{"id":4249,"date":"2016-08-26T23:23:08","date_gmt":"2016-08-26T15:23:08","guid":{"rendered":"http:\/\/untad.ac.id\/?p=4249"},"modified":"2016-08-26T23:23:08","modified_gmt":"2016-08-26T15:23:08","slug":"dekan-fkip-mahasiswa-ppl-datang-bukan-untuk-mengganti-peran-guru-dalam-mengajar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/2016\/08\/dekan-fkip-mahasiswa-ppl-datang-bukan-untuk-mengganti-peran-guru-dalam-mengajar\/","title":{"rendered":"Dekan FKIP: Mahasiswa PPL Datang Bukan untuk Mengganti Peran Guru dalam Mengajar"},"content":{"rendered":"<p>\u201cMahasiswa ber-PPL bukan untuk mengganti peran guru dalam mengajar. Jangan sampai ada pelimpahan tugas mengajar kepada mahasiswa PPL. Hal ini karena mahasiswa PPL bukan datang sebagai \u2018malaikat\u2019 penyelamat atau \u2018superman\u2019 yang ditugaskan merevolusi pembelajaran di sekolah\u201d<\/p>\n<p>Demikian ditegaskan oleh Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tadulako (Untad), Dr H Lukman Nadjamuddin MHum terkait perubahan persepsi cara mahasiswa ber-PPL di sekolah. Dekan FKIP menyampaikan bahwa pada Sabtu (20\/8) lalu, telah dilaksanakan penyamaan persepsi antara Pengelola PPL FKIP dengan 100 orang lebih kepala sekolah yang \u00a0sekolahnya akan ditempati oleh mahasiswa PPL. Penyamaan persepsi ini dilaksanakan agar pemahaman tentang tugas mahasiswa PPL di sekolah dapat dipahami secara holistik oleh para kepala sekolah.<\/p>\n<p>\u201cSelama ini berkembang persepsi yang keliru bahwa keberadaan mahasiswa PPL di sekolah itu untuk mengganti peran guru dalam mengajar. Itu terbukti saat ada sekolah yang menolak penempatan mahasiswa PPL dalam jumlah tertentu dengan alasan tidak memiliki rombongan belajar (kelas, red) yang banyak. Saya sampaikan bahwa jumlah mahasiswa PPL, berapa pun itu tidak lagi menjadi masalah, karena tujuan utama mereka datang bukan untuk mengganti peran guru, tetapi belajar tentang manajemen persekolahan,\u201d jelas Dr Lukman.<\/p>\n<p>Kedatangan mahasiswa PPL yang kali ini berjumlah 803 orang, lanjut Dekan FKIP, tidak boleh lagi dipandang untuk mengganti peran guru dalam mengajar. Hal itu penting karena keberadaan mahasiswa PPL tidak akan menyelesaikan permasalahan pendidikan di suatu sekolah.<\/p>\n<p>\u201cUntuk itu, mereka datang agar dapat belajar manajemen persekolahan. Mereka akan melihat dan mengamati semua yang berkaitan dengan manajemen persekolahan, khususnya pembelajaran. Hasil dari PPL itu akan diamati dan diteliti, serta dibandingkan antara teori pembelajaran yang didapatkan saat kuliah dengan kenyataan di sekolah sehingga akan ada inovasi-inovasi pembelajaran yang dilahirkan oleh mahasiswa PPL,\u201d kata dosen Pendidikan Sejarah itu.<\/p>\n<p>Untuk itu, sekolah yang akan ditempati oleh mahasiswa PPL diharapkan dapat membimbing mahasiswa PPL tentang manajemen persekolahan. Diharapkan, mahasiswa PPL dapat terus didampingi, dikawal, dan dicerahkan terkait pembelajaran yang riil di sekolah. Hal ini karena mahasiswa PPL datang dengan \u201csegala keterbatasan\u201d. Jika diilustrasikan, ujar Dr Lukman, ibarat sarjana kedokteran yang masih menjalani masa <em>co-ass<\/em>. Dalam masa itu, mahasiswa kedokteran akan mendampingi dan mengikuti kegiatan dokter senior untuk mendapatkan pengalaman dalam bertindak.<\/p>\n<p>\u201cBegitu juga mahasiswa PPL FKIP. Mahasiswa harus diberikan pemahaman tentang tugas dan fungsi kepala sekolah, cara kerja wali kelas dalam mengatur kelasnya, dan tugas guru mata pelajaran dalam mengatur alur pembelajaran, baik harian, mingguan, bulanan, dan seterusnya. Bahkan, diharapkan mahasiswa PPL dapat dibekali pengalaman untuk melihat pembimbing lomba mempersiapkan tim, baik untuk menghadapi even lokal, regional, nasional, maupun internasional sehingga pengalaman mahasiswa PPL dapat holistik,\u201d kata Dr Lukman.<\/p>\n<p>Berkenaan dengan itu, saat ditanyakan beban jam yang ditanggung mahasiswa PPL, Dr Lukman mengemukakan bahwa jika PPL sebelumnya mahasiswa memiliki beban 18 kali pertemuan di dalam kelas, kali ini tidak lagi seperti itu. Beban jam yang diberikan bukan dihitung dari jam mengajar, tetapi jam beraktivitas di sekolah.<\/p>\n<p>Lebih lanjut, Dr Lukman juga menyinggung pemisahan antara PPL dengan KKN. Pemisahan itu dilakukan karena antara PPL dengan KKN berasal dari dua \u201cibu kandung\u201d yang berbeda. PPL berasal dari kegiatan pendidikan, sementara itu KKN bersumber dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Maka, jika dua kegiatan ini jika disandingkan tidak akan berdampak maksimal terhadap pengalaman mahasiswa. Untuk menyiasati hal itu, jelas Dekan, pihaknya terus berkoordinasi dengan pengelola KKN agar setelah mahasiswa selesai ber-PPL, tidak menunggu waktu lama untuk langsung ber-KKN. (<em>tq<\/em>)<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cMahasiswa ber-PPL bukan untuk mengganti peran guru dalam mengajar. Jangan sampai ada pelimpahan tugas mengajar kepada mahasiswa PPL. Hal ini karena mahasiswa PPL bukan datang sebagai \u2018malaikat\u2019 penyelamat atau \u2018superman\u2019 yang ditugaskan merevolusi pembelajaran di sekolah\u201d Demikian ditegaskan oleh Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tadulako (Untad), Dr H Lukman Nadjamuddin MHum terkait perubahan persepsi cara mahasiswa ber-PPL di sekolah. Dekan FKIP menyampaikan bahwa pada Sabtu (20\/8) lalu, telah dilaksanakan penyamaan persepsi antara Pengelola PPL FKIP dengan 100 orang lebih kepala sekolah yang \u00a0sekolahnya akan ditempati oleh mahasiswa PPL. Penyamaan persepsi ini dilaksanakan agar pemahaman tentang tugas mahasiswa PPL di sekolah dapat dipahami secara holistik oleh para kepala sekolah. \u201cSelama ini berkembang persepsi yang keliru bahwa keberadaan mahasiswa PPL di sekolah itu untuk mengganti peran guru dalam mengajar. Itu terbukti saat ada sekolah yang menolak penempatan mahasiswa PPL dalam jumlah tertentu dengan alasan tidak memiliki rombongan belajar (kelas, red) yang banyak. Saya sampaikan bahwa jumlah mahasiswa PPL, berapa pun itu tidak lagi menjadi masalah, karena tujuan utama mereka datang bukan untuk mengganti peran guru, tetapi belajar tentang manajemen persekolahan,\u201d jelas Dr Lukman. Kedatangan mahasiswa PPL yang kali ini berjumlah 803 orang, lanjut Dekan FKIP, tidak boleh lagi dipandang untuk mengganti peran guru dalam mengajar. Hal itu penting karena keberadaan mahasiswa PPL tidak akan menyelesaikan permasalahan pendidikan di suatu sekolah. \u201cUntuk itu, mereka datang agar dapat belajar manajemen persekolahan. Mereka akan melihat dan mengamati semua yang berkaitan dengan manajemen persekolahan, khususnya pembelajaran. Hasil dari PPL itu akan diamati dan diteliti, serta dibandingkan antara teori pembelajaran yang didapatkan saat kuliah dengan kenyataan di sekolah sehingga akan ada inovasi-inovasi pembelajaran yang dilahirkan oleh mahasiswa PPL,\u201d kata dosen Pendidikan Sejarah itu. Untuk itu, sekolah yang akan ditempati oleh mahasiswa PPL diharapkan dapat membimbing mahasiswa PPL tentang manajemen persekolahan. Diharapkan, mahasiswa PPL dapat terus didampingi, dikawal, dan dicerahkan terkait pembelajaran yang riil di sekolah. Hal ini karena mahasiswa PPL datang dengan \u201csegala keterbatasan\u201d. Jika diilustrasikan, ujar Dr Lukman, ibarat sarjana kedokteran yang masih menjalani masa co-ass. Dalam masa itu, mahasiswa kedokteran akan mendampingi dan mengikuti kegiatan dokter senior untuk mendapatkan pengalaman dalam bertindak. \u201cBegitu juga mahasiswa PPL FKIP. Mahasiswa harus diberikan pemahaman tentang tugas dan fungsi kepala sekolah, cara kerja wali kelas dalam mengatur kelasnya, dan tugas guru mata pelajaran dalam mengatur alur pembelajaran, baik harian, mingguan, bulanan, dan seterusnya. Bahkan, diharapkan mahasiswa PPL dapat dibekali pengalaman untuk melihat pembimbing lomba mempersiapkan tim, baik untuk menghadapi even lokal, regional, nasional, maupun internasional sehingga pengalaman mahasiswa PPL dapat holistik,\u201d kata Dr Lukman. Berkenaan dengan itu, saat ditanyakan beban jam yang ditanggung mahasiswa PPL, Dr Lukman mengemukakan bahwa jika PPL sebelumnya mahasiswa memiliki beban 18 kali pertemuan di dalam kelas, kali ini tidak lagi seperti itu. Beban jam yang diberikan bukan dihitung dari jam mengajar, tetapi jam beraktivitas di sekolah. Lebih lanjut, Dr Lukman juga menyinggung pemisahan antara PPL dengan KKN. Pemisahan itu dilakukan karena antara PPL dengan KKN berasal dari dua \u201cibu kandung\u201d yang berbeda. PPL berasal dari kegiatan pendidikan, sementara itu KKN bersumber dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Maka, jika dua kegiatan ini jika disandingkan tidak akan berdampak maksimal terhadap pengalaman mahasiswa. Untuk menyiasati hal itu, jelas Dekan, pihaknya terus berkoordinasi dengan pengelola KKN agar setelah mahasiswa selesai ber-PPL, tidak menunggu waktu lama untuk langsung ber-KKN. (tq)<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":4250,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ocean_post_layout":"","ocean_both_sidebars_style":"","ocean_both_sidebars_content_width":0,"ocean_both_sidebars_sidebars_width":0,"ocean_sidebar":"","ocean_second_sidebar":"","ocean_disable_margins":"enable","ocean_add_body_class":"","ocean_shortcode_before_top_bar":"","ocean_shortcode_after_top_bar":"","ocean_shortcode_before_header":"","ocean_shortcode_after_header":"","ocean_has_shortcode":"","ocean_shortcode_after_title":"","ocean_shortcode_before_footer_widgets":"","ocean_shortcode_after_footer_widgets":"","ocean_shortcode_before_footer_bottom":"","ocean_shortcode_after_footer_bottom":"","ocean_display_top_bar":"default","ocean_display_header":"default","ocean_header_style":"","ocean_center_header_left_menu":"","ocean_custom_header_template":"","ocean_custom_logo":0,"ocean_custom_retina_logo":0,"ocean_custom_logo_max_width":0,"ocean_custom_logo_tablet_max_width":0,"ocean_custom_logo_mobile_max_width":0,"ocean_custom_logo_max_height":0,"ocean_custom_logo_tablet_max_height":0,"ocean_custom_logo_mobile_max_height":0,"ocean_header_custom_menu":"","ocean_menu_typo_font_family":"","ocean_menu_typo_font_subset":"","ocean_menu_typo_font_size":0,"ocean_menu_typo_font_size_tablet":0,"ocean_menu_typo_font_size_mobile":0,"ocean_menu_typo_font_size_unit":"px","ocean_menu_typo_font_weight":"","ocean_menu_typo_font_weight_tablet":"","ocean_menu_typo_font_weight_mobile":"","ocean_menu_typo_transform":"","ocean_menu_typo_transform_tablet":"","ocean_menu_typo_transform_mobile":"","ocean_menu_typo_line_height":0,"ocean_menu_typo_line_height_tablet":0,"ocean_menu_typo_line_height_mobile":0,"ocean_menu_typo_line_height_unit":"","ocean_menu_typo_spacing":0,"ocean_menu_typo_spacing_tablet":0,"ocean_menu_typo_spacing_mobile":0,"ocean_menu_typo_spacing_unit":"","ocean_menu_link_color":"","ocean_menu_link_color_hover":"","ocean_menu_link_color_active":"","ocean_menu_link_background":"","ocean_menu_link_hover_background":"","ocean_menu_link_active_background":"","ocean_menu_social_links_bg":"","ocean_menu_social_hover_links_bg":"","ocean_menu_social_links_color":"","ocean_menu_social_hover_links_color":"","ocean_disable_title":"default","ocean_disable_heading":"default","ocean_post_title":"","ocean_post_subheading":"","ocean_post_title_style":"","ocean_post_title_background_color":"","ocean_post_title_background":0,"ocean_post_title_bg_image_position":"","ocean_post_title_bg_image_attachment":"","ocean_post_title_bg_image_repeat":"","ocean_post_title_bg_image_size":"","ocean_post_title_height":0,"ocean_post_title_bg_overlay":0.5,"ocean_post_title_bg_overlay_color":"","ocean_disable_breadcrumbs":"default","ocean_breadcrumbs_color":"","ocean_breadcrumbs_separator_color":"","ocean_breadcrumbs_links_color":"","ocean_breadcrumbs_links_hover_color":"","ocean_display_footer_widgets":"default","ocean_display_footer_bottom":"default","ocean_custom_footer_template":"","ocean_post_oembed":"","ocean_post_self_hosted_media":"","ocean_post_video_embed":"","ocean_link_format":"","ocean_link_format_target":"self","ocean_quote_format":"","ocean_quote_format_link":"post","ocean_gallery_link_images":"on","ocean_gallery_id":[],"footnotes":""},"categories":[2,3],"tags":[103,215,288,292,148,26],"class_list":["post-4249","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-untad","category-breaking","tag-fkip-untad","tag-kemendikbud","tag-kemenristekdikti","tag-ppl-fkip-untad","tag-universitas-tadulako","tag-untad","entry","has-media"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.0 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Dekan FKIP: Mahasiswa PPL Datang Bukan untuk Mengganti Peran Guru dalam Mengajar - Universitas Tadulako<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"http:\/\/untad.ac.id\/en\/2016\/08\/dekan-fkip-mahasiswa-ppl-datang-bukan-untuk-mengganti-peran-guru-dalam-mengajar\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Dekan FKIP: Mahasiswa PPL Datang Bukan untuk Mengganti Peran Guru dalam Mengajar - Universitas Tadulako\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"\u201cMahasiswa ber-PPL bukan untuk mengganti peran guru dalam mengajar. Jangan sampai ada pelimpahan tugas mengajar kepada mahasiswa PPL. Hal ini karena mahasiswa PPL bukan datang sebagai \u2018malaikat\u2019 penyelamat atau \u2018superman\u2019 yang ditugaskan merevolusi pembelajaran di sekolah\u201d Demikian ditegaskan oleh Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tadulako (Untad), Dr H Lukman Nadjamuddin MHum terkait perubahan persepsi cara mahasiswa ber-PPL di sekolah. Dekan FKIP menyampaikan bahwa pada Sabtu (20\/8) lalu, telah dilaksanakan penyamaan persepsi antara Pengelola PPL FKIP dengan 100 orang lebih kepala sekolah yang \u00a0sekolahnya akan ditempati oleh mahasiswa PPL. Penyamaan persepsi ini dilaksanakan agar pemahaman tentang tugas mahasiswa PPL di sekolah dapat dipahami secara holistik oleh para kepala sekolah. \u201cSelama ini berkembang persepsi yang keliru bahwa keberadaan mahasiswa PPL di sekolah itu untuk mengganti peran guru dalam mengajar. Itu terbukti saat ada sekolah yang menolak penempatan mahasiswa PPL dalam jumlah tertentu dengan alasan tidak memiliki rombongan belajar (kelas, red) yang