{"id":19875,"date":"2023-10-12T10:24:35","date_gmt":"2023-10-12T02:24:35","guid":{"rendered":"https:\/\/untad.ac.id\/?p=19875"},"modified":"2024-01-10T16:00:41","modified_gmt":"2024-01-10T08:00:41","slug":"tim-mahasiswa-asal-fakultas-pertanian-untad-hasilkan-inovasi-terkait-biopestisida","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/2023\/10\/tim-mahasiswa-asal-fakultas-pertanian-untad-hasilkan-inovasi-terkait-biopestisida\/","title":{"rendered":"Tim Mahasiswa Asal Fakultas Pertanian Untad Hasilkan Inovasi terkait Biopestisida"},"content":{"rendered":"<p>Sekelompok Mahasiswa asal Fakultas Pertanian (Faperta) Untad berhasil membuat sebuah inovasi dalam program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Eksaktas (PKM-RE). Terobosan tersebut berupa biopestisida revolusioner yang efektif dalam melawan hama tanaman serta terbukti mampu menghambat pertumbuhan gulma.<\/p>\n\n\n\n<p>Tim asal Program Studi Agroteknologi tersebut terdiri atas Mutmainah (Agroteknologi 2020) sebagai ketua tim, Illah Nabillah (Agroteknologi 2020), Sry Warninda (Agroteknologi 2020), Gifar Hamdi Rosyidin (Agroteknologi 2020), serta Aswadil Fajri (2021).<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam penjelasan Illah Nabilah selaku ketua tim, biopestisida yang mereka produksi berasal dari komposisi limbah puntung rokok yang dikombinasikan dengan ekstrak daun pinus. Pemilihan limbah tersebut didasari dari kekhawatiran akan banyaknya bekas puntung rokok yang mencemari lingkungan kampus. Selain mencemari, bekas puntung rokok juga dapat membuat tanah tidak subur.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\">\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"4032\" height=\"3024\" data-id=\"22374\" src=\"https:\/\/untad.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Tim-Mahasiswa-Asal-Fakultas-Pertanian-Untad-Hasilkan-Inovasi-terkait-Biopestisida-1.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-22374\"\/><\/figure>\n<\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-2 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\">\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img decoding=\"async\" width=\"3024\" height=\"4032\" data-id=\"22375\" src=\"https:\/\/untad.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Tim-Mahasiswa-Asal-Fakultas-Pertanian-Untad-Hasilkan-Inovasi-terkait-Biopestisida-2.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-22375\"\/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img decoding=\"async\" width=\"2585\" height=\"3447\" data-id=\"22376\" src=\"https:\/\/untad.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Tim-Mahasiswa-Asal-Fakultas-Pertanian-Untad-Hasilkan-Inovasi-terkait-Biopestisida-3.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-22376\"\/><\/figure>\n<\/figure>\n\n\n\n<p>Setelah melakukan riset selama berbulan-bulan untuk mengembangkan formula yang tepat dalam menciptakan biopestisida 2-in-1 ini, mereka menemukan bahwa puntung rokok memiliki potensi untuk memberantas hama, khususnya kutu-kutuan pada daun tanaman.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, hasil inovasi ini ternyata memiliki manfaat sebagai penghambat pertumbuhan gulma. Sehingga inisiatif ini kemudian diperkenalkan pada Pekan Kreativitas Mahasiswa yang diadakan oleh Dikti.<\/p>\n\n\n\n<p>Tim ini kemudian menjelaskan bahwa kedua komposisi tersebut dikemas dalam bentuk kapsul untuk memberikan dosis yang tepat dan konsisten kepada tanaman, sehingga mengurangi resiko overdosis atau penggunaan yang tidak efektif.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201c Ditengah maraknya pestisida dengan kandungan kimia yang tinggi, kami berharap inovasi kami hadir sebagai solusi bagi para petani. Harapannya inovasi biopestisida kami dapat mengurangi penggunaan pestisida kimia yang berdampak buruk pada lingkungan dan kesehatan manusia,\u201d jelas Illah Nabillah.<\/p>\n\n\n\n<p>Sampai saat ini, tim terus mencoba untuk melakukan uji produk salah satunya dengan pengaplikasian biopestisida 2-in-1 ini pada tanaman cabai yang terserang hama kutu putih sebanyak dua kali aplikasi. Hasilnya, tanaman cabai bebas dari kontaminasi kutu dan hama tanpa perlu menggunakan pestisida tinggi bahan kimia.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201c Biopestisida kami kemas dalam bentuk kapsul agar para petani tidak sukar dalam menakar dosis. Empat kapsul Biopestisida dapat dicampur dengan satu liter air yang dapat di aplikasikan pada tanaman,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Mereka juga mengharapkan bahwa biopestisida ini dapat mengatasi masalah keberlanjutan dalam pertanian dan memberikan solusi yang lebih ekonomis bagi petani. Selain itu, inovasi ini juga mendukung konsep Pertanian Hortikultura Terpadu (PHT) yang mendorong pengurangan penggunaan pestisida kimia, yang berpotensi merusak lingkungan dan kesehatan manusia serta lebih ramah lingkungan.<\/p>\n\n\n\n<p>Diakhir pemaparannya, seluruh tim berharap agar hasil inovasi mereka ini dapat direkognisi sebagai tugas akhir (skripsi) mereka sebagai mahasiswa dan dapat berkelanjutan. Profil tim selengkapnya dapat dilihat <strong><a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/pkmre_kapsul.ekspor\/\">disini<\/a>.<\/strong> AA<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sekelompok Mahasiswa asal Fakultas Pertanian (Faperta) Untad berhasil membuat sebuah inovasi dalam program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Eksaktas (PKM-RE). Terobosan tersebut berupa biopestisida revolusioner yang efektif dalam melawan hama tanaman serta terbukti mampu menghambat pertumbuhan gulma. Tim asal Program Studi Agroteknologi tersebut terdiri atas Mutmainah (Agroteknologi 2020) sebagai ketua tim, Illah Nabillah (Agroteknologi 2020), Sry Warninda (Agroteknologi 2020), Gifar Hamdi Rosyidin (Agroteknologi 2020), serta Aswadil Fajri (2021). Dalam penjelasan Illah Nabilah selaku ketua tim, biopestisida yang mereka produksi berasal dari komposisi limbah puntung rokok yang dikombinasikan dengan ekstrak daun pinus. Pemilihan limbah tersebut didasari dari kekhawatiran akan banyaknya bekas puntung rokok yang mencemari lingkungan kampus. Selain mencemari, bekas puntung rokok juga dapat membuat tanah tidak subur. Setelah melakukan riset selama berbulan-bulan untuk mengembangkan formula yang tepat dalam menciptakan biopestisida 2-in-1 ini, mereka menemukan bahwa puntung rokok memiliki potensi untuk memberantas hama, khususnya kutu-kutuan pada daun tanaman. Selain itu, hasil inovasi ini ternyata memiliki manfaat sebagai penghambat pertumbuhan gulma. Sehingga inisiatif ini kemudian diperkenalkan pada Pekan Kreativitas Mahasiswa yang diadakan oleh Dikti. Tim ini kemudian menjelaskan bahwa kedua komposisi tersebut dikemas dalam bentuk kapsul untuk memberikan dosis yang tepat dan konsisten kepada tanaman, sehingga mengurangi resiko overdosis atau penggunaan yang tidak efektif. \u201c Ditengah maraknya pestisida dengan kandungan kimia yang tinggi, kami berharap inovasi kami hadir sebagai solusi bagi para petani. Harapannya inovasi biopestisida kami dapat mengurangi penggunaan pestisida kimia yang berdampak buruk pada lingkungan dan kesehatan manusia,\u201d jelas Illah Nabillah. Sampai saat ini, tim terus mencoba untuk melakukan uji produk salah satunya dengan pengaplikasian biopestisida 2-in-1 ini pada tanaman cabai yang terserang hama kutu putih sebanyak dua kali aplikasi. Hasilnya, tanaman cabai bebas dari kontaminasi kutu dan hama tanpa perlu menggunakan pestisida tinggi bahan kimia. \u201c Biopestisida kami kemas dalam bentuk kapsul agar para petani tidak sukar dalam menakar dosis. Empat kapsul Biopestisida dapat dicampur dengan satu liter air yang dapat di aplikasikan pada tanaman,\u201d jelasnya. Mereka juga mengharapkan bahwa biopestisida ini dapat mengatasi masalah keberlanjutan dalam pertanian dan memberikan solusi yang lebih ekonomis bagi petani. Selain itu, inovasi ini juga mendukung konsep Pertanian Hortikultura Terpadu (PHT) yang mendorong pengurangan penggunaan pestisida kimia, yang berpotensi merusak lingkungan dan kesehatan manusia serta lebih ramah lingkungan. Diakhir pemaparannya, seluruh tim berharap agar hasil inovasi mereka ini dapat direkognisi sebagai tugas akhir (skripsi) mereka sebagai mahasiswa dan dapat berkelanjutan. Profil tim selengkapnya dapat dilihat disini. AA<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":22374,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ocean_post_layout":"","ocean_both_sidebars_style":"","ocean_both_sidebars_content_width":0,"ocean_both_sidebars_sidebars_width":0,"ocean_sidebar":"","ocean_second_sidebar":"","ocean_disable_margins":"enable","ocean_add_body_class":"","ocean_shortcode_before_top_bar":"","ocean_shortcode_after_top_bar":"","ocean_shortcode_before_header":"","ocean_shortcode_after_header":"","ocean_has_shortcode":"","ocean_shortcode_after_title":"","ocean_shortcode_before_footer_widgets":"","ocean_shortcode_after_footer_widgets":"","ocean_shortcode_before_footer_bottom":"","ocean_shortcode_after_footer_bottom":"","ocean_display_top_bar":"default","ocean_display_header":"default","ocean_header_style":"","ocean_center_header_left_menu":"","ocean_custom_header_template":"","ocean_custom_logo":0,"ocean_custom_retina_logo":0,"ocean_custom_logo_max_width":0,"ocean_custom_logo_tablet_max_width":0,"ocean_custom_logo_mobile_max_width":0,"ocean_custom_logo_max_height":0,"ocean_custom_logo_tablet_max_height":0,"ocean_custom_logo_mobile_max_height":0,"ocean_header_custom_menu":"","ocean_menu_typo_font_family":"","ocean_menu_typo_font_subset":"","ocean_menu_typo_font_size":0,"ocean_menu_typo_font_size_tablet":0,"ocean_menu_typo_font_size_mobile":0,"ocean_menu_typo_font_size_unit":"px","ocean_menu_typo_font_weight":"","ocean_menu_typo_font_weight_tablet":"","ocean_menu_typo_font_weight_mobile":"","ocean_menu_typo_transform":"","ocean_menu_typo_transform_tablet":"","ocean_menu_typo_transform_mobile":"","ocean_menu_typo_line_height":0,"ocean_menu_typo_line_height_tablet":0,"ocean_menu_typo_line_height_mobile":0,"ocean_menu_typo_line_height_unit":"","ocean_menu_typo_spacing":0,"ocean_menu_typo_spacing_tablet":0,"ocean_menu_typo_spacing_mobile":0,"ocean_menu_typo_spacing_unit":"","ocean_menu_link_color":"","ocean_menu_link_color_hover":"","ocean_menu_link_color_active":"","ocean_menu_link_background":"","ocean_menu_link_hover_background":"","ocean_menu_link_active_background":"","ocean_menu_social_links_bg":"","ocean_menu_social_hover_links_bg":"","ocean_menu_social_links_color":"","ocean_menu_social_hover_links_color":"","ocean_disable_title":"default","ocean_disable_heading":"default","ocean_post_title":"","ocean_post_subheading":"","ocean_post_title_style":"","ocean_post_title_background_color":"","ocean_post_title_background":0,"ocean_post_title_bg_image_position":"","ocean_post_title_bg_image_attachment":"","ocean_post_title_bg_image_repeat":"","ocean_post_title_bg_image_size":"","ocean_post_title_height":0,"ocean_post_title_bg_overlay":0.5,"ocean_post_title_bg_overlay_color":"","ocean_disable_breadcrumbs":"default","ocean_breadcrumbs_color":"","ocean_breadcrumbs_separator_color":"","ocean_breadcrumbs_links_color":"","ocean_breadcrumbs_links_hover_color":"","ocean_display_footer_widgets":"default","ocean_display_footer_bottom":"default","ocean_custom_footer_template":"","ocean_post_oembed":"","ocean_post_self_hosted_media":"","ocean_post_video_embed":"","ocean_link_format":"","ocean_link_format_target":"self","ocean_quote_format":"","ocean_quote_format_link":"post","ocean_gallery_link_images":"on","ocean_gallery_id":[],"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-19875","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-untad","entry","has-media"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.0 