November 18, 2017

FILOSOFI DI BALIK ROTASI TENAGA HONORER UNIVERSITAS TADULAKO

FILOSOFI DI BALIK ROTASI TENAGA HONORER UNIVERSITAS TADULAKO

Amat sederhana alasan di balik rotasi besar-besar 585 tenaga kontrak honorer yang ada di Universitas Tadulako. Terkesan mengejutkan memang karena selama 35 tahun Universitas Tadulako berdiri sebagai PTN, tenaga honorer tidak pernah tersentuh yang namanya rotasi, mutasi unit kerja, dan lain yang bermakna sama. Wajar, bila kebijakan ini “mengguncangkan perasaan” sebagian besar tenaga kontrak dan/atau juga atasan tempat di mana tenaga kontrak itu selama ini melalui hari-harinya dalam pengabdian.

Terdapat 10 fakultas, satu Program Pascasarjana, dua lembaga, tujuh UPT, dan Kantor Rektorat yang menaungi dua Biro. Unit utama dan UPT inilah tempat mengabdi 585 tenaga kontrak honorer di luar Facility Care (Cleaning Service) selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, sebagai akibat makin langkanya penerimaan CPNS atau CASN beberapa tahun terakhir. Keberadaan mereka sangat menentukan layanan administrasi di Universitas Tadulako sehingga harus dipandang bahwa mereka adalah human capital yang perlu mendapat perhatian. Dari segi rezeki, juga sangat diperhatikan namun kondisi keuangan Universitas Tadulako tetap menjadi faktor penentu dari sebuah wujud pengharapan. Terlepas dari sisi itu, dimensi yang tak kalah pentingnya adalah menumbuhkan motivasi dan menciptakan “PELANGI PENGETAHUAN” bagi semua tenaga kontrak agar jangan terpaku pada pengetahuan dan pengalaman hanya dalam SATU BIDANG.

 

APA MAKNA PELANGI PENGETAHUAN?

Bila tempat mereka bekerja berbasis bidang layanan, semisal administrasi akademik, maka alangkah tidak adilnya bila tenaga kontrak tersebut sejak mengenal Universitas Tadulako dalam pengabdiannya di bidang administrasi akademik menjadi warna pengetahuan satu-satunya hingga tenaga kontrak tersebut memasuki purna bakti dan meninggalkan Untad pada saatnya. Demikian pula bagi mereka yang hanya memiliki warna pengetahuan di bidang administrasi keuangan. Sungguh sebuah petaka sosial dari perspektif pengembangan komptensi SDM bila kita membiarkan suasana itu berlangsung secara terus menerus tanpa ada sentuhan instrumen kebijakan. Dengan rotasi tahap awal, minimal mereka akan mendapatkan dua warna pengetahuan setelah menempati unit lain dalam lingkungan Universitas Tadulako. Jika seorang tenaga honorer telah dirotasi ke sejumlah unit, maka dipastikan pengetahuan mereka akan terus bertambah. Mereka akan paham administrasi akademik. Akan paham administrasi keuangan. Akan mengerti tatakelola persuratan. Bahkan akan paham warna warni perilaku atasannya yang berubah-ubah. Dari pendekatan ini, tenaga honorer memang berstatus kontrak tetapi tetap akan kaya dengan pengetahuan dan skill. Inilah hakikat dari “PELANGI PENGETAHUAN” yang diperoleh dari empirik karena perjalanan waktu dan dari beragam tempat mereka mengabdikan diri.

 

TAK TEGA MELIHAT TANGISAN, SEKALIGUS PENASARAN, KOK ADA APA?

Sedih dan menangis adalah hal yang alamiah dan juga manusiawai, siapapun orangnya dan apapun tugas dan posisi tanggung jawabnya.  Kesedihan seorang staf honorer karena dipindah tentu banyak penyebab dan kemungkinan yang melatarinya. Di antaranya (mungkin); karena (i) berpisah dengan teman lama yang seruangan; (ii) kaget karena tidak lumrah dimutasi; (iii) harus meninggalkan pekerjaan yang telah dikuasainya; (iv) membayangkan kerja dan belajar keras lagi menghadapi pekerjaan/tugas baru yang belum familiar dengannya; atau (v) ada sesuatu yang selama ini dinikmati di tempat kerjanya berupa “pendapatan lain” di luar gaji bulanan sebagai tenaga kontrak? Hanya mereka yang tahu dan Allah SWT.

Saat mereka menangis di depan mata dan sedih lewat akun  di Media Sosial, kami pun ikut bersedih. Tetapi di balik kesedihan itu, akhirnya terpaksa melakukan analisis yang mendalam sebagai bentuk penasaran, mengapa ada tenaga honorer yang menganggap mutasi ini terkesan sebagai musibah, cobaan, malapetaka, bahkan dianggap mirip dengan kiamat kecil sudah di depan mata. Kok ada apa?

Telah kami berketetapan hati mendukung langkah-langkah yang dilakukan Kepala Biro Umum dan Keuangan (BUK) bersama seluruh jajaran kepegawaian. Mereka yang secara mental tidak siap dimutasi dan/atau ada atasan yang tidak bersedia stafnya dimutasi, akan kami pertimbangkan ke posisi awal cukup dengan satu alasan:

1. Bagi Tenaga Honorer:

Segera temui saya dan sampaikan bahwa alasan mengapa berat meninggalkan tempat tugasnya yang lama karena di tempat itu, selain mendapatkan gaji bulanan, juga banyak pendapatan lain yang diperoleh, baik tips yang diperoleh dari orang yang dilayani, semisal tips dari mahasiswa yang kliring. Yang mau daftar wisuda. Yang mau seminar proposal.  Dan, yang mau seminar hasil dan ujian akhir. Jika ini alasan yang membuat staf honorer itu sedih dan galau, maka segera temui saya. Di luar dari alasan itu tidak akan dipertimbangkan.

2. Bagi Atasan Honorer

Tidak sedikit atasan dari seorang tenaga honorer, juga sangat sedih dan galau dengan dimutasinya staf yang selama ini berada di unit yang dipimpinnya. Bahkan ada Koordinator Prodi yang langsung mem-packing barang-barangnya hanya karena staf yang selama ini menemani bekerja  terkena rotasi. Mendengar situasi itu, maka kami juga ikut sedih, tetapi sekaligus penasaran. Ada apa ada seorang pimpinan unit atau Koordinator Prodi begitu galau dan hancur perasaannya hanya karena stafnya terkena mutasi??? Kami menunggu pimpinan unit yang galau dan putus asa tanpa keberadaan staf yang dimutasi. Pimpinan unit merasa hidup ini bagai di ujung tanduk. Ibarat sayur tanpa garam. Makan tak enak, tidur pun tak nyenyak. Jika ini alasannya, maka Insya Allah staf yang terkena mutasi akan segera kami kembalikan, sepanjang pimpinan unit itu sendiri langsung menemui kami.

 

HARUS JADI PEMIMPIN YANG TIDAK EGOSEKALIGUS SUKSES MENGKADER STAF

Pimpinan unit mestinya tidak hanya memikirkan dirinya sendiri karena merasa nyaman dan ringan kerjanya atas keberadaan staf honorer. Jika ini pertimbangannya dan menganggap hanya staf itu yang bisa menangani pekerjaan itu, lalu haruskah unit itu bubar jika tiba-tiba staf dimaksud minta berhenti? Tentu tidak, karena seluruh unit dan Universitas Tadulako secara utuh tidak pernah menggantungkan ekstensinya kepada orang per orang. Untad menggantungkan diri pada sistem yang telah terbangun sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Ada pimpinan unit yang karena rasa nyaman atas keberadaan seorang staf, tetapi tidak pernah memikirkan nasib tenaga honorer itu untuk bisa merasakan suasana kampus secara menyeluruh. Staf honorer harus memiliki semangat ketadulakoan yang utuh sehingga jangan dengan alasan keegoan, staf honorer harus berada di unit itu hingga akhir hayatnya. Inilah ciri pemimpin yang hanya memikirkan rasa enak dan nyaman yang dia rasakan. Di samping itu, terlalu apriori penilaian seorang pemimpin unit jika menganggap bahwa penggantinya adalah “tong kosong”, tidak tahu apa-apa. Sehingga unit itu menjadi lumpuh tanpa kehadiran staf yang dimutasi. Pertanyaan susulan pun akan muncul. Atas pemutasian staf, “yang lumpuh unitnya atau pimpinan unitnya?

Pimpinan unit, apapun dan di manapun levelnya, melekat sebagai leader yang bertanggung jawab dalam pengkaderan. Bila staf yang dimutasi memiliki kecerdasan dan skill yang tinggi selama berada di unit tertentu itu, maka biarkan kecerdasan itu diterapkan dan diteteskan di tempat barunya. Inilah bukti sebuah kepemimpinan yang baik. Jika ada staf pengganti yang dinilai tidak cerdas, maka menjadi tugas pimpinan unit untuk mencerdaskannya. Begitulah seterusnya, karena yang demikian merupakan tugas mulia seorang pemimpin. Jangan kungkung seorang staf karena kehebatannya agar pimpinan unitnya tinggal ongkang-ongkang kaki. Cara berpikir demikian sungguh-sungguh tidak “educated”.

 

MUTASI RUTIN PER ENAM BULAN

Agar seluruh tenaga honorer dan pimpinan unit tidak menganggap mutasi ini musibah, bencana, bahkan ada yang galau dan tidak bisa makan berhari-hari, maka pada tanggal 1 Juli 2017, kembali akan dilakukan rotasi. Staf honorer yang tidak siap, dapat menjatuhkan pilihan. Demikian pula pimpinan unit atau koordinator prodi yang merasa sangat “kehilangan” jika stafnya dimutasi, juga dapat menyatakan pilihannya. Semua Unit dalam lingkungan Universitas Tadulako adalah milik bangsa dan Negara, bukan miliki pimpinan unit dan bukan milik pimpinan universitas. Dengan menjadikan mutasi ini sebagai instrument dan hal yang rutin dengan tujuan utama meningkatkan PELANGI PENGETAHUAN staf dan MEMBANGUN SUASANA KETADULAKOAN secara komprehensif di hati staf, maka ke depan diharapkan tidak ada lagi staf honorer dan pimpinan unit yang hatinya galau dan hancur lebur.

Selamat berkarya adik-adik kami di unit barunya. Makilah kami atas kebijakan ini. Tetapi, pada akhirnya nanti kalian akan tahu manfaatnya dalam hal peningkatan kapasitas yang berasaskan PELANGI PENGETAHUAN, Insya Allah. Boleh bersedih, tapi jangan kelamaan. Apalagi harus GALAU berhari-hari…. (Rektor Universitas Tadulako)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: No Right Klik and Copy!!