\/untad.ac.id\/#\/schema\/person\/a44c0393d9ee6fe59e81e401fe71d8ea"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/untad.ac.id\/2014\/02\/max-nur-alam-raih-predikat-cumlaude-sekaligus-alumnus-pertama-program-doktor-untad\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/untad.ac.id\/2014\/02\/max-nur-alam-raih-predikat-cumlaude-sekaligus-alumnus-pertama-program-doktor-untad\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/untad.ac.id\/2014\/02\/max-nur-alam-raih-predikat-cumlaude-sekaligus-alumnus-pertama-program-doktor-untad\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/untad.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Max Nur Alam, Raih Predikat Cumlaude Sekaligus Alumnus Pertama Program Doktor Untad"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/untad.ac.id\/#website","url":"https:\/\/untad.ac.id\/","name":"Tadulako University","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/untad.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/untad.ac.id\/#\/schema\/person\/a44c0393d9ee6fe59e81e401fe71d8ea","name":"nadira-tik","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/untad.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9e0f36927f2c075a040f3c7ae1a1816265d8cf97e7f739bcfd748b823f91d39a?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9e0f36927f2c075a040f3c7ae1a1816265d8cf97e7f739bcfd748b823f91d39a?s=96&d=mm&r=g","caption":"nadira-tik"},"sameAs":["https:\/\/baru.untad.ac.id"],"url":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/author\/nadira-tik\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/685","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=685"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/685\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=685"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=685"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=685"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}