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Tim Mahasiswa Asal Fakultas Pertanian Untad Hasilkan Inovasi terkait Biopestisida - Universitas Tadulako<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/untad.ac.id\/en\/2023\/10\/tim-mahasiswa-asal-fakultas-pertanian-untad-hasilkan-inovasi-terkait-biopestisida\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Tim Mahasiswa Asal Fakultas Pertanian Untad Hasilkan Inovasi terkait Biopestisida - Universitas Tadulako\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Sekelompok Mahasiswa asal Fakultas Pertanian (Faperta) Untad berhasil membuat sebuah inovasi dalam program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Eksaktas (PKM-RE). Terobosan tersebut berupa biopestisida revolusioner yang efektif dalam melawan hama tanaman serta terbukti mampu menghambat pertumbuhan gulma. Tim asal Program Studi Agroteknologi tersebut terdiri atas Mutmainah (Agroteknologi 2020) sebagai ketua tim, Illah Nabillah (Agroteknologi 2020), Sry Warninda (Agroteknologi 2020), Gifar Hamdi Rosyidin (Agroteknologi 2020), serta Aswadil Fajri (2021). Dalam penjelasan Illah Nabilah selaku ketua tim, biopestisida yang mereka produksi berasal dari komposisi limbah puntung rokok yang dikombinasikan dengan ekstrak daun pinus. Pemilihan limbah tersebut didasari dari kekhawatiran akan banyaknya bekas puntung rokok yang mencemari lingkungan kampus. Selain mencemari, bekas puntung rokok juga dapat membuat tanah tidak subur. Setelah melakukan riset selama berbulan-bulan untuk mengembangkan formula yang tepat dalam menciptakan biopestisida 2-in-1 ini, mereka menemukan bahwa puntung rokok memiliki potensi untuk memberantas hama, khususnya kutu-kutuan pada daun tanaman. Selain itu, hasil inovasi ini ternyata memiliki manfaat sebagai penghambat pertumbuhan gulma. Sehingga inisiatif ini kemudian diperkenalkan pada Pekan Kreativitas Mahasiswa yang diadakan oleh Dikti. Tim ini kemudian menjelaskan bahwa kedua komposisi tersebut dikemas dalam bentuk kapsul untuk memberikan dosis yang tepat dan konsisten kepada tanaman, sehingga mengurangi resiko overdosis atau penggunaan yang tidak efektif. \u201c Ditengah maraknya pestisida dengan kandungan kimia yang tinggi, kami berharap inovasi kami hadir sebagai solusi bagi para petani. Harapannya inovasi biopestisida kami dapat mengurangi penggunaan pestisida kimia yang berdampak buruk pada lingkungan dan kesehatan manusia,\u201d jelas Illah Nabillah. Sampai saat ini, tim terus mencoba untuk melakukan uji produk salah satunya dengan pengaplikasian biopestisida 2-in-1 ini pada tanaman cabai yang terserang hama kutu putih sebanyak dua kali aplikasi. Hasilnya, tanaman cabai bebas dari kontaminasi kutu dan hama tanpa perlu menggunakan pestisida tinggi bahan kimia. \u201c Biopestisida kami kemas dalam bentuk kapsul agar para petani tidak sukar dalam menakar dosis. Empat kapsul Biopestisida dapat dicampur dengan satu liter air yang dapat di aplikasikan pada tanaman,\u201d jelasnya. Mereka juga mengharapkan bahwa biopestisida ini dapat mengatasi masalah keberlanjutan dalam pertanian dan memberikan solusi yang lebih ekonomis bagi petani. Selain itu, inovasi ini juga mendukung konsep Pertanian Hortikultura Terpadu (PHT) yang mendorong pengurangan penggunaan pestisida kimia, yang berpotensi merusak lingkungan dan kesehatan manusia serta lebih ramah lingkungan. Diakhir pemaparannya, seluruh tim berharap agar hasil inovasi mereka ini dapat direkognisi sebagai tugas akhir (skripsi) mereka sebagai mahasiswa dan dapat berkelanjutan. Profil tim selengkapnya dapat dilihat disini. AA\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/untad.ac.id\/en\/2023\/10\/tim-mahasiswa-asal-fakultas-pertanian-untad-hasilkan-inovasi-terkait-biopestisida\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Universitas Tadulako\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-10-12T02:24:35+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2024-01-10T08:00:41+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/untad.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Tim-Mahasiswa-Asal-Fakultas-Pertanian-Untad-Hasilkan-Inovasi-terkait-Biopestisida-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"4032\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"3024\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"nadira-tik\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"nadira-tik\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/untad.ac.id\/en\/2023\/10\/tim-mahasiswa-asal-fakultas-pertanian-untad-hasilkan-inovasi-terkait-biopestisida\/\",\"url\":\"https:\/\/untad.ac.id\/en\/2023\/10\/tim-mahasiswa-asal-fakultas-pertanian-untad-hasilkan-inovasi-terkait-biopestisida\/\",\"name\":\"Tim Mahasiswa Asal Fakultas Pertanian Untad Hasilkan Inovasi terkait Biopestisida - Universitas Tadulako\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/untad.ac.id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/untad.ac.id\/en\/2023\/10\/tim-mahasiswa-asal-fakultas-pertanian-untad-hasilkan-inovasi-terkait-biopestisida\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/untad.ac.id\/en\/2023\/10\/tim-mahasiswa-asal-fakultas-pertanian-untad-hasilkan-inovasi-terkait-biopestisida\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/untad.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Tim-Mahasiswa-Asal-Fakultas-Pertanian-Untad-Hasilkan-Inovasi-terkait-Biopestisida-1.jpg\",\"datePublished\":\"2023-10-12T02:24:35+00:00\",\"dateModified\":\"2024-01-10T08:00:41+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/untad.ac.id\/#\/schema\/person\/a44c0393d9ee6fe59e81e401fe71d8ea\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/untad.ac.id\/en\/2023\/10\/tim-mahasiswa-asal-fakultas-pertanian-untad-hasilkan-inovasi-terkait-biopestisida\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/untad.ac.id\/en\/2023\/10\/tim-mahasiswa-asal-fakultas-pertanian-untad-hasilkan-inovasi-terkait-biopestisida\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/untad.ac.id\/en\/2023\/10\/tim-mahasiswa-asal-fakultas-pertanian-untad-hasilkan-inovasi-terkait-biopestisida\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/untad.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Tim-Mahasiswa-Asal-Fakultas-Pertanian-Untad-Hasilkan-Inovasi-terkait-Biopestisida-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/untad.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Tim-Mahasiswa-Asal-Fakultas-Pertanian-Untad-Hasilkan-Inovasi-terkait-Biopestisida-1.jpg\",\"width\":4032,\"height\":3024},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/untad.ac.id\/en\/2023\/10\/tim-mahasiswa-asal-fakultas-pertanian-untad-hasilkan-inovasi-terkait-biopestisida\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/untad.ac.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Tim Mahasiswa Asal Fakultas Pertanian Untad Hasilkan Inovasi terkait Biopestisida\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/untad.ac.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/untad.ac.id\/\",\"name\":\"Universitas Tadulako\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/untad.ac.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/untad.ac.id\/#\/schema\/person\/a44c0393d9ee6fe59e81e401fe71d8ea\",\"name\":\"nadira-tik\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/untad.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9e0f36927f2c075a040f3c7ae1a1816265d8cf97e7f739bcfd748b823f91d39a?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9e0f36927f2c075a040f3c7ae1a1816265d8cf97e7f739bcfd748b823f91d39a?