Launching Buku, Dr Lukman dkk Dokumentasikan Sejarah Donggala

Launching Buku, Dr Lukman dkk Dokumentasikan Sejarah Donggala

“Menulis sejarah bukan perkara mudah. Apalagi, jika tulisan itu memiliki jarak yang amat jauh dari aspek temporal dengan penulis”

Demikian disampaikan oleh Dr H Lukman Nadjamuddin MHum, penulis buku “Satu Kota Empat Zaman: Donggala pada Masa Tradisional hingga Terbentuknya Kabupaten”, dalam konferensi pers launching sekaligus bedah buku tersebut pada Jumat (16/12), di Ruang Rapat Rektorat, Lantai IV Gedung Rektorat Untad.

Dr Lukman Nadjamuddin MHum (Foto Taqyuddin Bakri)

 

Sejarawan Universitas Tadulako (Untad) itu menyampaikan bahwa buku yang baru saja diterbitkan itu telah melalui proses panjang dengan mengumpulkan berbagai dokumen untuk diramu menjadi sebuah buku. Penulisan sejarah Kabupaten Donggala itu, lanjut Dr Lukman, dimaksudkan agar sejarah panjang Donggala dapat terdokumentasikan secara tertulis.

“Leopold van Ronke, Sejarawan Kritis Modern mengemukakan bahwa dokumen tertulis merupakan satu-satunya sumber terpercaya bagi penelitian sejarah. Hal ini melahirkan asumsi no written document no history,” ujar Dr Lukman yang juga merupakan Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Untad ini.

Namun, ujar Dr Lukman, dalam proses pengumpulan dokumen, Ia bersama tim memadukan sumber dari dua aspek yaitu merujuk pada dokumen tertulis dan ingatan informan. Hal ini karena tradisi menyimpan peristiwa secara tertulis belum menjadi kebiasaan setiap orang. Sebagian orang lebih tertarik mengarsipkan melalui ingatan.

“Jadi dua metode itu kami lakukan. Melalui dokumen tertulis maupun ingatan. Dua metode itu kami ramu dan menjadi bagian dari proses penyusunan buku ini,” ujar Dr Lukman.

Lebih lanjut, berkenaan dengan judul, Dr Lukman menyampaikan bahwa judul itu merepresentasikan substansi isi buku. Secara spasial, buku itu bercerita tentang Donggala, meskipun tidak melepaskan kaitan dengan wilayah lainnya.

“Jadi tetap memiliki keterkaitan dengan wilayah lain, tetapi fokus substansi tetap pada Donggala. Hal ini agar dapat diketahui bahwa Donggala pernah mengalami masa kejayaan dalam dinamika pelayaran dan perdagangan sejak abad ke-13 sampai pertengahan abad ke-20,” ungkap Dr Lukman.

Sementara itu, lanjut Dr Lukman, empat zaman merupakan representasi dari isi buku yang bercerita mengenai empat periodisasi, yaitu masa tradisional, Hindia Belanda, Pendudukan Jepang, dan masa kemerdekaan. Dalam kaitan ini, kami memaparkan mengenai Donggala dalam mengarungi empat periodisasi itu.

Lebih lanjut, Dr Lukman juga menyampaikan bahwa penyusunan buku yang ditulis bersama dengan Idrus MPd, Dr Iskandar, Dr Nuraedah, dan Wilman itu mendapatkan dukungan penuh dari Bupati Donggala, Drs Kasman Lassa SH. Dalam kaitan ini, Bupati Donggala merespon langsung secara tulus saat Dr Lukman dan tim menyampaikan gagasan terkait penyusunan buku itu.

Dalam acara itu, Prof Dr H Hanafie Sulaiman MA, menjadi narasumber dalam bedah buku. Selain itu, turut hadir pula sejumlah pejabat dari Kabupaten Donggala, yaitu Kepala Dinas Pendidikan, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, dan Staf Ahli Bupati. Hadir pula sejumlah akademisi dari Universitas Tadulako. (tq)

Related posts

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *