{"id":5269,"date":"2017-02-28T12:57:42","date_gmt":"2017-02-28T04:57:42","guid":{"rendered":"http:\/\/untad.ac.id\/?p=5269"},"modified":"2017-02-28T12:57:42","modified_gmt":"2017-02-28T04:57:42","slug":"kuliah-umum-prodi-antropologi-angkat-tema-tentang-kebakaran-hutan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/2017\/02\/kuliah-umum-prodi-antropologi-angkat-tema-tentang-kebakaran-hutan\/","title":{"rendered":"Kuliah Umum Prodi Antropologi Angkat Tema Tentang Efek Kebakaran Hutan Gambut"},"content":{"rendered":"<p>Senin (27\/02), Fakultas ilmu sosial dan Ilmu Politik, program studi ilmu Antropologi kembali mengadakan <em>Public lecture<\/em> dengan mengusung tema \u201c<em>on wildfires in tropical \u00a0moist forest<\/em>\u201d. Kegiatan yang digelar di <em>media center, IT building<\/em> tersebut menghadirkan Andrew P. Vayda, <em>distinguished professor emeritus of anthropology and ecology<\/em>.<\/p>\n<p>Mewakili Rektor Untad, kegiatan ini dibuka oleh wakil rektor bidang kerjasama, Prof . Mery Napitupulu, M.Sc, PhD. Dalam sambutannya Prof. Mery Napitupulu mengungkapkan rasa syukurnya atas terlaksananya kegiatan <em>Public Lecture<\/em> semacam ini.<\/p>\n<p>\u201cKita bersyukur ada fakultas yang mengadakan <em>public lecture<\/em> seperti ini, dan tema yang diangkat ini merupakan masalah umum. Hari ini saya yakin dan mengharapkan kita mendapatkan ilmu dari bapak Andrew, tentu beliau sangat berpengalaman dalam hal <em>wildfires<\/em>, karena hal ini merupakan sesuatu yang tidak kita harapkan\u201d<\/p>\n<p>Acara ini dihadiri oleh dosen dari FISIP maupun FAHUT, anggota <em>Center for International Forestry Research( <\/em>CIFOR), mahasiswa antropologi hingga mahasiswa yang berasal dari Jepang yaitu Fumikazu Ubukata dari Okayama University dan Daisuke Naito dari <a href=\"http:\/\/www.chikyu.ac.jp\/rihn_e\/\"><em>Research Institute for Humanity and Nature [RIHN], <\/em>Kyoto JAPAN<\/a>.<\/p>\n<p>Sebelum masuk pada kuliah umum Andrew P. Vayda, kegiatan ini diawali oleh penampilan dari kelompok seni komunitas Polelea, dengan judul \u2018nyanyian hulu\u2019 yang dipimpin oleh Akbar Dian, S.Sos.<\/p>\n<p>Andrew P. Vayda merupakan staf pengajar dan professor dalam bidang antropologi dan ekologi. Selain itu, Prof. Andrew P. Vayda juga merupakan pengajar di Universitas Indonesia (UI), Universitas Mulawarman dan Institut Pertanian Bogor (IPB).\u00a0 Andrew P. Vayda juga aktif sebagai senior di <em><strong>CIFOR<\/strong><\/em><u>.<\/u><\/p>\n<p>Dalam kuliah umumnya, Prof. Andrew P. Vayda menekankan melalui moderator, Muh. Nasrum, S.Sos, M.Sc bahwa dalam <em>public lecture<\/em> tersebut menjelaskan mengenai efek yang ditimbulkan dari kebakaran hutan gambut. Prof Andrew P. Vayda ingin menjelaskan secara lebih dari apa yang telah dituliskan di tema mengenai kebakaran hutan yang sulit dikendalikan hingga sebab-sebab terjadinya kebakaran. Menurut Prof. Andrew, sawit juga merupakan penyebab terjadinya kebakaran di lahan gambut.<\/p>\n<p>Sehubungan dengan ilmu antropologi, Prof. Andrew P. Vayda menegaskan bagaimana posisi seorang antropolog lingkungan dapat bermain dalam sebuah penelitian interdisipliner yang menjelaskan siklus perubahan lingkungan tersebut. Seperti dalam papernya yang berjudul <em>Causal\u00a0Explanation\u00a0for\u00a0Environmental\u00a0Anthropologists<\/em>\u00a0, Andrew P. Vayda menjelaskan \u201c<em>My ultimate concerns in this chapter will be with roles that environmental\u00a0 anthropologists can play in interdisciplinary research to answer questions about\u00a0 why environmental changes occur or don\u2019t occur and with some particular\u00a0 ways in which those roles can be or should, in my view, be performed<\/em>\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>\u201c<em>I will present a brief\u00a0 exposition of methodological arguments that I and others have been developing\u00a0 about how causal questions, such as those about why environmental changes\u00a0 occur or don\u2019t occur, should be answered. With illustrations drawn from wildfire related research in Indonesia and elsewhere, I will then proceed to consider in\u00a0 detail what the arguments imply in regard to how and when anthropologists can\u00a0 effectively join bio-physical scientists in seeking answers to environmental change questions<\/em>\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Inti dari paper tersebut kemudian lebih menekankan pada segi metodologis, antopolog mengefektifkan bergabung dengan ilmuwan bio-fisik dan mengungkap penelitian mengenai <em>wildfires<\/em> yang terjadi di Indonesia dan menjawab pertanyaan atas perubahan-perubahan lingkungan tersebut.<\/p>\n<p>Sehubungan dengan penjelasan Prof. Andrew P. Vayda, Muh. Nasrum, S.Sos, M.Sc selaku moderator\u00a0 menambahkan bahwa di masa sekarang lahan tersebut menjadi mudah untuk dibakar.<\/p>\n<p>\u201c6 juta hektar lahan di Kalimantan dan Sumatra terbakar sehingga berdampak terhadap iklim yang dapat kita rasakan sampai saat ini\u201d lengkapnya menutup kegiatan pada hari itu.<\/p>\n<p><strong>Penulis<\/strong> : Raisa Alatas\/Humas Untad<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Senin (27\/02), Fakultas ilmu sosial dan Ilmu Politik, program studi ilmu Antropologi kembali mengadakan Public lecture dengan mengusung tema \u201con wildfires in tropical \u00a0moist forest\u201d. Kegiatan yang digelar di media center, IT building tersebut menghadirkan Andrew P. Vayda, distinguished professor emeritus of anthropology and ecology. Mewakili Rektor Untad, kegiatan ini dibuka oleh wakil rektor bidang kerjasama, Prof . Mery Napitupulu, M.Sc, PhD. Dalam sambutannya Prof. Mery Napitupulu mengungkapkan rasa syukurnya atas terlaksananya kegiatan Public Lecture semacam ini. \u201cKita bersyukur ada fakultas yang mengadakan public lecture seperti ini, dan tema yang diangkat ini merupakan masalah umum. Hari ini saya yakin dan mengharapkan kita mendapatkan ilmu dari bapak Andrew, tentu beliau sangat berpengalaman dalam hal wildfires, karena hal ini merupakan sesuatu yang tidak kita harapkan\u201d Acara ini dihadiri oleh dosen dari FISIP maupun FAHUT, anggota Center for International Forestry Research( CIFOR), mahasiswa antropologi hingga mahasiswa yang berasal dari Jepang yaitu Fumikazu Ubukata dari Okayama University dan Daisuke Naito dari Research Institute for Humanity and Nature [RIHN], Kyoto JAPAN. Sebelum masuk pada kuliah umum Andrew P. Vayda, kegiatan ini diawali oleh penampilan dari kelompok seni komunitas Polelea, dengan judul \u2018nyanyian hulu\u2019 yang dipimpin oleh Akbar Dian, S.Sos. Andrew P. Vayda merupakan staf pengajar dan professor dalam bidang antropologi dan ekologi. Selain itu, Prof. Andrew P. Vayda juga merupakan pengajar di Universitas Indonesia (UI), Universitas Mulawarman dan Institut Pertanian Bogor (IPB).\u00a0 Andrew P. Vayda juga aktif sebagai senior di CIFOR. Dalam kuliah umumnya, Prof. Andrew P. Vayda menekankan melalui moderator, Muh. Nasrum, S.Sos, M.Sc bahwa dalam public lecture tersebut menjelaskan mengenai efek yang ditimbulkan dari kebakaran hutan gambut. Prof Andrew P. Vayda ingin menjelaskan secara lebih dari apa yang telah dituliskan di tema mengenai kebakaran hutan yang sulit dikendalikan hingga sebab-sebab terjadinya kebakaran. Menurut Prof. Andrew, sawit juga merupakan penyebab terjadinya kebakaran di lahan gambut. Sehubungan dengan ilmu antropologi, Prof. Andrew P. Vayda menegaskan bagaimana posisi seorang antropolog lingkungan dapat bermain dalam sebuah penelitian interdisipliner yang menjelaskan siklus perubahan lingkungan tersebut. Seperti dalam papernya yang berjudul Causal\u00a0Explanation\u00a0for\u00a0Environmental\u00a0Anthropologists\u00a0, Andrew P. Vayda menjelaskan \u201cMy ultimate concerns in this chapter will be with roles that environmental\u00a0 anthropologists can play in interdisciplinary research to answer questions about\u00a0 why environmental changes occur or don\u2019t occur and with some particular\u00a0 ways in which those roles can be or should, in my view, be performed\u201d jelasnya. \u201cI will present a brief\u00a0 exposition of methodological arguments that I and others have been developing\u00a0 about how causal questions, such as those about why environmental changes\u00a0 occur or don\u2019t occur, should be answered. With illustrations drawn from wildfire related research in Indonesia and elsewhere, I will then proceed to consider in\u00a0 detail what the arguments imply in regard to how and when anthropologists can\u00a0 effectively join bio-physical scientists in seeking answers to environmental change questions\u201d tambahnya. Inti dari paper tersebut kemudian lebih menekankan pada segi metodologis, antopolog mengefektifkan bergabung dengan ilmuwan bio-fisik dan mengungkap penelitian mengenai wildfires yang terjadi di Indonesia dan menjawab pertanyaan atas perubahan-perubahan lingkungan tersebut. Sehubungan dengan penjelasan Prof. Andrew P. Vayda, Muh. Nasrum, S.Sos, M.Sc selaku moderator\u00a0 menambahkan bahwa di masa sekarang lahan tersebut menjadi mudah untuk dibakar. \u201c6 juta hektar lahan di Kalimantan dan Sumatra terbakar sehingga berdampak terhadap iklim yang dapat kita rasakan sampai saat ini\u201d lengkapnya menutup kegiatan pada hari itu. Penulis : Raisa Alatas\/Humas Untad &nbsp;<\/p>","protected":false},"author":2,"featured_media":5270,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ocean_post_layout":"","ocean_both_sidebars_style":"","ocean_both_sidebars_content_width":0,"ocean_both_sidebars_sidebars_width":0,"ocean_sidebar":"","ocean_second_sidebar":"","ocean_disable_margins":"enable","ocean_add_body_class":"","ocean_shortcode_before_top_bar":"","ocean_shortcode_after_top_bar":"","ocean_shortcode_before_header":"","ocean_shortcode_after_header":"","ocean_has_shortcode":"","ocean_shortcode_after_title":"","ocean_shortcode_before_footer_widgets":"","ocean_shortcode_after_footer_widgets":"","ocean_shortcode_before_footer_bottom":"","ocean_shortcode_after_footer_bottom":"","ocean_display_top_bar":"default","ocean_display_header":"default","ocean_header_style":"","ocean_center_header_left_menu":"","ocean_custom_header_template":"","ocean_custom_logo":0,"ocean_custom_retina_logo":0,"ocean_custom_logo_max_width":0,"ocean_custom_logo_tablet_max_width":0,"ocean_custom_logo_mobile_max_width":0,"ocean_custom_logo_max_height":0,"ocean_custom_logo_tablet_max_height":0,"ocean_custom_logo_mobile_max_height":0,"ocean_header_custom_menu":"","ocean_menu_typo_font_family":"","ocean_menu_typo_font_subset":"","ocean_menu_typo_font_size":0,"ocean_menu_typo_font_size_tablet":0,"ocean_menu_typo_font_size_mobile":0,"ocean_menu_typo_font_size_unit":"px","ocean_menu_typo_font_weight":"","ocean_menu_typo_font_weight_tablet":"","ocean_menu_typo_font_weight_mobile":"","ocean_menu_typo_transform":"","ocean_menu_typo_transform_tablet":"","ocean_menu_typo_transform_mobile":"","ocean_menu_typo_line_height":0,"ocean_menu_typo_line_height_tablet":0,"ocean_menu_typo_line_height_mobile":0,"ocean_menu_typo_line_height_unit":"","ocean_menu_typo_spacing":0,"ocean_menu_typo_spacing_tablet":0,"ocean_menu_typo_spacing_mobile":0,"ocean_menu_typo_spacing_unit":"","ocean_menu_link_color":"","ocean_menu_link_color_hover":"","ocean_menu_link_color_active":"","ocean_menu_link_background":"","ocean_menu_link_hover_background":"","ocean_menu_link_active_background":"","ocean_menu_social_links_bg":"","ocean_menu_social_hover_links_bg":"","ocean_menu_social_links_color":"","ocean_menu_social_hover_links_color":"","ocean_disable_title":"default","ocean_disable_heading":"default","ocean_post_title":"","ocean_post_subheading":"","ocean_post_title_style":"","ocean_post_title_background_color":"","ocean_post_title_background":0,"ocean_post_title_bg_image_position":"","ocean_post_title_bg_image_attachment":"","ocean_post_title_bg_image_repeat":"","ocean_post_title_bg_image_size":"","ocean_post_title_height":0,"ocean_post_title_bg_overlay":0.5,"ocean_post_title_bg_overlay_color":"","ocean_disable_breadcrumbs":"default","ocean_breadcrumbs_color":"","ocean_breadcrumbs_separator_color":"","ocean_breadcrumbs_links_color":"","ocean_breadcrumbs_links_hover_color":"","ocean_display_footer_widgets":"default","ocean_display_footer_bottom":"default","ocean_custom_footer_template":"","ocean_post_oembed":"","ocean_post_self_hosted_media":"","ocean_post_video_embed":"","ocean_link_format":"","ocean_link_format_target":"self","ocean_quote_format":"","ocean_quote_format_link":"post","ocean_gallery_link_images":"on","ocean_gallery_id":[],"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-5269","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-untad","entry","has-media"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.0 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Kuliah Umum Prodi Antropologi Angkat Tema Tentang Efek Kebakaran Hutan Gambut - Universitas Tadulako<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/untad.ac.id\/en\/2017\/02\/kuliah-umum-prodi-antropologi-angkat-tema-tentang-kebakaran-hutan\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Kuliah Umum Prodi Antropologi Angkat Tema Tentang Efek Kebakaran Hutan Gambut - Universitas Tadulako\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Senin (27\/02), Fakultas ilmu sosial dan Ilmu Politik, program studi ilmu Antropologi kembali mengadakan Public lecture dengan mengusung tema \u201con wildfires in tropical \u00a0moist forest\u201d. Kegiatan yang digelar di media center, IT building tersebut menghadirkan Andrew P. Vayda, distinguished professor emeritus of anthropology and ecology. Mewakili Rektor Untad, kegiatan ini dibuka oleh wakil rektor bidang kerjasama, Prof . Mery Napitupulu, M.Sc, PhD. Dalam sambutannya Prof. Mery Napitupulu mengungkapkan rasa syukurnya atas terlaksananya kegiatan Public Lecture semacam ini. \u201cKita bersyukur ada fakultas yang mengadakan public lecture seperti ini, dan tema yang diangkat ini merupakan masalah umum. Hari ini saya yakin dan mengharapkan kita mendapatkan ilmu dari bapak Andrew, tentu beliau sangat berpengalaman dalam hal wildfires, karena hal ini merupakan sesuatu yang tidak kita harapkan\u201d Acara ini dihadiri oleh dosen dari FISIP maupun FAHUT, anggota Center for International Forestry Research( CIFOR), mahasiswa antropologi hingga mahasiswa yang berasal dari Jepang yaitu Fumikazu Ubukata dari Okayama University dan Daisuke Naito dari Research Institute for Humanity and Nature [RIHN], Kyoto JAPAN. Sebelum masuk pada kuliah umum Andrew P. Vayda, kegiatan ini diawali oleh penampilan dari kelompok seni komunitas Polelea, dengan judul \u2018nyanyian hulu\u2019 yang dipimpin oleh Akbar Dian, S.Sos. Andrew P. Vayda merupakan staf pengajar dan professor dalam bidang antropologi dan ekologi. Selain itu, Prof. Andrew P. Vayda juga merupakan pengajar di Universitas Indonesia (UI), Universitas Mulawarman dan Institut Pertanian Bogor (IPB).\u00a0 Andrew P. Vayda juga aktif sebagai senior di CIFOR. Dalam kuliah umumnya, Prof. Andrew P. Vayda menekankan melalui moderator, Muh. Nasrum, S.Sos, M.Sc bahwa dalam public lecture tersebut menjelaskan mengenai efek yang ditimbulkan dari kebakaran hutan gambut. Prof Andrew P. Vayda ingin menjelaskan secara lebih dari apa yang telah dituliskan di tema mengenai kebakaran hutan yang sulit dikendalikan hingga sebab-sebab terjadinya kebakaran. Menurut Prof. Andrew, sawit juga merupakan penyebab terjadinya kebakaran di lahan gambut. Sehubungan dengan ilmu antropologi, Prof. Andrew P. Vayda menegaskan bagaimana posisi seorang antropolog lingkungan dapat bermain dalam sebuah penelitian interdisipliner yang menjelaskan siklus perubahan lingkungan tersebut. Seperti dalam papernya yang berjudul Causal\u00a0Explanation\u00a0for\u00a0Environmental\u00a0Anthropologists\u00a0, Andrew P. Vayda menjelaskan \u201cMy ultimate concerns in this chapter will be with roles that environmental\u00a0 anthropologists can play in interdisciplinary research to answer questions about\u00a0 why environmental changes occur or don\u2019t occur and with some particular\u00a0 ways in which those roles can be or should, in my view, be performed\u201d jelasnya. \u201cI will present a brief\u00a0 exposition of methodological arguments that I and others have been developing\u00a0 about how causal questions, such as those about why environmental changes\u00a0 occur or don\u2019t occur, should be answered. With illustrations drawn from wildfire related research in Indonesia and elsewhere, I will then proceed to consider in\u00a0 detail what the arguments imply in regard to how and when anthropologists can\u00a0 effectively join bio-physical scientists in seeking answers to environmental change questions\u201d tambahnya. Inti dari paper tersebut kemudian lebih menekankan pada segi metodologis, antopolog mengefektifkan bergabung dengan ilmuwan bio-fisik dan mengungkap penelitian mengenai wildfires yang terjadi di Indonesia dan menjawab pertanyaan atas perubahan-perubahan lingkungan tersebut. Sehubungan dengan penjelasan Prof. Andrew P. Vayda, Muh. Nasrum, S.Sos, M.Sc selaku moderator\u00a0 menambahkan bahwa di masa sekarang lahan tersebut menjadi mudah untuk dibakar. \u201c6 juta hektar lahan di Kalimantan dan Sumatra terbakar sehingga berdampak terhadap iklim yang dapat kita rasakan sampai saat ini\u201d lengkapnya menutup kegiatan pada hari itu. Penulis : Raisa Alatas\/Humas Untad &nbsp;\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/untad.ac.id\/en\/2017\/02\/kuliah-umum-prodi-antropologi-angkat-tema-tentang-kebakaran-hutan\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Universitas Tadulako\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-02-28T04:57:42+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Arba Arief\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Arba Arief\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/untad.ac.id\/2017\/02\/kuliah-umum-prodi-antropologi-angkat-tema-tentang-kebakaran-hutan\/\",\"url\":\"https:\/\/untad.ac.id\/2017\/02\/kuliah-umum-prodi-antropologi-angkat-tema-tentang-kebakaran-hutan\/\",\"name\":\"Kuliah Umum Prodi Antropologi Angkat Tema Tentang Efek Kebakaran Hutan Gambut - Universitas Tadulako\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/untad.ac.id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/untad.ac.id\/2017\/02\/kuliah-umum-prodi-antropologi-angkat-tema-tentang-kebakaran-hutan\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/untad.ac.id\/2017\/02\/kuliah-umum-prodi-antropologi-angkat-tema-tentang-kebakaran-hutan\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"\",\"datePublished\":\"2017-02-28T04:57:42+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/untad.ac.id\/#\/schema\/person\/0d00de952266acf82d8b252e175af938\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/untad.ac.id\/2017\/02\/kuliah-umum-prodi-antropologi-angkat-tema-tentang-kebakaran-hutan\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/untad.ac.id\/2017\/02\/kuliah-umum-prodi-antropologi-angkat-tema-tentang-kebakaran-hutan\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/untad.ac.id\/2017\/02\/kuliah-umum-prodi-antropologi-angkat-tema-tentang-kebakaran-hutan\/#primaryimage\",\"url\":\"\",\"contentUrl\":\"\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/untad.ac.id\/2017\/02\/kuliah-umum-prodi-antropologi-angkat-tema-tentang-kebakaran-hutan\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/untad.ac.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Kuliah Umum Prodi Antropologi Angkat Tema Tentang Efek Kebakaran Hutan Gambut\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/untad.ac.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/untad.ac.id\/\",\"name\":\"Universitas Tadulako\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/untad.ac.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/untad.ac.id\/#\/schema\/person\/0d00de952266acf82d8b252e175af938\",\"name\":\"Arba Arief\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/untad.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9042f670eccc98e6a04be7a8fa7288fd617cd8f8adeadccb465b6d150b396f47?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9042f670eccc98e6a04be7a8fa7288fd617cd8f8adeadccb465b6d150b396f47?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Arba Arief\"},\"url\":\"https:\/\/untad.ac.id\/en\/author\/arief1\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Kuliah Umum Prodi Antropologi Angkat Tema Tentang Efek Kebakaran Hutan Gambut - Universitas Tadulako","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/2017\/02\/kuliah-umum-prodi-antropologi-angkat-tema-tentang-kebakaran-hutan\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Kuliah Umum Prodi Antropologi Angkat Tema Tentang Efek Kebakaran Hutan Gambut - Universitas Tadulako","og_description":"Senin (27\/02), Fakultas ilmu sosial dan Ilmu Politik, program studi ilmu Antropologi kembali mengadakan Public lecture dengan mengusung tema \u201con wildfires in tropical \u00a0moist forest\u201d. Kegiatan yang digelar di media center, IT building tersebut menghadirkan Andrew P. Vayda, distinguished professor emeritus of anthropology and ecology. Mewakili Rektor Untad, kegiatan ini dibuka oleh wakil rektor bidang kerjasama, Prof . Mery Napitupulu, M.Sc, PhD. Dalam sambutannya Prof. Mery Napitupulu mengungkapkan rasa syukurnya atas terlaksananya kegiatan Public Lecture semacam ini. \u201cKita bersyukur ada fakultas yang mengadakan public lecture seperti ini, dan tema yang diangkat ini merupakan masalah umum. Hari ini saya yakin dan mengharapkan kita mendapatkan ilmu dari bapak Andrew, tentu beliau sangat berpengalaman dalam hal wildfires, karena hal ini merupakan sesuatu yang tidak kita harapkan\u201d Acara ini dihadiri oleh dosen dari FISIP maupun FAHUT, anggota Center for International Forestry Research( CIFOR), mahasiswa antropologi hingga mahasiswa yang berasal dari Jepang yaitu Fumikazu Ubukata dari Okayama University dan Daisuke Naito dari Research Institute for Humanity and Nature [RIHN], Kyoto JAPAN. Sebelum masuk pada kuliah umum Andrew P. Vayda, kegiatan ini diawali oleh penampilan dari kelompok seni komunitas Polelea, dengan judul \u2018nyanyian hulu\u2019 yang dipimpin oleh Akbar Dian, S.Sos. Andrew P. Vayda merupakan staf pengajar dan professor dalam bidang antropologi dan ekologi. Selain itu, Prof. Andrew P. Vayda juga merupakan pengajar di Universitas Indonesia (UI), Universitas Mulawarman dan Institut Pertanian Bogor (IPB).\u00a0 Andrew P. Vayda juga aktif sebagai senior di CIFOR. Dalam kuliah umumnya, Prof. Andrew P. Vayda menekankan melalui moderator, Muh. Nasrum, S.Sos, M.Sc bahwa dalam public lecture tersebut menjelaskan mengenai efek yang ditimbulkan dari kebakaran hutan gambut. Prof Andrew P. Vayda ingin menjelaskan secara lebih dari apa yang telah dituliskan di tema mengenai kebakaran hutan yang sulit dikendalikan hingga sebab-sebab terjadinya kebakaran. Menurut Prof. Andrew, sawit juga merupakan penyebab terjadinya kebakaran di lahan gambut. Sehubungan dengan ilmu antropologi, Prof. Andrew P. Vayda menegaskan bagaimana posisi seorang antropolog lingkungan dapat bermain dalam sebuah penelitian interdisipliner yang menjelaskan siklus perubahan lingkungan tersebut. Seperti dalam papernya yang berjudul Causal\u00a0Explanation\u00a0for\u00a0Environmental\u00a0Anthropologists\u00a0, Andrew P. Vayda menjelaskan \u201cMy ultimate concerns in this chapter will be with roles that environmental\u00a0 anthropologists can play in interdisciplinary research to answer questions about\u00a0 why environmental changes occur or don\u2019t occur and with some particular\u00a0 ways in which those roles can be or should, in my view, be performed\u201d jelasnya. \u201cI will present a brief\u00a0 exposition of methodological arguments that I and others have been developing\u00a0 about how causal questions, such as those about why environmental changes\u00a0 occur or don\u2019t occur, should be answered. With illustrations drawn from wildfire related research in Indonesia and elsewhere, I will then proceed to consider in\u00a0 detail what the arguments imply in regard to how and when anthropologists can\u00a0 effectively join bio-physical scientists in seeking answers to environmental change questions\u201d tambahnya. Inti dari paper tersebut kemudian lebih menekankan pada segi metodologis, antopolog mengefektifkan bergabung dengan ilmuwan bio-fisik dan mengungkap penelitian mengenai wildfires yang terjadi di Indonesia dan menjawab pertanyaan atas perubahan-perubahan lingkungan tersebut. Sehubungan dengan penjelasan Prof. Andrew P. Vayda, Muh. Nasrum, S.Sos, M.Sc selaku moderator\u00a0 menambahkan bahwa di masa sekarang lahan tersebut menjadi mudah untuk dibakar. \u201c6 juta hektar lahan di Kalimantan dan Sumatra terbakar sehingga berdampak terhadap iklim yang dapat kita rasakan sampai saat ini\u201d lengkapnya menutup kegiatan pada hari itu. Penulis : Raisa Alatas\/Humas Untad &nbsp;","og_url":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/2017\/02\/kuliah-umum-prodi-antropologi-angkat-tema-tentang-kebakaran-hutan\/","og_site_name":"Universitas Tadulako","article_published_time":"2017-02-28T04:57:42+00:00","author":"Arba Arief","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Arba Arief","Est. reading time":"3 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/untad.ac.id\/2017\/02\/kuliah-umum-prodi-antropologi-angkat-tema-tentang-kebakaran-hutan\/","url":"https:\/\/untad.ac.id\/2017\/02\/kuliah-umum-prodi-antropologi-angkat-tema-tentang-kebakaran-hutan\/","name":"Kuliah Umum Prodi Antropologi Angkat Tema Tentang Efek Kebakaran Hutan Gambut - Universitas Tadulako","isPartOf":{"@id":"https:\/\/untad.ac.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/untad.ac.id\/2017\/02\/kuliah-umum-prodi-antropologi-angkat-tema-tentang-kebakaran-hutan\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/untad.ac.id\/2017\/02\/kuliah-umum-prodi-antropologi-angkat-tema-tentang-kebakaran-hutan\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"","datePublished":"2017-02-28T04:57:42+00:00","author":{"@id":"https:\/\/untad.ac.id\/#\/schema\/person\/0d00de952266acf82d8b252e175af938"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/untad.ac.id\/2017\/02\/kuliah-umum-prodi-antropologi-angkat-tema-tentang-kebakaran-hutan\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/untad.ac.id\/2017\/02\/kuliah-umum-prodi-antropologi-angkat-tema-tentang-kebakaran-hutan\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/untad.ac.id\/2017\/02\/kuliah-umum-prodi-antropologi-angkat-tema-tentang-kebakaran-hutan\/#primaryimage","url":"","contentUrl":""},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/untad.ac.id\/2017\/02\/kuliah-umum-prodi-antropologi-angkat-tema-tentang-kebakaran-hutan\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/untad.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Kuliah Umum Prodi Antropologi Angkat Tema Tentang Efek Kebakaran Hutan Gambut"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/untad.ac.id\/#website","url":"https:\/\/untad.ac.id\/","name":"Tadulako University","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/untad.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/untad.ac.id\/#\/schema\/person\/0d00de952266acf82d8b252e175af938","name":"Arba Arief","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/untad.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9042f670eccc98e6a04be7a8fa7288fd617cd8f8adeadccb465b6d150b396f47?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9042f670eccc98e6a04be7a8fa7288fd617cd8f8adeadccb465b6d150b396f47?s=96&d=mm&r=g","caption":"Arba Arief"},"url":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/author\/arief1\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5269","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5269"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5269\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5269"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5269"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5269"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}