Desember 08, 2016

REKTOR GELAR RAPIM SIKAPI PETISI DARI MAJELIS MAHASISWA

Hasilkan Putusan Setelah Pukul 18 Aktivitas Dilanjutkan di Islamic Center dan Kepala UPT Security Lebih Berperan pada Aspek Manajerial

Rapat pimpinan, turut hadir pula Kepala UPT Natalita, Kepala UPT Security, dan Koordinator Komandan Security (Foto Akhmad Usmar)

Rapat pimpinan, turut hadir pula Kepala UPT Natalita, Kepala UPT Security, dan Koordinator Komandan Security (Foto Akhmad Usmar)

Rektor Universitas Tadulako (Untad) menggelar rapat pimpinan (rapim) yang dihadiri oleh Ketua Senat Untad, Ketua Dewan Pertimbangan Untad, dan para wakil rektor. Dalam rapim itu, turut hadir juga Kepala UPT Natalita dan Kepala UPT Security bersama Koordinator Komandan dan Wakil Koordinator, serta para komandan regu Security.

Rapat yang dilaksanakan di Ruang Rektor, Lantai IV Rektorat Untad pada Rabu (30/3) itu digelar untuk meminta pandangan pimpinan Untad terkait dengan Petisi yang disampaikan oleh Majelis Mahasiswa (MM) Untad kepada Rektor. Isi petisi yang ditandatangani oleh 20-an ketua lembaga di Untad itu, di antaranya meminta Rektor Untad untuk memberhentikan Kepala UPT Security dan penghapusan pemberlakuan jam malam.

Merespon hal itu, semua unsur pimpinan Untad menyampaikan pandangannya. Secara umum, unsur pimpinan Untad menyampaikan bahwa sumber utama gesekan antara Security dengan mahasiswa adalah pemberlakuan jam malam. Untuk itu, mulai mulai hari ini, potensi gesekan itu akan dihilangkan. Tindakan yang dilakukan adalah kampus Untad akan dibuka sejak pukul 06.00 sampai 18.00 Wita.

Artinya, setelah pukul 18.00 Wita, tidak ada lagi kegiatan mahasiswa di kampus Untad. Berkenaan dengan itu, untuk merespon alasan dominan mahasiswa selama ini yang ke kampus pada malam hari untuk mengerjakan tugas kuliah, pihak Untad akan menyediakan panggung di Lokasi Islamic Center sebagai tempat bagi mahasiswa yang akan mengerjakan tugas pada malam hari. Di lokasi itu, sedang disiapkan pemasangan Wifi sehingga mahasiswa yang akan mengerjakan tugas dapat melaksanakan pekerjaannya tanpa terkendala akses jaringan internet.

Ide tersebut disampaikan oleh seluruh unsur pimpinan Untad kepada Rektor. Hal itu karena setelah ditelusuri, penyebab kesalahpahaman antara Security dengan mahasiswa selama ini bukan dari pihak mahasiswa. Selama ini, penyebab kesalahpahaman itu disebabkan oleh pihak lain yang ikut-ikutan atau “nebeng” dan tidak bertanggungjawab dengan situasi jika terjadi kesalahpahaman.

Keputusan untuk tidak ada lagi kegiatan setelah pukul 18.00 Wita juga diambil karena pertimbangan atas catatan pihak kepolisian yang disampaikan kepada pimpinan Untad. Catatan pihak kepolisian yang menegaskan bahwa setelah pukul 18.00 Wita, tidak boleh lagi ada kegiatan di kampus untuk meminimalkan potensi gesekan menjadi dasar pertimbangan. Ini dilakukan semata-mata untuk tetap menjaga suasana kondusif kampus Untad, tetapi tetap menyediakan sarana bagi mahasiswa yang akan mencari tugas dengan penyediaan sarana internet di lokasi Islamic Center Untad.

Lebih lanjut, tuntutan pemberhentian Kepala UPT Security, Muhammad Nasir Karim SH MH, yang disampaikan mahasiswa dalam petisi itu mendapatkan tantangan dari Koordinator Komandan Security, Suryadin. Suryadin menyampaikan bahwa selama ini kinerja Kepala UPT Security amat baik, bahkan dilakukan dengan maksimal. Tidak jarang, bahkan sering Kepala UPT Security rela turut berjaga demi keamanan kampus sampai dini hari.

Selain itu, untuk mendukung pernyataannya, pihak Security juga membuka sejumlah barang bukti yang selama ini pernah disita saat penggrebekan di beberapa sekretariat lembaga kemahasiswaan. Barang bukti yang diperlihatkan itu membuat Rektor bersama unsur pimpinan Untad tercengang karena barang bukti yang disita itu merupakan barang yang tidak etis dan tidak layak ada atau dilakukan di dalam Kampus Untad.

Saat ditanya oleh Rektor dan pimpinan Untad tentang barang bukti yang baru diperlihatkan itu, Koordinator Komandan Security menyampaikan bahwa barang bukti hasil penggrebekan itu selama ini tidak disampaikan kepada pimpinan Untad. Hal itu karena selain tidak etis, pihak Security juga ingin menjaga marwah mahasiswa sebagai intelektual muda agar jangan sampai negatif di mata orang-orang karena ulah segelintir oknum yang tidak bertanggungjawab.

Berkenaan dengan itu, ke depan, Muhammad Nasir Karim sebagai Kepala UPT Security akan tetap memegang amanah itu. Namun, Kepala UPT Security tidak lagi menjadi garda terdepan dalam pengamanan kampus, tetapi akan memegang kendali manajemen. Dalam hal ini, garda terdepan pengamanan kampus akan dilakukan langsung oleh Koordinator Komandan Security, Wakil Koordinator, dan para komandan regu secara bergantian. (tq)

Related posts

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *