Oktober 23, 2020

Gandeng Untad, FKPT Gelar Dialog Pencegahan Radikalisme dan Terorisme

Gandeng Untad, FKPT Gelar Dialog Pencegahan Radikalisme dan Terorisme

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melalui Forum Koordinasi Penanggulangan Terorisme (FKPT) Sulawesi Tengah bekerja sama dengan Universitas Tadulako menggelar dialog pelibatan civitas akademika dalam pencegahan terorisme di Sulawesi Tengah pada Selasa (8/9) bertempat di theater room Untad.

 

Bertindak sebagai moderator dalam dialog ini yaitu Dr Hj Andi Intang Dulung MHI. Adapun narasumber yang membawakan materi adalah Prof Dr KH Zainal Abidin M Ag, ketua FKUB Sulawesi Tengah, Dr Moh Irfan Mufti M Si, Kabid Penelitian FKPT Suteng dan Yudi Zulfahri. Kegiatan yang dihadiri oleh civitas akademika Untad ini dibuka langsung oleh rektor Untad, Prof Dr Ir Mahfudz MP.
Dalam sambutannya rektor mengungkapkan bahwa pencegahan radikalisme dan terorisme telah dilakukan oleh Untad dengan mengkader mahasiswa agar terbebas dari paham radikalisme.

“Di Untad telah ada langkah-langkah antisipasi yang kami lakukan untuk mencegah masuknya paham-paham radikal di kampus yaitu dengan membentuk Pusat Pengembangan Deradikalisasi dan Sosio-akademik (Pusbangdepsa). Pusbangdepsa ini bertugas untuk melakulan pengkaderan kepada mahasiswa kami terutama tokoh mahasiswa yang akan menjadi ketua di himpunannya, mereka ini dibekali dg materi deradikalisasi” ungkap Rektor.
Rektor berharap bahwa dengan segala upaya yang dilakukan oleh Untad, seluruh Civitas Akademika Untad akan terbebas dari paham-paham radikalisme. Oleh sebab itu rektor sangat mengapresiasi terlaksananya kegiatan ini.

 

Hadir membawakan pidato kunci dalam kesempatan ini yaitu Brigjen. Pol R Ahmad Nurwahid SE MM, Direktur Pencegahan BNPT. Dalam pemaparannya ia menjelaskan bahwa akar masalah dari terorisme adalah ideologi yang menyimpang dan pemikiran pemikiran menyimpang berpotensi ada dalam diri setiap orang. Oleh sebab itu harus ada langkah pencegahan sebelum pemikiran pemikiran radikal berubah menjadi aksi terorisme.
“Berbicara tentang penanggulangan teroris terbagi dua yaitu upaya pencegahan dan upaya penindakan. Dalam UU no 5 tahun 2018, yang dimaksud dengan tindak pidana terorisme yakni perbuatan yang menggunakan kekerasan dan ancaman kekerasan yang menimbulkan suasana terror dengan motif ideologi politik dan gangguan keamanan, pelaku radikalisme selalu mengatasnamakan agama atas perbuatannya” . Menurut Brigjen Pol R Ahmad Nurwahid bahwa radikalisme dapat selalu terjadi di semua agama, bukan hanya agama islam seperti yang selama ini digaungkan di media.
Lebih lanjut menurut Ahmad Nurwakhid, orang-orang yang radikal selalu mendikotomi antara nilai-nilai pancasila dengan agama. Padahal Pancasila sendiri digali dari nilai-nilai ajaran agama. Untuk itu, pendekatan yang paling tepat dalam penanggulangan radikalisme dan terorisme adalah pendekatan agama itu sendiri.

Pada kesempatan ini juga, BNPT memberikan penghargaan kepada Fakhira Salsabila, siswa kelas 12 SMA Labschool Untad yang meraih juara 4 pada lomba pidato yang digelar BNPT. Fakhira berhasil meraih juara ke 4 setelah berhasil menyisihkan ribuan peserta dari seluruh Indonesia.

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: No Right Klik and Copy!!