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"nadira-tik\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/baru.untad.ac.id\"],\"url\":\"https:\/\/untad.ac.id\/en\/author\/nadira-tik\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Tim Mahasiswa Asal Fakultas Pertanian Untad Hasilkan Inovasi terkait Biopestisida - Universitas Tadulako","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/2023\/10\/tim-mahasiswa-asal-fakultas-pertanian-untad-hasilkan-inovasi-terkait-biopestisida\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Tim Mahasiswa Asal Fakultas Pertanian Untad Hasilkan Inovasi terkait Biopestisida - Universitas Tadulako","og_description":"Sekelompok Mahasiswa asal Fakultas Pertanian (Faperta) Untad berhasil membuat sebuah inovasi dalam program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Eksaktas (PKM-RE). Terobosan tersebut berupa biopestisida revolusioner yang efektif dalam melawan hama tanaman serta terbukti mampu menghambat pertumbuhan gulma. Tim asal Program Studi Agroteknologi tersebut terdiri atas Mutmainah (Agroteknologi 2020) sebagai ketua tim, Illah Nabillah (Agroteknologi 2020), Sry Warninda (Agroteknologi 2020), Gifar Hamdi Rosyidin (Agroteknologi 2020), serta Aswadil Fajri (2021). Dalam penjelasan Illah Nabilah selaku ketua tim, biopestisida yang mereka produksi berasal dari komposisi limbah puntung rokok yang dikombinasikan dengan ekstrak daun pinus. Pemilihan limbah tersebut didasari dari kekhawatiran akan banyaknya bekas puntung rokok yang mencemari lingkungan kampus. Selain mencemari, bekas puntung rokok juga dapat membuat tanah tidak subur. Setelah melakukan riset selama berbulan-bulan untuk mengembangkan formula yang tepat dalam menciptakan biopestisida 2-in-1 ini, mereka menemukan bahwa puntung rokok memiliki potensi untuk memberantas hama, khususnya kutu-kutuan pada daun tanaman. Selain itu, hasil inovasi ini ternyata memiliki manfaat sebagai penghambat pertumbuhan gulma. Sehingga inisiatif ini kemudian diperkenalkan pada Pekan Kreativitas Mahasiswa yang diadakan oleh Dikti. Tim ini kemudian menjelaskan bahwa kedua komposisi tersebut dikemas dalam bentuk kapsul untuk memberikan dosis yang tepat dan konsisten kepada tanaman, sehingga mengurangi resiko overdosis atau penggunaan yang tidak efektif. \u201c Ditengah maraknya pestisida dengan kandungan kimia yang tinggi, kami berharap inovasi kami hadir sebagai solusi bagi para petani. Harapannya inovasi biopestisida kami dapat mengurangi penggunaan pestisida kimia yang berdampak buruk pada lingkungan dan kesehatan manusia,\u201d jelas Illah Nabillah. Sampai saat ini, tim terus mencoba untuk melakukan uji produk salah satunya dengan pengaplikasian biopestisida 2-in-1 ini pada tanaman cabai yang terserang hama kutu putih sebanyak dua kali aplikasi. Hasilnya, tanaman cabai bebas dari kontaminasi kutu dan hama tanpa perlu menggunakan pestisida tinggi bahan kimia. \u201c Biopestisida kami kemas dalam bentuk kapsul agar para petani tidak sukar dalam menakar dosis. Empat kapsul Biopestisida dapat dicampur dengan satu liter air yang dapat di aplikasikan pada tanaman,\u201d jelasnya. Mereka juga mengharapkan bahwa biopestisida ini dapat mengatasi masalah keberlanjutan dalam pertanian dan memberikan solusi yang lebih ekonomis bagi petani. Selain itu, inovasi ini juga mendukung konsep Pertanian Hortikultura Terpadu (PHT) yang mendorong pengurangan penggunaan pestisida kimia, yang berpotensi merusak lingkungan dan kesehatan manusia serta lebih ramah lingkungan. Diakhir pemaparannya, seluruh tim berharap agar hasil inovasi mereka ini dapat direkognisi sebagai tugas akhir (skripsi) mereka sebagai mahasiswa dan dapat berkelanjutan. Profil tim selengkapnya dapat dilihat disini. AA","og_url":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/2023\/10\/tim-mahasiswa-asal-fakultas-pertanian-untad-hasilkan-inovasi-terkait-biopestisida\/","og_site_name":"Universitas Tadulako","article_published_time":"2023-10-12T02:24:35+00:00","article_modified_time":"2024-01-10T08:00:41+00:00","og_image":[{"width":4032,"height":3024,"url":"https:\/\/untad.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Tim-Mahasiswa-Asal-Fakultas-Pertanian-Untad-Hasilkan-Inovasi-terkait-Biopestisida-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"nadira-tik","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"nadira-tik","Est. reading time":"3 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/2023\/10\/tim-mahasiswa-asal-fakultas-pertanian-untad-hasilkan-inovasi-terkait-biopestisida\/","url":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/2023\/10\/tim-mahasiswa-asal-fakultas-pertanian-untad-hasilkan-inovasi-terkait-biopestisida\/","name":"Tim Mahasiswa Asal Fakultas Pertanian Untad Hasilkan Inovasi terkait Biopestisida - Universitas Tadulako","isPartOf":{"@id":"https:\/\/untad.ac.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/2023\/10\/tim-mahasiswa-asal-fakultas-pertanian-untad-hasilkan-inovasi-terkait-biopestisida\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/2023\/10\/tim-mahasiswa-asal-fakultas-pertanian-untad-hasilkan-inovasi-terkait-biopestisida\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/untad.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Tim-Mahasiswa-Asal-Fakultas-Pertanian-Untad-Hasilkan-Inovasi-terkait-Biopestisida-1.jpg","datePublished":"2023-10-12T02:24:35+00:00","dateModified":"2024-01-10T08:00:41+00:00","author":{"@id":"https:\/\/untad.ac.id\/#\/schema\/person\/a44c0393d9ee6fe59e81e401fe71d8ea"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/2023\/10\/tim-mahasiswa-asal-fakultas-pertanian-untad-hasilkan-inovasi-terkait-biopestisida\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/untad.ac.id\/en\/2023\/10\/tim-mahasiswa-asal-fakultas-pertanian-untad-hasilkan-inovasi-terkait-biopestisida\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/2023\/10\/tim-mahasiswa-asal-fakultas-pertanian-untad-hasilkan-inovasi-terkait-biopestisida\/#primaryimage","url":"https:\/\/untad.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Tim-Mahasiswa-Asal-Fakultas-Pertanian-Untad-Hasilkan-Inovasi-terkait-Biopestisida-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/untad.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/Tim-Mahasiswa-Asal-Fakultas-Pertanian-Untad-Hasilkan-Inovasi-terkait-Biopestisida-1.jpg","width":4032,"height":3024},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/2023\/10\/tim-mahasiswa-asal-fakultas-pertanian-untad-hasilkan-inovasi-terkait-biopestisida\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/untad.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Tim Mahasiswa Asal Fakultas Pertanian Untad Hasilkan Inovasi terkait Biopestisida"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/untad.ac.id\/#website","url":"https:\/\/untad.ac.id\/","name":"Tadulako University","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/untad.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/untad.ac.id\/#\/schema\/person\/a44c0393d9ee6fe59e81e401fe71d8ea","name":"nadira-tik","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/untad.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9e0f36927f2c075a040f3c7ae1a1816265d8cf97e7f739bcfd748b823f91d39a?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9e0f36927f2c075a040f3c7ae1a1816265d8cf97e7f739bcfd748b823f91d39a?s=96&d=mm&r=g","caption":"nadira-tik"},"sameAs":["https:\/\/baru.untad.ac.id"],"url":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/author\/nadira-tik\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19875","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=19875"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19875\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/22374"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=19875"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=19875"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/untad.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=19875"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}