banyak. Saya sampaikan bahwa jumlah mahasiswa PPL, berapa pun itu tidak lagi menjadi masalah, karena tujuan utama mereka datang bukan untuk mengganti peran guru, tetapi belajar tentang manajemen persekolahan,\u201d jelas Dr Lukman. Kedatangan mahasiswa PPL yang kali ini berjumlah 803 orang, lanjut Dekan FKIP, tidak boleh lagi dipandang untuk mengganti peran guru dalam mengajar. Hal itu penting karena keberadaan mahasiswa PPL tidak akan menyelesaikan permasalahan pendidikan di suatu sekolah. \u201cUntuk itu, mereka datang agar dapat belajar manajemen persekolahan. Mereka akan melihat dan mengamati semua yang berkaitan dengan manajemen persekolahan, khususnya pembelajaran. Hasil dari PPL itu akan diamati dan diteliti, serta dibandingkan antara teori pembelajaran yang didapatkan saat kuliah dengan kenyataan di sekolah sehingga akan ada inovasi-inovasi pembelajaran yang dilahirkan oleh mahasiswa PPL,\u201d kata dosen Pendidikan Sejarah itu. Untuk itu, sekolah yang akan ditempati oleh mahasiswa PPL diharapkan dapat membimbing mahasiswa PPL tentang manajemen persekolahan. Diharapkan, mahasiswa PPL dapat terus didampingi, dikawal, dan dicerahkan terkait pembelajaran yang riil di sekolah. Hal ini karena mahasiswa PPL datang dengan \u201csegala keterbatasan\u201d. Jika diilustrasikan, ujar Dr Lukman, ibarat sarjana kedokteran yang masih menjalani masa co-ass. Dalam masa itu, mahasiswa kedokteran akan mendampingi dan mengikuti kegiatan dokter senior untuk mendapatkan pengalaman dalam bertindak. \u201cBegitu juga mahasiswa PPL FKIP. Mahasiswa harus diberikan pemahaman tentang tugas dan fungsi kepala sekolah, cara kerja wali kelas dalam mengatur kelasnya, dan tugas guru mata pelajaran dalam mengatur alur pembelajaran, baik harian, mingguan, bulanan, dan seterusnya. Bahkan, diharapkan mahasiswa PPL dapat dibekali pengalaman untuk melihat pembimbing lomba mempersiapkan tim, baik untuk menghadapi even lokal, regional, nasional, maupun internasional sehingga pengalaman mahasiswa PPL dapat holistik,\u201d kata Dr Lukman. Berkenaan dengan itu, saat ditanyakan beban jam yang ditanggung mahasiswa PPL, Dr Lukman mengemukakan bahwa jika PPL sebelumnya mahasiswa memiliki beban 18 kali pertemuan di dalam kelas, kali ini tidak lagi seperti itu. Beban jam yang diberikan bukan dihitung dari jam mengajar, tetapi jam beraktivitas di sekolah. Lebih lanjut, Dr Lukman juga menyinggung pemisahan antara PPL dengan KKN. Pemisahan itu dilakukan karena antara PPL dengan KKN berasal dari dua \u201cibu kandung\u201d yang berbeda. PPL berasal dari kegiatan pendidikan, sementara itu KKN bersumber dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Maka, jika dua kegiatan ini jika disandingkan tidak akan berdampak maksimal terhadap pengalaman mahasiswa. Untuk menyiasati hal itu, jelas Dekan, pihaknya terus berkoordinasi dengan pengelola KKN agar setelah mahasiswa selesai ber-PPL, tidak menunggu waktu lama untuk langsung ber-KKN. (tq)\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"http:\/\/untad.ac.id\/en\/2016\/08\/dekan-fkip-mahasiswa-ppl-datang-bukan-untuk-mengganti-peran-guru-dalam-mengajar\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Universitas Tadulako\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2016-08-26T15:23:08+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"nadira-tik\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"nadira-tik\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"http:\/\/untad.ac.id\/en\/2016\/08\/dekan-fkip-mahasiswa-ppl-datang-bukan-untuk-mengganti-peran-guru-dalam-mengajar\/\",\"url\":\"http:\/\/untad.ac.id\/en\/2016\/08\/dekan-fkip-mahasiswa-ppl-datang-bukan-untuk-mengganti-peran-guru-dalam-mengajar\/\",\"name\":\"Dekan FKIP: Mahasiswa PPL Datang Bukan untuk Mengganti Peran Guru dalam Mengajar - Universitas Tadulako\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/untad.ac.id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"http:\/\/untad.ac.id\/en\/2016\/08\/dekan-fkip-mahasiswa-ppl-datang-bukan-untuk-mengganti-peran-guru-dalam-mengajar\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"http:\/\/untad.ac.id\/en\/2016\/08\/dekan-fkip-mahasiswa-ppl-datang-bukan-untuk-mengganti-peran-guru-dalam-mengajar\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"\",\"datePublished\":\"2016-08-26T15:23:08+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/untad.ac.id\/#\/schema\/person\/a44c0393d9ee6fe59e81e401fe71d8ea\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"http:\/\/untad.ac.id\/en\/2016\/08\/dekan-fkip-mahasiswa-ppl-datang-bukan-untuk-mengganti-peran-guru-dalam-mengajar\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"http:\/\/untad.ac.id\/en\/2016\/08\/dekan-fkip-mahasiswa-ppl-datang-bukan-untuk-mengganti-peran-guru-dalam-mengajar\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"http:\/\/untad.ac.id\/en\/2016\/08\/dekan-fkip-mahasiswa-ppl-datang-bukan-untuk-mengganti-peran-guru-dalam-mengajar\/#primaryimage\",\"url\":\"\",\"contentUrl\":\"\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"http:\/\/untad.ac.id\/en\/2016\/08\/dekan-fkip-mahasiswa-ppl-datang-bukan-untuk-mengganti-peran-guru-dalam-mengajar\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/untad.ac.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Dekan FKIP: Mahasiswa PPL Datang Bukan untuk Mengganti Peran Guru dalam Mengajar\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/untad.ac.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/untad.ac.id\/\",\"name\":\"Universitas Tadulako\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/untad.ac.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/untad.ac.id\/#\/schema\/person\/a44c0393d9ee6fe59e81e401fe71d8ea\",\"name\":\"nadira-tik\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/untad.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9e0f36927f2c075a040f3c7ae1a1816265d8cf97e7f739bcfd748b823f91d39a?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9e0f36927f2c075a040f3c7ae1a1816265d8cf97e7f739bcfd748b823f91d39a?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"nadira-tik\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/baru.untad.ac.id\"],\"url\":\"https:\/\/untad.ac.id\/en\/author\/nadira-tik\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Dekan FKIP: Mahasiswa PPL Datang Bukan untuk Mengganti Peran Guru dalam Mengajar - Universitas Tadulako","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"http:\/\/untad.ac.id\/en\/2016\/08\/dekan-fkip-mahasiswa-ppl-datang-bukan-untuk-mengganti-peran-guru-dalam-mengajar\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Dekan FKIP: Mahasiswa PPL Datang Bukan untuk Mengganti Peran Guru dalam Mengajar - Universitas Tadulako","og_description":"\u201cMahasiswa ber-PPL bukan untuk mengganti peran guru dalam mengajar. Jangan sampai ada pelimpahan tugas mengajar kepada mahasiswa PPL. Hal ini karena mahasiswa PPL bukan datang sebagai \u2018malaikat\u2019 penyelamat atau \u2018superman\u2019 yang ditugaskan merevolusi pembelajaran di sekolah\u201d Demikian ditegaskan oleh Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tadulako (Untad), Dr H Lukman Nadjamuddin MHum terkait perubahan persepsi cara mahasiswa ber-PPL di sekolah. Dekan FKIP menyampaikan bahwa pada Sabtu (20\/8) lalu, telah dilaksanakan penyamaan persepsi antara Pengelola PPL FKIP dengan 100 orang lebih kepala sekolah yang \u00a0sekolahnya akan ditempati oleh mahasiswa PPL. Penyamaan persepsi ini dilaksanakan agar pemahaman tentang tugas mahasiswa PPL di sekolah dapat dipahami secara holistik oleh para kepala sekolah. \u201cSelama ini berkembang persepsi yang keliru bahwa keberadaan mahasiswa PPL di sekolah itu untuk mengganti peran guru dalam mengajar. Itu terbukti saat ada sekolah yang menolak penempatan mahasiswa PPL dalam jumlah tertentu dengan alasan tidak memiliki rombongan belajar (kelas, red) yang banyak. Saya sampaikan bahwa jumlah mahasiswa PPL, berapa pun itu tidak lagi menjadi masalah, karena tujuan utama mereka datang bukan untuk mengganti peran guru, tetapi belajar tentang manajemen persekolahan,\u201d jelas Dr Lukman. Kedatangan mahasiswa PPL yang kali ini berjumlah 803 orang, lanjut Dekan FKIP, tidak boleh lagi dipandang untuk mengganti peran guru dalam mengajar. Hal itu penting karena keberadaan mahasiswa PPL tidak akan menyelesaikan permasalahan pendidikan di suatu sekolah. \u201cUntuk itu, mereka datang agar dapat belajar manajemen persekolahan. Mereka akan melihat dan mengamati semua yang berkaitan dengan manajemen persekolahan, khususnya pembelajaran. Hasil dari PPL itu akan diamati dan diteliti, serta dibandingkan antara teori pembelajaran yang didapatkan saat kuliah dengan kenyataan di sekolah sehingga akan ada inovasi-inovasi pembelajaran yang dilahirkan oleh mahasiswa PPL,\u201d kata dosen Pendidikan Sejarah itu. Untuk itu, sekolah yang akan ditempati oleh mahasiswa PPL diharapkan dapat membimbing mahasiswa PPL tentang manajemen persekolahan. Diharapkan, mahasiswa PPL dapat terus didampingi, dikawal, dan dicerahkan terkait pembelajaran yang riil di sekolah. Hal ini karena mahasiswa PPL datang dengan \u201csegala keterbatasan\u201d. Jika diilustrasikan, ujar Dr Lukman, ibarat sarjana kedokteran yang masih menjalani masa co-ass. Dalam masa itu, mahasiswa kedokteran akan mendampingi dan mengikuti kegiatan dokter senior untuk mendapatkan pengalaman dalam bertindak. \u201cBegitu juga mahasiswa PPL FKIP. Mahasiswa harus diberikan pemahaman tentang tugas dan fungsi kepala sekolah, cara kerja wali kelas dalam mengatur kelasnya, dan tugas guru mata pelajaran dalam mengatur alur pembelajaran, baik harian, mingguan, bulanan, dan seterusnya. Bahkan, diharapkan mahasiswa PPL dapat dibekali pengalaman untuk melihat pembimbing lomba mempersiapkan tim, baik untuk menghadapi even lokal, regional, nasional, maupun internasional sehingga pengalaman mahasiswa PPL dapat holistik,\u201d kata Dr Lukman. Berkenaan dengan itu, saat ditanyakan beban jam yang ditanggung mahasiswa PPL, Dr Lukman mengemukakan bahwa jika PPL sebelumnya mahasiswa memiliki beban 18 kali pertemuan di dalam kelas, kali ini tidak lagi seperti itu. Beban jam yang diberikan bukan dihitung dari jam mengajar, tetapi jam beraktivitas di sekolah. Lebih lanjut, Dr Lukman juga menyinggung pemisahan antara PPL dengan KKN. Pemisahan itu dilakukan karena antara PPL dengan KKN berasal dari dua \u201cibu kandung\u201d yang berbeda. PPL berasal dari kegiatan pendidikan, sementara itu KKN bersumber dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Maka, jika dua kegiatan ini jika disandingkan tidak akan berdampak maksimal terhadap pengalaman mahasiswa. Untuk menyiasati hal itu, jelas Dekan, pihaknya terus berkoordinasi dengan pengelola KKN agar setelah mahasiswa selesai ber-PPL, tidak menunggu waktu lama untuk langsung ber-KKN. (tq)","og_url":"http:\/\/untad.ac.id\/en\/2016\/08\/dekan-fkip-mahasiswa-ppl-datang-bukan-untuk-mengganti-peran-guru-dalam-mengajar\/","og_site_name":"Universitas Tadulako","article_published_time":"2016-08-26T15:23:08+00:00","author":"nadira-tik","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"nadira-tik","Est. reading time":"3 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"http:\/\/untad.ac.id\/en\/2016\/08\/dekan-fkip-mahasiswa-ppl-datang-bukan-untuk-mengganti-peran-guru-dalam-mengajar\/","url":"http:\/\/untad.ac.id\/en\/2016\/08\/dekan-fkip-mahasiswa-ppl-datang-bukan-untuk-mengganti-peran-guru-dalam-mengajar\/","name":"Dekan FKIP: Mahasiswa PPL Datang Bukan untuk Mengganti Peran Guru dalam Mengajar - Universitas Tadulako","isPartOf":{"@id":"https:\/\/untad.ac.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"http:\/\/untad.ac.id\/en\/2016\/08\/dekan-fkip-mahasiswa-ppl-datang-bukan-untuk-mengganti-peran-guru-dalam-mengajar\/#primaryimage"},"image":{"@id":"http:\/\/untad.ac.id\/en\/2016\/08\/dekan-fkip-mahasiswa-ppl-datang-bukan-untuk-mengganti-peran-guru-dalam-mengajar\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"","datePublished":"2016-08-26T15:23:08+00:00","author":{"@id":"https:\/\/untad.ac.id\/#\/schema\/person\/a44c0393d9ee6fe59e81e401fe71d8ea"},"breadcrumb":{"@id":"http:\/\/untad.ac.id\/en\/2016\/08\/dekan-fkip-mahasiswa-ppl-datang-bukan-untuk-mengganti-peran-guru-dalam-mengajar\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["http:\/\/untad.ac.id\/en\/2016\/08\/dekan-fkip-mahasiswa-ppl-datang-bukan-untuk-mengganti-peran-guru-dalam-mengajar\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"http:\/\/untad.ac.id\/en\/2016\/08\/dekan-fkip-mahasiswa-ppl-datang-bukan-untuk-mengganti-peran-guru-dalam-mengajar\/#primaryimage","url":"","contentUrl":""},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"http:\/\/untad.ac.id\/en\/2016\/08\/dekan-fkip-mahasiswa-ppl-datang-bukan-untuk-mengganti-peran-guru-dalam-mengajar\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/untad.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Dekan FKIP: Mahasiswa PPL Datang Bukan untuk Mengganti Peran Guru dalam Mengajar"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/untad.ac.id\/#website","url":"https:\/\/untad.ac.id\/","name":"Tadulako University","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/untad.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/untad.ac.id\/#\/schema\/person\/a44c0393d9ee6fe59e81e401fe71d8ea","name":"nadira-tik","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/untad.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9e0f36927f2c075a040f3c7ae1a1816265d8cf97e7f739bcfd748b823f91d39a?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9e0f36927f2c075a040f3c7ae1a1816265d8cf97e7f739bcfd748b823f91d39a?s=96&d=mm&r=g","caption":"nadira-tik"},"sameAs":["https:\/\/baru.untad.ac.id"],"url":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/author\/nadira-tik\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4249","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4249"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4249\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4249"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4249"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4249"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}