Oktober 23, 2020

Dies Natalies ke III, Prodi Gizi FKM Untad Gelar Webinar Terkait Kondisi Pangan di Wilayah Bencana

Dies Natalies ke III, Prodi Gizi FKM Untad Gelar Webinar Terkait Kondisi Pangan di Wilayah Bencana

Merayakan Dies Natalies yang ke 3 tahun, Program Studi Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Untad menggelar Webinar pada Minggu (20/9/2020) pagi via Zoom dan Live Youtube dengan mengangkat tema “ Kondisi Pangan & Fetal Growth (Pertumbuhan Janin) di Wilayah Bencana ” dengan mengundang tiga pemateri diantaranya Ir. H. Abdullah Kawulusan, M.Si selaku Kadis Pangan Sulawesi Tengah, Putu Candriasih SST, M.Kes selaku Ketua Prodi Gizi Poltekkes Kemenkes Palu serta Dr. Drs. I Made Tangkas, M.Kes selaku Dosen Prodi Kimia FKIP Untad & Prodi Gizi FKM Untad.

Dalam sambutannya, Prof. Dr. Nurdin Rahmat, M.Si.,M.Kes selaku Dekan FKM dan Ketua Umum DPD Pergizi Pangan Sulteng menuturkan maksud diangkatnya tema terkait kondisi pangan dan fetal growth dalam webinar Dies Natalies Prodi Gizi yang ketiga.

“ Pada tema kali ini ada kata kunci yaitu kondisi pangan dan pertumbuhan janin di wilayah bencana. Tentu masalah pertumbuhan janin ada pada 1000 hari pertama kehidupan yang merupakan kesempatan untuk memperbaiki asupan gizi seimbang yang tentu berkaitan dengan program pemerintah secara nasional yaitu upaya percepatan penurunan stunting dimana angkanya secara nasional masih cukup tinggi yaitu 30.1 % dan untuk Sulawesi Tengah berada di angka 32.1 % berdasarkan data tahun 2018. Harapannya webinar kali ini dapat memberikan edukasi dalam upaya percepatan penurunan stunting sehingga dengan adanya ketiga pemateri kali ini dapat semakin menambah wawasan kita bersama. Pada kesempatan ini pula saya ucapkan selamat ulang tahun kepada Prodi Gizi Untad, semoga semakin kreatif dan inovatif.” Ujar Prof. Nurdin.

Pada kesempatan yang sama, Ir. H. Abdullah Kawulusan, M.Si selaku Kadis Pangan Sulawesi Tengah memaparkan materinya terkait upaya Dinas Pangan Sulteng menjaga ketahanan pangan selama bencana.

“ Indonesia merupakan negara yang rawan bencana sehingga kebutuhan layanan pangan dan kesehatan akan semakin meningkat. Kerusakan fisik sebagai dampak bencana menjadi hal yang sangat tampak. Dampak yang lebih mendasar terjadi seperti permasalahan kesehatan & gizi pada kelompok masyarakat korban bencana termasuk anak-anak, bayi/balita dan ibu hamil yang apabila tidak diatasi akan berdampak pada kualitas SDM kedepannya.” Jelas. Pak Abdullah.

Beliau turut menjelaskan terkait Ketahanan pangan yang terbagi atas tiga bagian seperti ketahanan pangan, akses pangan dan pemanfaatan pangan. Selain itu beliau turut memaparkan terkait arah kebijakan umum ketahanan pangan, arah kebijakan operasional serta strategi mewujudkan ketahanan pangan secara berkelanjutan. Menutup materinya, beliau mengatakan bahwa pengembangan kawasan rumah pangan lestari/pekarangan pangan lestari menjadi salah satu program ketahanan pangan yang telah dilakukan sebanyak 75 kelompok tani dengan total 2.250 anggota di Sulawesi Tengah.

Dikesempatan yang sama, Putu Candriasih SST, M.Kes selaku Ketua Prodi Gizi Poltekkes Kemenkes Palu memaparkan materinya yang berkaitan dengan Pengembangan Produk Pangan Lokal yang cocok saat Bencana.

“ Pangan lokal adalah makanan yang dikonsumsi oleh masyarakat setempat sesuai dengan potensi dan kearifan lokal setempat. Khusus di kota Palu, daun kelor merupakan pangan lokal yang memiliki nilai gizi luar biasa. Pemberian jus kelor pada ibu menyusui dapat memperlancar ASI dan mencegah stunting pada anak. Selain itu, pemberian salah satu produk dari kelor (biscuit kelor) memberikan pengaruh signifikan dengan kadar HB pada ibu hamil.” Jelas Ibu Putu Candriasih.

Beliau menambahkan terkait  tips pengembangan pangan pada saat bencana diantaranya pangan lokal sebaiknya yang mudah didapatkan, biasa dikonsumsi dan meningkatkan gizi masyarakat serta aman untuk dikonsumsi.

Pada kesempatan lainnya, Dr. Drs. I Made Tangkas, M.Kes selaku Dosen Prodi Kimia FKIP Untad & Prodi Gizi FKM Untad menuturkan materi terkait pertumbuhan janin pada anak di Wilayah bencana.

“ Saat peristiwa bencana berlangsung di suatu daerah, Mie instan kerap kali menjadi makanan yang tidak dapat dipungkiri menjadi makanan yang dikonsumsi karena dinilai praktis, mudah disimpan dan cukup awet. Namun mengkonsumsi mie dalam jangka waktu tertentu tidak baik karena dapat menambah masalah kesehatan baru dan tidak dapat memenuhi capaian gizi seseorang khususnya bagi ibu hamil, anak anak dan bayi. Terkait status gizi, berdasarkan data pemprov sulteng menyebutkan bahwa prevalensi balita pendek dan sangat pendek menurun namun balita kurus dan sangat kurus justru mengalami peningkatan.” Jelas Drs. Made dalam materinya.

Webinar selengkapnya dapat dilihat disini. AA

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: No Right Klik and Copy!!